Bandung dan Jogja Dalam Untaian Memori

Inilah kawasan alun-alun Bandung, ya Bandung yang lebih dikenal orang awam daripada Kab. Bandung dan Kab.Bandung Barat. Dok : Pikiran Rakyat

Berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menyesuaikan diri di tempat baru dan mencari teman baru bagiku tidak mudah untuk dilakukan. Tetapi itu sebuah kenyataan yang terjadi di kehidupanku.

Aku lahir di Kulon Progo, tepatnya sebuah desa kecil yang sekarang sudah terkenal dengan wisata alamnya. Kulon Progo masih bagian dari DIY lho 😉
Menjelang usia 4 tahun, orang tuaku membawaku untuk tinggal di kawasan jalan Radio-Palasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat dekat Universitas Telkom yang saat itu masih bernama STT Telkom. Aku masih ingat, setiap hari minggu keluargaku pasti joging ke STT Telkom.

FYI secara administratif yang namanya "Bandung" dibagi jadi 3 wilayah yaitu Kabupaten Bandung Barat beribukota di Cimahi, Kabupaten Bandung beribukota di Soreang dan Kota Bandung itu sendiri. Jadi kalau bilang pernah tinggal di Bandung, nah Bandung yang mana dulu 😁

Perbedaan bahasa menjadi permasalahan terbesarku saat aku pindah tempat tinggal. Seiring berjalannya waktu, aku sudah mulai berbahasa sunda. Tetapi ibu tetap menggunakan bahasa jawa di dalam rumah sehingga aku tidak melupakan bahasa tempat asalku.

Sekitar tahun 1998, keluargaku mulai pindah rumah ke sebuah desa yang letaknya kurang lebih 500 meter dari sungai Citarum. Menyesuaikan diri dengan lingkungan baru adalah satu-satunya jalan untuk tetap bisa bersosialisasi. Ibu pernah menanyakan mengenai pindah sekolah, tetapi aku tidak mau karena aku sudah nyaman dengan teman-teman di SD Pasawahan X walaupun dengan resiko harus menempuh perjalanan lebih lama.

Krisis moneter, bapak diberhentikan dari pekerjaan (walaupun aku tahu ketika sudah dewasa bahwa bapak diberhentikan karena menemukan dokumen pemberhentiannya) dan kemarau panjang sempat kami alamai pada saat tinggal di desa tersebut. Tetapi Tuhan maha baik, sepanjang pinggiran sungai Citarum tumbuh bayam liar yang bisa digunakan warga desa sebagai sayur.

Krisis moneter juga membuat teman-teman SDku pindah sekolah ke Jawa Tengah. Tapi untuk orang yang tinggal di wilayah pulau jawa bagian barat, pasti hanya akan meyebut Jawa. Entah Jawa bagian mana 😂 kalau kamu pernah tinggal pulau jawa bagian barat, pasti ada yang pernah bertanya " mudik ka Jawa si mbak tea?". Jadi seolah-olah bagian barat pulau jawa ini terpisahkan laut dengan Jateng ke timur alias bukan bagian dari pulau Jawa🤣

Pada tahun 2000,awal mula bencana alam tahunan,  yang sampai sekarang masih sering terjadi hingga melumpuhkan jalan provinsi dari kota Bandung menuju daerah Pangalengan dan Majalaya. Ya banjir tahunan, aku sudah lelah mengalaminya. Banjir 3 meter sampai mengungsi selama 1 minggu di dalam tenda sudah pernah aku alami.

Pada tahun 2004, saat usia adikku masih 2 tahun, ibu memutuskan membawa kami kembali pulang ke Kalibiru, Kulon Progo. Akupun akhirnya pindah sekolah. Pertama kali menginjakkan kaki di sekolah baru, aku merasa seperti alien dari planet Pluto.
Tugu Jogja. Dok :@jogjaupdate


Pada saat aku sudah mulai banyak teman di sekolah menengah, ibu membawaku tinggal bersama nenek di Temon, Kulon Progo. Beruntung sekolahku tidak ikut dipindahkan dengan resiko aku harus menempuh waktu hampir 1 jam menuju sekolah dengan menggunakan kendaraan umum.

Di akhir sekolah menengah atas, aku pindah numpang ke rumah pakdhe di Wates, Kulon Progo. Kota Wates yang sejak kecil hanya sebagai tempat turun kereta saat mudik dari Bandung akhirnya bisa aku nikmati di akhir pekan.

Dari hasil berpindah-pindah sekolah, aku kehilangan beberapa teman dekat karena jarak. Masa itu kami belum memiliki ponsel, jadi komunikasipun terputus saat pindah sekolah. Sampai saat ini aku tidak menemukan jejak teman dekatku saat di SD Pasawahan X bernama Silvia. Ditambah SD Pasawahan X sudah dilebur jadi satu dengan SD Pasawahan II.

Masa-masa kuliah aku habiskan untuk tinggal di kota Jogja walaupun sempat beberapa kali pindah kos. Aku tidak pernah memilih kos yang banyak gangnya karena aku sendiri susah untuk hapal jalan 😂. Saat ini aku beruntung karena masih berjodoh untuk tinggal di kota Jogja.

Author

Niken Nawang Sari Niken Nawang Sari From history, we learn. Cause writing is healing.

Post a Comment

Keep in touch

Member of

Blogger Perempuan Kumpulan Emak-emak Blogger
Kompasianer Joga
Kompasianer Joga