Sejarah dan Traveling, I am Back Again!


Foto ini diambil di dekat sebuah kereta uap di Museum Ambarawa. dokpri

Ngobrolin traveling ke tempat bersejarah kalau tidak dituliskan di blog, rasanya ada yang kurang. Maka dari itu aku sebenarnya mencodongkan blogku ke blok timur, eh bukan maksudku tema yang kupilih untuk blogku adalah sejarah dan traveling.

Kenapa sih sejarah?

Sebenarnya aku mulai menyukai sejarah sejak kelas 4 sekolah dasar di Bandung, tetapi malah dibully oleh teman-teman sekelasku dengan umpatan "Niken tuh Belanda! Dasar Belanda ih ga usah ditemenin!"
Umpatan ini membuatku semakin ingin mempelajari sejarah, terutama sejarah kolonial karena mau tidak mau, suka tidak suka, sejarah kolonial itu merupakan sebuah  perjalanan yang sudah ditempuh sebuah negara yang bernama Republik Indonesia. 
Selain itu beruntung sekali aku bertemu dengan guru sejarah bernama bu Jumarsih dan pak Budiman (semoga beliau-beliau ini selalu dalam lindungan Tuhan) saat sekolah menengah. Kedua guru sejarah ini berhasil menyampaikan mata pelajaran sejarah tanpa bikin ngantuk, sehingga apa yang disampaikan bisa tersimpan rapi di dalam memori.  
Ada waktunya aku melupakan mata pelajaran kesukaanku ini ketika sekolah menengah atas dan kuliah, walaupun akhirnya I am back again!

Nah 10 tahun kemudian baru aku berani menulis di blog dengan tema sejarah, hasil dari traveling ke Museum Kereta Api Ambarawa bersama teman-teman Roemah Toea. Beruntung sekali di awal tahun 2016 aku bertemu dengan teman-teman dari komunitas Roemah Toea yang ternyata memiliki tujuan untuk menyampaikan sejarah kolonial dan menghapus kesan seram terhadap peninggalan kolonial. 
Dari sejarah kita bisa mengetahui nenek moyang kita dan sepak terjangnya yang membuat kita bisa berdiri sampai hari ini di tanah merdeka.  
Lawang Sewu saat malam hari. dokpri


Lalu, kenapa sih suka traveling? 

Traveling buatku seperti melakukan refresh otak dan melihat dunia walaupun aku belum pernah traveling keliling dunia hehe. Dengan melakukan traveling, aku banyak menemukan pengalaman dan pelajaran hidup yang tentunya tidak bisa ku dapatkan di dalam pendidikan formal. Jika guru yang terbaik adalah pengalaman, maka traveling akan memberikan pengalaman yang luar biasa. 
Sekitar tahun 2011 untuk pertama kalinya aku melakukan traveling sendirian ke Semarang tanpa mengenal kota Semarang sama sekali. Sesampainya di Semarang, ketika naik angkot aku menanyakan apakah benar ini angkot menuju Kota Lama dan aku diajakin bareng sama pasangan nenek-kakek yang akan menuju pasar Johar dekat dengan Kota Lama. Angkot kemudian berhenti di dekat pasar Johar dan aku memutuskan untuk ikut nenek tersebut ke masuk ke dalam pasar sambil meliha-lihat pasar rancangan Thomas Karsten  tersebut. Soal Kota Lama, duh jangan dibayangin Kota Lama waktu itu sudah tertata seperti sekarang.  Sebelum aku beranjak menuju Kota Lama si nenek memberitahuku untuk berhati-hati di area tersebut karena aku sendirian. Dari pengalaman tersebut aku tau bahwa masih ada orang baik di luar sana seperti si nenek kakek yang mengajakku bareng ke pasar Johar. 
Untuk tema-tema yang lain kadang aku harus bersemedi dulu agar bisa menulis, jangan dibayangin bersemedi seperti dalam film-film laga ya. Aku cuma butuh waktu ekstra untuk sendirian dalam menelurkan sebuah tulisan bertema diluar sejarah dan traveling.

Author

Niken Nawang Sari Niken Nawang Sari From history, we learn. Cause writing is healing.

Post a Comment

Keep in touch

Member of

Blogger Perempuan Kumpulan Emak-emak Blogger
Kompasianer Joga
Kompasianer Joga