Pura Paku Alaman, Istana Kecil yang Sering Terlupakan


[/caption]
Ketika saya kecil saya sudah sering mendengar mengenai Daerah Istimewa Yogyakarta. Sempat saya kira Kabupaten Kulon Progo itu bukan masuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, tapi setelah pindah sekolah saya baru mengerti bahwa Kulon Progo ini masuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Disini tidak akan bahas Kulon Progonya, lebih tepatnya akan membahas Kadipaten Pura Pakualaman yang memiliki wilayah di Kulon Progo.
[caption caption="silsilah paku alam"][/caption]
Kadipaten Pura Paku Alaman berdiri tahun17 Maret 1813 ketika Pangeran Notokusumo putra dari Sultan Hamengku Buwono I dengan BRA Srenggorowati dinobatkan oleh Sir Thomas Stamford Raffles sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam I. Jadi dapat disimpulkan bahwa ada campur tangan Inggris pada pendirian Kadipaten Pura Pakualaman. Saat itu pulau Jawa dikuasai Inggris berdasarkan perjanjian Tuntang pada tanggal 18 September 1811. Mengenai kekuasaan Inggris di Indonesia dan Raffles akan saya bahas pada artikel yang lain. Pada tahun 1813-1816 Pura Pakualaman berada di bawah kekuasaan Raffles dengan status negara dependen. Kemudian tahun 1816-1942 Pura Pakualaman berada di bawah kekuasaan kerajaan Belanda dengan status Zelfbestuurende Landschappen Hindia Belanda. Setelah Jepang datang pada tahun 1942 kekuasaan pun berada dibawah tangan kekaisaran Jepang dengan status Kooti dibawah komando Penguasa Militer.
[caption caption="sayap barat"][/caption]
Memasuki Pura Pakualaman bini kita akan disambut oleh abdi dalem yang berjaga di pintu gerbang. Mulanya saya ragu apakah bisa warga biasa seperti saya masuk ke kawasan ini, tapi saya coba untuk bertanya terlebih dahulu apa saja yang harus saya persiapkan jika akan memasuki kawasan Pura Pakualaman. Di luar dugaan ternyata saya hanya perlu mengisi buku tamu dan saya dipersilahkan untuk masuk ke dalam kawasan Pura Pakualaman. Ada beberapa kawasan yang memang tidak boleh masuk dan ada tandanya batas foto sampai disitu saja. Kita juga tidak diperbolehkan naik ke pendopo karena disini merupakan tempat jumeneng Paku Alam dan berbagai acara adat yang sakral. Bangunan di Pura Pakualaman didominasi warna putih tulang atau cenderung menuju kuning gading dengan garis merah.
Bagian sayap barat digunakan untuk kantor dagang, penyimpanan arsip dan beberapa keperluan pemerintahan Pura Pakualaman. Di tengah-tengah ada pendopo luas yang disampingnya terdapat beberapa kereta kencana, salah satunya yang kemarin digunakan untuk Jumeneng Paku Alam X dan ada pula yang merupakan pemberian Raffles. Kereta-kereta kencana ini ditutup menggunakan kain agar tidak terkena debu. Di pendopo kita bisa melihat gamelan, lantai marmer, kursi-kursi dan lampu antik yang sudah ada sejak jaman dulu. Kemudian di samping pendopo kita akan menemukan rumah antik dengan arsitektur yang megah berwarna kuning gading. Rumah ini merupakan kediaman bagi para putri Pura Pakualaman. Bangunan di sayap timur ada beberapa yang tidak digunakan tetapi sebagian digunakan untuk radio milik Pura Pakualaman.
[caption caption="tempat untuk jumeneng dalem"][/caption]
[caption caption="keputren"][/caption]
Ketika saya sudah selesai berkeliling, saya mampir ke museum Pura Pakualaman. Nah disinilah berbagai data saya dapatkan, oh iya untuk masuk ke museum tidak dikenakan berapa besarnya tarif, hanya didekat buku tamu terdapat kotak yang artinya kita dipersilahkan untuk memasukkan uang tidak dibatasi berapapaun nominalnya.
Bapak pemandu museum dengan ramah memandu kami menuju ke dalam museum yang bisa dibilang kecil tetapi memiliki data yang lengkap. Masuk ker ruangan pertama kita akan menemukan foto Paku Alam I hingga Paku Alam VIII, untuk foto Paku Alam IX belum selesai dibuat fotonya saat saya berkunjung kesana. Disini kita juga bisa melihat mengenai silsilah keluarga Paku Alam dan foto-foto masa perjuangan Paku Alam VIII bersama Sri Sultan HB IX mengeluarkan amanat mengenai bergabungnya ke dalam NKRI kepada Ir. Soekarno. Nah jadi kalau ada yang menanyakan Sri Sultan Hamnegku Buwono IX ini berjuang dengan siapa ketika memutuskan untuk menggabungkan diri dengan NKRI jawabannya adalah dengan KGPAA Paku Alam VIII. Masuk ke ruang sebelah terdapat berbagai macam alat masak jaman dulu yang terbuat dari baja dan tembaga. Kita juga bisa melihat berbagai persenjataan yang dipakai pada masanya dan beberapa senjata pemberian dari bangsa Belanda dan Jepang. Di dalam ruangan ini pula terdapat pakaian adat kerajaan ketika jumeneng dan pakaian pasukan Plengkir. Selain tombak dan busur panah, terdapat pula senjata yang merupakan bekas VOC tersimpan rapi disini. Ruangan yang terkahir berisi kereta kencana berwarna biru dan penjelasan mengenai wilayah Kadipaten Pura Pakualaman di Kabupaten Kulon Progo (saat ini).
[caption caption="foto dwi tunggal"][/caption]n
[caption caption="kursi"][/caption]
Pura Pakualaman memiliki wilayah yang jauh lebih sedikit sebagai kerajaan di pulau Jawa. Kawasan kabupaten Kulon Progo yang dahulunya milik Pura Pakualaman hanya bagian selatan meliputi daerah Glagah, Temon, Brosot dan Lendah yang dahulunya merupakan kawasan tandus. Pada masanya kawasan ini disebut Adikarto, oleh karena itu pelabuhan di kawasan Glagah saat ini dinamakan Tanjung Adikarto untuk mengenang kembali bahwa ini kawasan Kabupaten Adikarto pada masa pemerintahan Pura Pakualaman. Seperti Kasultanan Nyayogyakarta Hadiningrat, Pura Pakulaman memiliki pasukan kecil yang dibedakan dengan seragamnya. Ada pasukan Lombok Abang yang menggunakan pakaian berwarna merah dan ada pasukan Plengkir dengan warna pakaian hitam.

Ketika Jumeneng Dalem Paku Alam X pasukan lombok abang dan pasukan plengkir pasti mengawal jalannya acara seperti pada tanggal 7 Januari 2016 kemarin. Jumeneng Dalem ini diawali dengan simbolisasi naik tahta Pangeran Suryodilogo menjadi Paku Alam X menggantikan ayahnya yaitu Paku Alam IX yang meninggal pada 21 November 2015. Untuk saat ini Gubernur DIY dipimpin oleh Sri Sultan HB X dan wakil gubernurnya adalah Paku Alam X. Pura Pakualaman juga mengadakan grebeg setiap tahun walaupun ukurannya biasanya lebih kecil dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Untuk pemakaman, wilayah makam beberda dengan makam para raja Ngayogyakarta Hadinignrat, Paku Alam I sampai dengan Paku Alam IV dimakamkan di kawasan Kota Gede, Yogyakarta, sementara mulai Paku Alam V hingga seterusnya pemakamannya ada di kawasan Girigondo, Temon, Kulon Progo. Sebagai tambahan informasi saja bahwa nama Pura Pakualaman digunakan untuk keratonnya, sedangkan adipatinya bergelar Paku Alam. 
Sebagai warga yang mendapatkan kehidupan di wilayah ini tidak ada salahnya jika kita berkunjung ke Pura Pakualaman untuk mengenang perjuangan raja-raja yang telah berjuang dengan seluruh jiwa dan raganya demi kedaulatan bangsa Indonesia. Jas merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan dan sejarahnya. Sejarah tidak hanya untuk dihapalkan (tanggal, nama dan peristiwanya) tetapi harus diresapi agar kita dapat mencontoh sikap heroik mereka dan kedepannya kita tidak melakukan kesalahan-kesalahan yang pernah dibuat oleh para pelaku sejarah. Saya senang sebagai warga dapat berkunjung ke Pura Pakualaman dan memperoleh informasi mengenai raja-raja yang pernah berjuang untuk kemerdekaan bangsa ini. Saya pasti akan berkunjung lagi ke museum Pura Pakualaman dengan membawa serta teman-teman maupun keluarga saya.

Author

Niken Nawang Sari Niken Nawang Sari From history, we learn. Cause writing is healing.

Post a Comment

Keep in touch

Member of

Blogger Perempuan Kumpulan Emak-emak Blogger
Kompasianer Joga
Kompasianer Joga