5 Kebahagiaan Sederhana Seorang Ibu (Introvert)

Mengunjungi tempat bersejarah seperti museum Sandi merupakan sebuah kebahagiaan sederhana versiku. Dokpri

Sebuah kebahagiaan antara satu orang dengan orang lain pasti berbeda. Apalagi bagi seorang ibu yang introvert sepertiku. Arisan, kumpul keluarga atau acara apapun lah yang menghadirkan banyak orang bukanlah hal yang membahagiakan. Justru malah membuatku sakit kepala.

Aku percaya bahwa bahagia itu diciptakan oleh diri sendiri, sedangkan orang lain atau lingkungan hanyalah faktor pendukung saja. Jadi, kebahagiaan sederhana versiku adalah

1. Bisa memberi makan kucing liar di sekitar rumah.
Aku selalu bahagia melihat kucing liar makan di teras rumahku, karena aku tidak tega melihat mereka mengais sisa makanan di tong sampah. Tetapi karena beberapa hal aku juga tidak bisa mengadopsi mereka, jadi hanya bisa membantu memberi makan saja. Biasanya aku nyetok ikan pindang di kulkas juga cuma buat mereka.

Kalau sedang makan di luar rumah, aku juga tidak malu minta tulang-tulang sisa untuk dibawa pulang demi para kucing liar yang sering numpang makan di teras rumah. Apalagi kalau ada salah satu dari mereka yang numpang tidur di teras, ah rasanya kadar bahagiaku nambah deh.

2. Melihat hal-hal baru yang dilakukan oleh putriku. 
Sebentar lagi putriku akan memasuki usia 2 tahun. Ih lagi gemes-gemesnya ya? Iya dong anak usia segitu kan pasti banyak hal baru yang bisa dilakukan. Akhir-akhir ini putriku sukses membuat aku dan suami tertawa karena tingkahnya ketika bernyanyi. Dengan suara yang masih belum jelas dan dia bernyanyi apa juga kami tidak tahu tapi ekpresinya sangat dalam. Hal ini ditunjukkan dengan gerakan tangan dan mata terpejam saat bernyanyi.

3. Mengunjungi tempat bersejarah. 
Beruntung sekali aku tinggal di DIY dimana banyak terdapat tempat bersejarah. Seolah tidak ada habisnya mengeksplor tempat bersejarah di wilayah DIY. Mulai dari ujung barat sampai timur juga pasti ada aja tempat bersejarahnya.

Tidak jauh dari rumah juga banyak tempat bersejarah. Keluarga kecilku sudah mengunjungi Candi Gampingan yang letaknya tidak ada 3km dari rumah. Rencananya aku juga akan segera mengunjungi sekitar bekas keraton Pleret, karena jarak dari rumah ke Pleret juga tidak ada 5 km.

Mengunjungi tempat-tempat bersejarah bagiku seperti sebuah hembusan nafas dikala suntuk.

4. Mengunjungi Perpustakaan.
Sekali lagi aku beruntung karena tinggal tidak jauh dari Grhatama Pustaka, perpustakaan terbesar milik BPAD DIY. Mengunjungi perpustakaan biasanya aku lakukan bersama suami dan putriku di hari minggu.
 Selain meminjam buku bertema sejarah, kami juga mengajak putri kami mengenal perpustakaan melalui berbagau fasilitas yang disediakan di Grhatama. Biasanya kami mengajak putri tercinta ke ruang bermain anak dan ruang musik.

5. Me Time.
Menjadi seorang ibu itu sebuah lompatan besar, itu yang aku dapatkan dari artikel yang ada di blog milik mbak Hilda. Iya aku setuju sekali, karena awal-awal menjadi seorang ibu aku juga sempat shock. Bagaimana tidak, semua perhatian harus dicurahkan kepada putri kami.

Beruntungnya suami selalu mendampingiku setiap saat jadi aku terhindar dari baby blues setelah melahirkan. Merawat anak juga ada capeknya, tidak semuanya seperti yang terlihat di instagram artis ya. Jadi buatku me time adalah sebuah keharusan, biar apa sih? Ya biar nggak ngerasa jenuh dengan aktivitas momong anak.
Selain itu dengan me time aku bisa memahami diri sendiri, produktif dalam menulis dan introspeksi diri. Tulisan ini juga aku tulis saat me time 😁.

Nah itu tadi 5 kebahagiaan sederhana versiku. Ketika hati bahagia, maka mood jelek pun akan hilang seperti debu yang tertiup angin.
Kalau 5 kebahagiaan sederhanaversi mbak Leni yang juga seorang ibu, kira-kira seperti apa ya?

Author

Niken Nawang Sari Niken Nawang Sari From history, we learn. Cause writing is healing.

1 comment

  1. Membaca paragarf pertama dan poin pertama dari ulasan ini, saya kembali berpikir dan bertanya pada diri, 'apakah benar saya adalah seorang introvert?'; karena bagi saya bahagia ya seperti apa yang ditulis mbak Niken ini, tetapi mungkin dengan versi yang berbeda. Saat pulang kerja dan melihat istri dan anak sehat dan mereka tersenyum menyambut, itulah bahagia, bukan rame-rame seperti konser musik. Saya suka sekali tulisan ini mbak, terutama pernayataan - pernayataan yang ada pada paragraf pertama dan nomor 1 dari ulasan ini. Reflektif buat saya pribadi,

    Thanks mbak, bahagia kita yang ciptakan, salam kenal buat si kecil yang lagi lucu-lucunya tu, salam

    ReplyDelete

Post a Comment

Keep in touch

Member of

Blogger Perempuan Kumpulan Emak-emak Blogger
Kompasianer Joga
Kompasianer Joga