Kerja di Rumah Tanpa ART? Bisa kok!


Dulu saat masih single, saya selalu membayangkan bahwa setelah menikah dan punya anak, saya akan tetap bekerja. Bekerja yang kasat mata di sebagian besar masyarakat ya maksud saya, sepertu bekerja di kantor.
Namun semuanya berubah ketika janji suci diucapkan di depan penghulu pada tahun 2016. Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, saya dan suami memiliki kesepakatan bahwa setelah menikah harus mandiri.
Saya sendiri sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah sejak sekolah menengah. Jadi ketika berumah tangga bukan hal baru untuk mengerjakan pekerjaan rumah tanpa ART (asisten rumah tangga). Apalagi saya seorang introvert yang belum tentu menerima kehadiran "orang asing" di dalam rumah.
Di pertengahan tahun 2017, kami memiliki seorang anggota keluarga baru. Ya putri tercinta kami telah lahir ke dunia. Kami juga berkomitmen untuk mengurusnya sendiri, iya sendiri tanpa bantuan orang tua maupun ART. Repot? Iya pasti repot, namanya juga pengalaman pertama mengurus bayi newborn ditambah dengan pekerjaan rumah tangga. Tetapi kerepotan tersebut bisa kami atasi dengan bekerja sama.
Contohnya seperti yang terjadi di hari ketiga setelah melahirkan. Ketika saya mencuci pakaian,  suami akan menimang putri kami tercinta. Sampai saat ini, ketika saya melakukan pekerjaan rumah tangga, suami akan mengajak putri kami bermain.  Saat hari libur, suami juga tidak segan-segan turun tangan membantu pekerjaan rumah tangga yang biasa saya lakukan. Apalagi ketika saya mulai kembali aktif menulis, suami tidak keberatan untuk membagi waktu istirahatnya dengan mengawasi putri kami bermain saat saya menulis.
Nah kan tau repot, kenapa tidak memakai ART ?
Pertanyaan ini kerap muncul ketika tetangga,saudara atau teman yang mengunjungi putri kami tercinta. Jawaban kami tetap sama yaitu karena kami ingin mandiri. Bagi kami berumah tangga adalah bekerja sama mengarungi kehidupan. Jadi tantangan bekerja di rumah tanpa ART berhasil kami selesaikan dengan bekerja sama.

Author

Niken Nawang Sari Niken Nawang Sari From history, we learn. Cause writing is healing.

Post a Comment

Keep in touch

Member of

Blogger Perempuan Kumpulan Emak-emak Blogger
Kompasianer Joga
Kompasianer Joga