Ada Memori Tersimpan di Jalan Radio-Palasari

Copyright : pexels


Jalan Radio-Palasari yang terletak di belakang Universitas Telkom, memiliki banyak sekali kenangan bagi keluarga kami, terutama bagiku. Bermacam-macam kenangan baik itu yang menyenangkan ataupun menyedihkan ada disini. Terkahir kali menyusuri jalan ini di tahun 2015, sukses membuat anganku kembali ke masa kecil. Padahal jika dilihat sekilas, tidak ada yang spesial dari jalan ini. Apalagi sekarang ditambah dengan banyaknya kos-kosan mahasiswa sehingga membuat jalan ini terasa sempit.

Jadi apa aja sih kenangan masa kecil yang masih tersimpan disini?

1. Sawah yang cukup luas dengan burung bangau di pematang sawah yang menemani pak tani membajak sawah menggunakan kerbau. Ya walaupun kawasan ini merupakan daerah industri, tapi sekitar tahun 1996 masih terdapat sawah yang lumayan luas dan pak tani yang membajak sawahnya menggunakan kerbau. Masih terekam jelas di dalam ingatanku mengenai gambaran sawah, burung bangau dan pak tani.

2. Tempat tinggal pertamaku saat ikut orang tua ada di ujung jalan ini.
Seperti yang sudah aku tuliskan di artikel sebelumnya, aku ikut dengan orang tua kira-kira di usia 5 tahun. Orang tuaku menempati bekas gedung sekolah SMP Telkom yang sudah tidak digunakan lagi. Hanya ada 3 KK yang menempati bekas sekolah tersebut yaitu orang tuaku, pak Uwan dan keluarga penjaga gedung sekolah yang aku sendiri lupa namanya. Aku berteman dekat dengan putri dari pak Uwan bernama Teh Siti.
Bekas sekolah terletak di jalan Radio-Palasari yang paling ujung ini berbatasan langsung dengan jalan Moch.Toha.
Jalan Moch.Toha merupakan jalur arteri yang menghubungkan kota Bandung dengan wilayah Majalaya atau Pangalengan. Jalan Moch. Toha tidak pernah sepi dari lalu lalang kendaraan ringan maupun kendaraan berat.
SD Pasawahan X, tempatku bersekolah hanya tinggal menyebrang jalan Moch.Toha, jadi aku tidak perlu diantar untuk berangkat ke sekolah.

3. Berkenalan dengan teman-teman yang berbeda suku dan agama di sekolah. Sekolah di SD Pasawahan X membuatku berkenalan dengan banyaknya teman yang berbeda suku dan agama. Ada Agus, Andri dan Okta yang merupakan putra dari karyawan pabrik di sekitar jalan Moch.Toha, mereka berasal dari suku Jawa. Sementara itu teman dekatku Silvia asli suku sunda. Tetapi yang paling sering main ke kompleks tempat tinggalku bernama Candra Nasution, dia orang batak. Candra sering ikut kakaknya main ke rumah Teh Siti jadi otomatis kami sering bermain sekolah-sekolahan bersama. Pernah suatu kali Candra datang dengan membawa tangisannya,  entah diapain sama temannya di kelas.
"Ah ternyata anak laki-laki juga bisa menangis," kataku dalam hati saat itu.

4. Aku sering diajak jalan-jalan setiap hari Minggu oleh mas Pur (bukan mas Pur di sinetron TOP ya) ke STT Telkom.
Mas Pur nama lengkapnya kalau tidak salah ingat  Purwadi, saudara satu daerah yang saat itu sedang mencoba mengadu nasib di kawasan industri jalan Moch.Toha. Sebelum mendapatkan pekerjaan, mas Pur sempat tinggal di tempat kami. Pernah suatu kali radio-tapenya di lumuri lem fox olehku dan teh Siti, tetapi mas Pur tidak pernah marah. Justru ibu yang memarahiku dan menyuruhku minta maaf, sejak kejadian aku mengerti kapan aku harus meminta maaf. Setelah kejadian itu mas Pur tetap seperti biasanya, hari minggu selalu mengajakku jogging ke STT Telkom 😁. Sayangnya aku lupa kapan dan kenapa mas Pur pindah dari tempat kami dan tidak tahu kabarnya sampai sekarang 😞. Padahal bagiku mas Pur itu sudah seperti seorang kakak laki-laki.

5. Di ujung jalan ini, ada warung mie kocok langganan bapak. Di sekitar tahun 95-96 jalan Radio-Palasari merupakan satu-satunya jalan menuju STT Telkom. Di dekat rumah ada pohon tanjung besar yang meneduhi badan jalan. Nah dibawah pohon tanjung ini terdapat beberapa warung yang berjejer. Mulai dari warung sayuran milik Bu Ema, warung milik bu Elon, warung bakso dan warung mie kocok yang masih eksis sampai sekarang. Dulu kalau akan membeli mie kocok, ibu membawa rantang yang agak besar karena bapak sangat menyukai mie kocok tersebut. Terakhir aku ke Bandung, ternyata belum berkesempatan mengunjungi warung mie kocok langganan bapak ini.
Kalau mbak Dian kenal mie kocok nggak ya waktu kecil di Tasik? 😁

Author

Niken Nawang Sari Niken Nawang Sari From history, we learn. Cause writing is healing.

Post a Comment

Keep in touch

Member of

Blogger Perempuan Kumpulan Emak-emak Blogger
Kompasianer Joga
Kompasianer Joga