Catatan Pelengkap di Penghujung Tahun

Tidak ada komentar

Turis asing di Jogja.
Dok : harian jogja

Udara dingin pagi ini masuk melewati celah-celah ventilasi rumah, menjadi alarm tersendiri untuk mengawali hari terakhir di tahun 2019. Udara dingin juga membuat tubuhku bereaksi, yaitu berupa bersin terus menerus sampai nanti saatnya berhenti, waktu sinar matahari mulai menampakkan diri.

Ketika udara dingin mulai tergantikan oleh kehangatan sinar matahari, saat itulah aku akan memulai aktifitas rutin berupa memindahkan jemuran baju ke depan rumah biar cepat kering. Ya sebagai ibu rumah tangga, berlomba menjemur baju dibawah pancaran sinar sang surya itu adalah prioritas. Soalnya kalau baju nggak kering di musim hujan kayak gini kan bau, apalagi kalau pewangi yang menghilangkan bau apek itu lagi nggak diskon. Bisa-bisa bau apek memenuhi seisi kamar baju. Eh tapi disini aku nggak akan cerita soal jemuran baju sih sebenarnya. πŸ˜…

Jadi begini, beberapa kejadian yang entah itu agak menguras emosi, kesel dan sebagainya sebagai pelengkap akhir tahun 2019 tuh pengen aku tumpahkan melalui tulisan. Iyalah dari pada cerita ke tetangga nanti malah nyebar kemana-mana dengan berbagai versi, atau malah tanggapannya enggak nyambung sama yang aku ceritakan juga bisa jadi, bisa jadi. Oke skip this part!

Membantu Turis Asing


Kejadian pertama yang bikin pikiran jadi lelah dan tidak bisa tidur nyenyak adalah saat berusaha nolongin orang, malah kita yang ikut mikir keribetan-keribetan dan nyari solusinya juga. Itu sukses membuat tidur kami tidak nyenyak, padahal keesokannya kami harus beraktifitas ke kota lain.

Pegunungan Menoreh.
Rumah ibu
 terletak di lereng pegunungan ini.
 Dok : wikipedia

Ceritanya waktu di tempat ibu, selepas magrib pintu rumah diketuk oleh seseorang berkaos biru bersama 2 orang turis asing yang kebingungan mencari homestay. Kebingungan kedua turis asing semakin bertambah saat warga lokal yang ditemui mengaku tidak bisa berbahasa inggris.


Sebenarnya mungkin bukan karena tidak bisa, tapi lebih ke tidak biasa berbahasa inggris terus jadi malu mau bantu turisnya. 

Beruntung sekali Kanjeng Papi (suamiku) punya mental pemberani, ya Kanjeng Papi langsung menyalami kedua turis dan menanyakan apa yang bisa dibantu. Sementara aku yang kadar keberaniannya jauh dibawah level Kanjeng Papi hanya bisa mengkeret di pojokan sambil bingung mau support bantu yang bagaimana. Walaupun aku udah pernah les bahasa inggris dan sedikit mencicipi pelatihan pemandu wisata, kadang kalau dihadapkan sama kejadian kayak gini ya level keberanian untuk ngobrol sama turis asing tuh langsung melorot tajam. Emang dasarnya aku nggak pede sih kalo ketemu orang baru, apalagi turis asingπŸ˜…

Mengantar ke Homestay

Homestay.
Dok : Surga Tersembunyi

Ternyata turis asing tadi mencari homestay yang sudah mereka bayar lunas melalui salah satu aplikasi travel online di internet (sebut saja agen A). Dia menunjukkan foto-foto homestay yang sudah dibooking tersebut dan beruntung sekali ibu tau tempatnya. Kanjeng Papi langsung mengantarkan kedua turis ke homestay tersebut. Aku pikir selesai dong urusannya dan kedua turis asal Republik Belarus itu bisa beristirahat. Soalnya dari raut muka mereka terlihat wajah-wajah yang sudah terlalu lelah mengarungi tempat wisata.

Awal Keribetan yang Bikin Nggak Bisa Tidur Nyenyak


Eh ternyata ini adalah awal dimana keribetan-keribetan lain mengikuti. Pemilik homestay menyatakan bahwa homestaynya hanya bekerjasama dengan agen travel online berlogo burung terbang, bukan dengan agen A yang dipakai kedua turis. Aku dan kanjeng Papi mencoba berusaha menjelaskan kepada kedua turis. Tetapi kedua turis memberikan skrinsut kode booking yang sudah didapat dari agen A dan pembayarannya sudah sukses.


Sempat bingung juga karena saat lihat skrinsut email ada huruf kiril rusia, tapi kode booking terlihat jelas dan body text pada email menggunakan bahasa inggris. Confirmed and Complete berarti kan udah dibayar. 

Kami kembali menjelaskan kepada pemilik homestay yang merasa bingung karena belum bekerjasama dengan agem A. Btw seharusnya pemilik homestay ini menikmati masa pensiunnya dengan duduk santai. 😁 Kendala ini kemudian membuat pemilik homestay menelepon putranya, tetapi jawabannya sama bahwa tidak ada kerjasama dengan agen A.

Terjebak


Kami terjebak antara bagaimana menyampaikan kepada kedua turis dan bagaimana bernegosiasi dengan pemilik.

"Lha mangke terus pripun, mlebet rekening sinten pembayarane?", Tanya sang pemilik saat itu.

" Can I get hot water for make a tea?", pinta turis asing yang merasa sangat lelah.

Pusing kan kalau terjebak kayak gini, tapi di satu sisi kasian kalau tiba-tiba kami tinggalkan begitu saja. Soalnya nanti menyangkut reputasi homestay dan bahkan bisa merambah ke reputasi tempat wisata tersebut.

Pemilik homestay mengaku tidak bisa berbahasa inggris. Sementara putranya (yang memasukkan homestay ke travel berlogo burung terbang) juga stay di kota yang jaraknya kira-kira 20 menit dari homestay. Disitu kami bingung harus diskusi sama siapa lagi, sementara kedua turis sudah kelelahan melihat kami berdiskusi dengan pemilik homestay sejak tadi.

Hal yang paling menguras emosi adalah pihak penanggung jawab wisata tidak bisa dihubungi untuk kondisi seperti ini. Padahal setiap homestay milik warga pasti diketahui oleh pengelola tempat wisata.

Negosiasi Berjalan Lambat


Negosiasi berjalan sangat lambat seperti jarum jam yang berat untuk berpindah. Kanjeng Papi berusaha memberikan pengertian dan solusi kepada putra pemilik homestay. Salah satunya untuk menghubungi customer service agen A supaya semuanya jelas. Karena tanpa ada pihak yang memasukkan foto-foto homestay tersebut ke agen travel A, tidak mungkin tiba-tiba homestay tersebut nongol di agen travel A.

Aku sempat cek google tentang homestay ini dan harga yang pertama muncul memang harga yang ditawarkan oleh Agen A. 


Sementara itu turis tentu tidak mau membayar lagi karena saldo di kartunya sudah terpotong oleh pembayaran homestay melalui agen A.

Saat jarum jam mendekati angka 9, akhirnya putra pemilik homestay memutuskan untuk menerima kedua turis asing terlebih dahulu. Kami sedikit bernapas lega, akhirnya kami meninggalkan kedua turis untuk beristirahat di homestay.

Kalau kami punya rumah disana, tentu kami akan menawarkan untuk menginap turis tersebut. 

Keruwetan Belum Selesai


Namun keruwetan tadi belum selesai, putra pemilik homestay belum paham bagaimana bisa homestaynya ada di agen A padahal dia hanya mendaftarkan ke agen burung terbang. Solusi yang kami berikan sepertinya belum bisa digunakan secara maksimal.

Jadi pertanyaanya siapa yang memasukkan homestay ini ke agen A? Sampai aku pulang ke Jogja, aku tidak tau jawabannya.


Mau Liburan ke Kota Lama Semarang? Tenang #PastiAdaOYO

Tidak ada komentar

Wajah Kota Lama, Semarang.
Dok : Aga Yurista

Pengalaman Mencari Penginapan di Semarang


Saat masih kuliah di tahun 2013, seorang teman mengajak saya untuk menjejakkan kaki di Semarang. Dia diminta oleh kakaknya untuk legalisir ijazah di Universitas Sultan Agung. “Kakak mau daftar CPNS soalnya, jadi harus sekarang juga”, jelasnya saat kami mengobrol di depan kelas.

Dikarenakan membutuhkan waktu seharian untuk urus legalisir, kami akhirnya memutuskan untuk bermalam di Semarang. Tapi untuk mendapatkan penginapan tentu tidak mudah pada tahun 2013. Setelah selesai dengan keperluan di Universitas Sultan Agung, kami berputar-putar mencari penginapan menggunakan taksi.  Setelah berputar-putar sekitar satu jam, akhirnya kami dapat penginapan yang disarankan oleh seorang warga yang kami temui. Untuk mencapai penginapan tersebut lumayan ribet dengan masuk ke dalam gang. Bahkan sampai sekarang saya tidak ingat penginapan tersebut terletak di daerah mana.

Penginapan yang dikategorikan homestay itu memberikan harga yang lumayan mahal. Tetapi bagaimana kami menolaknya karena sudah terlalu lelah untuk berputar-putar mencari penginapan menggunakan taksi. Artinya kalau mencari penginapan lagi sama saja bayar taksi lagi kan?

Kalau tidak salah ingat, tarif penginapan tersebut per malam dibanderol sebesar 300ribuan pada tahun 2013. 

Pengalaman susahnya mencari penginapan dengan harga yang terjangkau dan tempat yang strategis ini akhirnya membuat saya setia menggunakan aplikasi yang menawarkan penginapan. Apalagi untuk mengunjungi kota yang menarik seperti Semarang, wajib banget googling dulu tempat penginapannya.


Kota Semarang


Sebagai penikmat sejarah kolonial, saya suka menjelajahi  jejak-jejak kolonial di negeri ini .Salah satunya mengunjungi sebuah kota pelabuhan yang terletak di pesisir utara pulau Jawa yaitu kota Semarang. Saya sendiri tinggal di Jogja, jadi tidak terlalu jauh untuk menempuh perjalanan menuju kota Semarang.

Sungai yang mengalir di dekat Kota Lama.
Dok : Aga Yurista


Kota Semarang pernah dijuluki Venetie van Java oleh orang-orang Belanda di masa lalu. Hal itu tidak mengherankan karena kota Semarang dilalui oleh banyak sungai. Bahkan dalam sebuah lagu berbahasa jawa menuliskanKota Semarang pada sebuah lirik “semarang kaline banjir”.

Secara administratif kota Semarang menghubungkan kabupaten Semarang, Kendal dan Demak. Kota ini juga memiliki pelabuhan yang sangat sibuk bernama Tanjung Emas.

Untuk menempuh perjalanan dari Jogja menuju Semarang lebih mudah menggunakan bus dengan waktu tempuh kurang lebih 4 jam. Tetapi sekarang bisa juga ditempuh menggunakan kereta api di jam-jam tertentu dengan tarif yang terjangkau. Opsi terakhir tentu menggunakan kendaraan pribadi melewati jalan raya yang sama dengan bus.

Menurut berbagai literatur sejarah, kota Semarang dulunya merupakan wilayah milik Kerajaan Mataram Islam. Tetapi semasa pemerintahan Susuhunan Paku Buwono I, kota ini dilepaskan kepada VOC. Makannya tidak heran jika Semarang kemudian memiliki bangunan peninggalan kolonial yang masih berdiri kokoh dan menarik untuk dikunjungi.


Little Netherland “Kota Lama” Selalu Memanggil Untuk Kembali 


Pertama kali saya mengunjungi Kota Lama Semarang itu di tahun 2010 dan saya kesana sendirian. Di tahun 2010, masih jarang sekali orang mengunjungi Kota Lama.

Bahkan  seorang ibu sepuh yang saya temui di dalam angkot berpesan, “hati-hati mbak kalau ke Kota Lama sendirian soalnya disana banyak preman”.

Tetapi karena Kota Lama sudah terlihat di sebrang sungai, maka saya tidak menurungkan niat untuk berkunjung walaupun hanya sampai di depan gereja Blenduk sambal celingak celinguk takut ada pemerasan.
Saya mengunjungi Kota Lama,
di tahun 2013.
 Dokpri



Tiga tahun kemudian saya juga berkesempatan mengunjungi kota Lama kembali bersama teman yang saya ceritakan diatas tadi. Suasana di kota lama sudah jauh lebih menyenangkan daripada tahun 2010. Beberapa orang juga sudah terlihat mulai mengunjungi kota lama, buktinya untuk berfoto di depan gereja Blenduk saja harus bergantian.

Saya berfoto di depan gedung kolonial,
tahun 2013
Dokpri


Selanjutnya di tahun 2015, saya berusaha untuk menyusuri gang di kota lama yang diapit oleh Gedung-gedung tinggi peninggalan Belanda. Saya menginjakkan kaki di kota Lama menjelang senja, jadi hanya bisa menyusuri sebagian gang saja. Saya menyusuri gang  di sebelah Gedung Marba kemudian berputar melewati gedung-gedung tinggi sampai akhirnya ke Jembatan Berok.

Gereja Blenduk Semarang.
Dok : Aga Yurista


Kehadiran orang-orang yang menikmati kota Lama seperti saya ternyata disambut baik oleh pemerintah kota Semarang.   Hal ini dibuktikan dengan adanya revitalisasi Kota Lama tahap 1 yang dimulai sejak tahun 2017. Kemudian revitalisasi Kota Lama saat ini memasuki tahap kedua.
Nah untuk mengelilingi Kota Lama, pemerintah kota Semarang ternyata sudah meluncurkan sebuah aplikasi yang berfungsi sebagai pemandu.

Walaupun sudah berkali-kali mengunjungi kota Lama, saya merasa belum puas karena belum menyentuh Kota Lama sampai ke sudut-sudutnya. Apalagi saat melihat postingan seorang teman yang berisi beberapa bangunan di kota Lama sudah mulai dibenahi agar terlihat lebih cantik. Seperti gedung Spiegel yang sudah menjadi Bistro, Marba yang sudah dicat ulang, Gedung-gedung di dekat jembatan Berok yang sudah bersolek cantik (padahal terakhir kali berkunjung tuh atapnya hampir roboh) dan masih banyak lagi. Bahkan beberapa bulan yang lalu ada parade festival Kota Lama. Sayangnya waktu belum berpihak kepada saya, kesempatan untuk mengunjungi Kota Lama belum juga terealisasi.


Kenyamanan si Kecil Saat Menginap adalah Prioritas Traveling


Nah dalam melakukan traveling, pasti kita membutuhkan tempat untuk beristirahat. Apalagi seperti saya yang memiliki batita, memilih tempat penginapan itu sangat penting. Tidak mungkin saya menyewa sejenis dormitory seperti waktu masih single.

Dok : OYO Hotels Indonesia


Untuk melakukan traveling, hal pertama kali yang dicari adalah penginapan yang sesuai dengan budget di kantong . Kategori penginapan yang saya cari tentunya harus terjangkau dengan isi dompet, dekat dengan transportasi umum dan memberikan kenyamanan maksimal. Oleh karena itu pilihan saya jatuh kepada OYO Hotels Indonesia yang sudah tersebar di 100 kota di Indonesia. Dengan #PastiAdaOYO jaringan hotel ini mudah sekali ditemukan di berbagi wilayah seluruh Indonesia.

OYO memberikan beberapa kategori penginapan yang disesuaikan dengan budget para traveler, yaitu

  1. OYO Flagship yang memberikan kamar nyaman dengan harga terjangkau
  2. OYO Collection O berupa hotel premiumdengan lokasi dan infrastruktur sangat baik
  3. OYO town house yang didesain sesuai dengan gaya milenial
  4. OYO Smart memberikan kamar nyaman yang dapat diandalkan dengan harga terjangkau
  5. OYO Capital O didesain dengan keunggulan infrastruktur dan aksesibilitas.

Nah selain itu OYO Hotels Indonesia menawarkan berbagai  promo yang menarik di waktu yang tepat. Seperti pada bulan November ini, OYO Hotels menawarkan harga Rp 18.000 di hotel-hotel tertentu yang bisa dicek pada aplikasi OYO. Pada tanggal keren seperti 11.11, OYO juga punya Harbolnas (Hari Booking OYO Hotels Nasional) yang menawarkan promo menginap hanya Rp 99.000 dengan periode booking dari tanggal 11 sampai 13 November 2019 dan periode menginap sampai akhir November 2019.

Untuk update promo yang ditawarkan OYO Hotels bisa di cek di aplikasi OYO mobile dan media social OYO.  Aplikasi OYO juga memiliki versi kecil yang tidak memakan space di dalam smartphone kita yaitu OYO Lite. Saya pakai OYO Lite soalnya memori smartphone hampir penuh.


Mau Ke Semarang Lagi?


Kalau dikasih pertanyaan : mau ke Semarang Lagi? Jawaban saya sudah pasti IYA.

Salah satu gedung kolonial di Kota Lama
Dok :Aga Yurista

Soalnya Kota Semarang memiliki berbagai destinasi wisata juga sudah dijangkau oleh OYO Hotels Indonesia. Sebenarnya di penghujung tahun ini saya merencanakan untuk menuntaskan berkeliling ke Kota Lama bahkan sampai ke sudut-sudutnya. Apalagi jika mendapatkan diskon 70% dari OYO, saya bisa menghemat untuk biaya penginapan. So, dana yang tadinya digunakan untuk penginapan bisa dialihkan untuk memanjakan lidah.  Seperti mencicipi bebek gongso legendaris yang terletak di samping Gedung Marba atau nasi goreng babat pak Karmin dekat Jembatan Mberok.

Nasi goreng babat pak Karmin.
Dok : Merdeka.com


Kabar gembiranya adalah OYO Hotels ternyata ada yang letaknya tidak jauh dari Kota Lama.  Dengan kabar gembira ini, emak-emak berprinsip hemat seperti saya tidak akan mejerit dengan biaya transportasi ke Kota Lama dong. Kan mudah sekali menemukan OYO Hotels #PastiAdaOYO.

Hal Sederhana yang Bisa Dilakukan Untuk Merawat Cagar Budaya Indonesia

Tidak ada komentar

Hal Sederhana yang Bisa Dilakukan Untuk Cagar Budaya Indonesia 



Situs Payak yang merupakan situs petirtaan
semasa kerajaan hindu budha.
Terletak di kecamatan Piyungan, Bantul, DIY.
Dokpri



Beruntung sekali saya tinggal di Daerah Istimewa Yoyakarta, di mana wilayah ini memiliki berbagai peninggalan bersejarah yang termasuk dalam kategori Cagar Budaya. Jantung kota ini saja memiliki bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang di depannya terdapat plakat  bertulis “cagar budaya”. Tetapi saya tidak tinggal di jantung kota ini, melainkan di pinggiran kota Jogja sebelah timur.

Awal saya pindah ke pinggir kota, saya tidak mengetahui bahwa di sekitar tempat tinggal terdapat sebuah candi yang unik. Saya berpikir bahwa candi-candi semasa Hindu Budha hanya tersebar di kawasan Prambanan saja, tidak sampai ke sini. Dugaan saya salah, tidak jauh dari rumah terdapat Candi Gampingan yang di depannya terdapat sebuah plakat bertulis “cagar budaya”.

Sebagian besar dari kita sering bertanya-tanya Cagar Budaya itu apa sih? Penetapannya bagaimana tuh sebuah peninggalan bersejarah dikategorikan sebagai Cagar Budaya? 

Pengertian Cagar Budaya menurut UU RI no 11 Tahun 2010 :
Cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda Cagar Budaya, bangunan Cagar Budaya, struktur Cagar Budaya, situs Cagar Budaya dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/di air yang , perlu dilestarikankeberadaanya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.

Jadi kalau yang tidak bersifat kebendaan seperti tarian, bahasa dan sebagainya tidak termasuk ke dalam Cagar Budaya. Terus penetapan sebuah benda atau peninggalan bersejarah sebagai cagar budaya itu juga ada aturannya.

Masih menurut UU RI Tahun 2010 penetapan cagar budaya itu dilakukan oleh pemerintah kabupaten atau kota berdasarkan rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya (TACB). Jadi sudah jelas ya penetapan Cagar Budaya ini bukan oleh pemerintah pusat. Sedangkan Tim Ahli Cagar Budaya adalah kelompok ahli dari berbagai bidang yang kompeten (memiliki sertifikat kompetensi). TACB ini bisa memberikan rekomendasi untuk penetapan, pemeringkatan, dan penghapusan Cagar Budaya. Oleh karena itu sebaiknya setiap kabupaten/kota memiliki TACB.

Sudah cukup jelas ya mengenai pengertian Cagar Budaya dan penetapannya. Sekarang tinggal sikap kita sebagai masyarakat nih bagaimana memperlakukan sebuah peninggalan yang dikategorikan sebagai Cagar Budaya.

Sementara itu pada pasal 3 UU RI no 11 tahun 2010 juga menyebutkan bahwa pelestarian Cagar Budaya bertujuan untuk :
  1. Melestarikan warisan budaya bangsa dan warisan umat manusia.
  2. Meningkatkan harkat dan martabat bangsa melalui cagar budaya
  3. Memperkuat kepribadian bangsa
  4. Meningkatkan kesejahteraan rakyat
  5. Memperomosikan warisan budaya bangsa kepada masyarakat internasional



Bertemu Sosok Teladan  Pelestari Cagar Budaya


Kawasan Candi Gampingan dekat dengan rumah warga. dokpri

Tadinya saya ragu akan mendekati Candi Gampingan karena di dalam pagar berduri itu ada seseorang. Tetapi saat melihat gerbangnya tidak terkunci, saya beranikan diri untuk masuk dan meminta ijin berkunjung kepada seseorang tersebut. Beliau bernama pak Muji yang bertugas membersihkan sekitar Kawasan Candi Gampingan.  

Bangunan Candi Gampingan merupakan candi budha yang terbuat dari batu putih, berbeda dengan candi-candi yang selama ini saya kunjungi. Candi yang diperkirakan dibangun pada abad ke 9 Masehi ini memang sudah hilang atapnya, tetapi kita masih bisa melihat reruntuhan dan reliefnya yang tercerai berai. Candi Gampingan pertama kali ditemukan oleh warga pengrajin batu bata di tahun 1995. Saya sangat mengapresiasi warga yang dengan sadar melaporkan penemuan candi kepada BPCB. Kalau tidak dilaporkan ke BPCB, mungkin Candi Gampingan sudah musnah oleh tangan-tangan jahil.

Menurut penuturan Pak Muji, setelah diteliti oleh tim ahli cagar budaya bahwa gapura Candi Gampingan ada di pinggir jalan raya. Jadi rumah yang menutupi jalan setapak menuju Candi Gampingan itu tidak seharusnya dibangun. Terkait permasalahan ini, pak Muji mengatakan bahwa BPCB sudah memenangkan gugatan terhadap rumah tersebut sehingga pembangunan rumah tidak dilanjutkan bahkan pasti akan dibongkar saat penggalian Candi Gampingan dilanjutkan.

Pak Muji sendiri merupakan pensiunan satpam BPCB (Badan Pelestarian Cagar Budaya) yang pernah ditugaskan di TWC (Taman Wisata Candi)  Borobudur dan Prambanan. Jadi tidak heran jika beliau bisa menceritakan tentang candi. 

Di masa pensiunnya, beliau masih mau dan mampu untuk menjaga kebersihan Candi Gampingan yang tidak jauh dari rumahnya. Selain itu beliau juga bertugas menjaga situs Payak yang ada di sebelah timur Candi Gampingan. Bisa dibayangkan tanpa seorang Pak Muji mungkin semak belukar akan menutupi kawasan candi sehingga masayarakat tidak mengetahui bahwa di Gampingan ada sebuah Candi budha atau malah mungkin tempatnya dianggap angker. 
Plakat Situs Payak dan papan peringatan dari BPCB. Dokpri

Ah masyarakat kita memang suka menghubungkan sebuah peninggalan sejarah dengan hal-hal mistis.

Ikut Merawat Cagar Budaya Dengan Cara Sederhana

Mengunjungi Cagar Budaya


Kalau Pak Muji sudah mendedikasikan dirinya untuk merawat cagar budaya Candi Gampingan dan Situs Payak dengan cara bersih-bersih, sekarang saatnya kita untuk ikut merawat cagar budaya dari yang paling sederhana yaitu mengunjungi cagar budaya.

Pak Muji selalu menerima pengunjung Candi Gampingan dengan tangan terbuka apalagi untuk edukasi kepada masyarakat. Oleh karena itu mengajak masyarakat untuk mengenal peninggalan cagar budaya di sekitar kita wajib dilakukan. Saat ini hanya komunitas-komunitas sejarah, mahasiswa, penulis atau peneliti yang sering mengunjungi Candi Gampingan karena memang tidak dibuka sebagai tempat wisata seperti Candi Sambisari.

Sebelum mengajak anak-anak mengunjungi Candi Gampingan yang merupakan Cagar Budaya, yang harus diedukasi adalah pendidik dan orang tuanya supaya tidak memandang sebelah mata peninggalan masa lalu berupa cagar budaya. Nilai sejarah yang terkandung dalam bangunan cagar budaya tidak bisa lepas dari sejarah bangsa kita lho.
relief pada candi Gampingan. dokpri

Jika hal itu sudah dilakukan maka untuk memberikan pesan-pesan toleransi, budi pekerti dan keberagaman akan lebih mudah disampaikan kepada anak. Contohnya Candi Gampingan memiliki relief berupa sulur-sulur dan binatang yang melambangkan bahwa kita harus hidup berdampingan dengan alam.

Kolaborasi

komunitas Kandang Kebo
 bekerjasama dengan BPCB DIY
 melakukan jelajah bertema
 " Menapak Jejak Sejarah".
Saya ikut dalam jelajah ini. Dokpri


Kemudian kolaborasi antara BPCB, Pemerintah Daerah dan komunitas sejarah juga sangat diperlukan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Contohnya seperti melakukan jelajah sejarah  yang melibatkan warga lokal dan terjun langsung mengedukasi masyarakat saat merayakan hari-hari besar nasional.
Warga lokal yang merupakan sesepuh
di kawasan Masjid Gedhe Mataram,
Kotagede, Yogyakarta
sedang memberikan penjelasan tentang masjid.
Dokpri




Warisan nenek moyang berupa cagar budaya di Indonesia ini perlu kita jaga bersama agar tidak musnah tersapu oleh ketidak pedulian kita terhadap cagar budaya. Kalau musnah, bagaimana kita akan bercerita kepada anak cucu tentang peninggalan nenek moyang sebuah bangsa yang luar biasa bernama Indonesia?

Tulisan ini disertakan dalam Lomba Kompetisi Blog Cagar Budaya Indonesia : Rawat atau Musnah. Lomba ini diadakan oleh Ibu Ibu Doyan Nulis (IIDN) dan  didukung oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Kalau kamu punya pengalaman tentang cagar budaya di sekitarmu yuk ikutan lombanya karena hadiahnya menarik banget lho. 





Deteksi Dini Kanker Serviks Dengan Tes IVA di Puskesmas Kalasan

Tidak ada komentar


Sumber : P2PTM Kemenkes

Tirto.id --Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono mengatakan terdapat dua jenis kanker yang paling banyak diderita masyarakat Indonesia, yakni kanker payudara dan kanker leher rahim (serviks). Merujuk data yang dipaparkan Kemenkes per 31 Januari 2019, terdapat angka kanker payudara 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk dan kanker serviks sebesar 23,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 13,9 per 100.000 penduduk.



"Dek, besok pagi ada tes IVA. Mau ikut nggak? Kalau mau, besok langsung datang saja ke Puskesmas Kalasan pagi-pagi, " kata ibu saat kami menginap di rumahnya malam itu, di penghujung Oktober.  Sebenarnya besok ibu masak-masak dan aku ingin membantu, tetapi tes IVAA juga penting.

"Besok ada yang bantuin ibu masak kok, tenang aja ada pasukannya", jawab Kanjeng Papi (suamiku) saat aku mengutarakan kegalauanku untuk ikut tes IVA.

Sebelum mengenal tes IVA, sebenarnya aku lebih dulu mengenal tentang papsmear. Tahun lalu aku sudah ikut papsmear jadi tidak terlalu takut untuk membayangkan tes IVA. 

Pengalaman Tes IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) di Puskesmas Kalasan

Suasana ruang tunggu
puskesmas Kalasan.
Dok : Dwi Janto


Mengunjungi puskesmas tanpa informasi yang jelas mengenai tes IVA sebenarnya membuatku dag dig dug. Ya takutnya udah masuk puskesmas tapi  salah informasi kan zonk banget. Malunya itu loh dilihat orang banyak. πŸ˜…

Menginjakkan kaki di puskesmas Kalasan, aku disambut oleh petugas yang berjaga di nomor antrian. Ya nomor antrian di puskesmas Kalasan udah pake print-printan kayak di bank itu loh. Tapi kadang ada yang membutuhkan bantuan untuk ambil nomor, jadi ada petugas yang jaga deh. Aku tidak diberikan nomor antrian oleh petugas, tetapi langsung diarahkan ke ruang KIA (Kesehatan Ibu dan Anak).

Di dalam ruang KIA terlihat ada 2 orang petugas medis yang berkutat dengan formulir di meja. Kemudian aku diberikan satu formulir yang harus diisi identitas dan tentunya nomor BPJS.

Lupa Membawa Kartu BPJS

Beruntung sekali aku punya aplikasi mobile JKN jadi waktu nggak bawa kartu BPJS bisa liat nomor BPJS-nya di aplikasi ini. Setelah mengembalikan formulir kepada petugas medis, aku diminta untuk menunggu di ruang tunggu puskesmas.
"Nanti dipanggil bu, "kata petugas saat aku mengembalikan formulir tersebut.

Tes IVA itu Apa?

Dok : Kemenkes


Tes IVA adalah sebuah tes untuk mendeteksi dini kanker serviks yang relatif mudah dilakukan dan memberikan hasil yang cepat. Pemeriksaan dilakukan dengan cara meneteskan asam asetat ke permukaan mulut rahim.

Tingkat keakuratan tes IVA sekitar 61%, jauh dibawah tingkat keakuratan papsmear. Walaupun demikian, tes IVA ini dianggap lebih efisien karena memberikan hasil yang cepat dan bisa dilakukan di klinik atau puskesmas terdekat dengan biaya terjangkau.

Masuk ke Ruang Periksa


Saat mendengar namaku dipanggil, aku segera masuk ke ruang KIA. Kemudian bidan melalukan tes IVA yang ternyata tidak semengerikan kata orang-orang. Hampir mirip seperti saat papsmear atau pasang IUD.

Langkah-langkah tes IVA antara lain :

1. Berbaring dengan posisi kaki terbuka seperti saat akan melahirkan.

2. Dokter/Bidan akan memasukkan cocor bebek (spekulum) ke dalam vagina. Spekulum berguna untuk menahan mulut vagina agar tetap terbuka, jadi mulut dan leher rahim akan terlihat.

3. Dokter/Bidan akan mengoleskan cairan asam asetat menggunakan kapas yang digulung (mirip cutton bud) ke permukaan jaringan leher rahim kemudian setelah satu menit hasilnya akan terlihat.

Hasil Tes IVA


Bersyukur sekali hasil tes IVA milikku normal karena tidak ada perubahan warna. Jika terjadi perubahan warna, itu tandanya jaringan serviks tidak sehat jadi akan ada penanganan lebih lanjut dari puskesmas. Kemudian bidan menyarankan untuk mengulang tes IVA lagi 3 tahun lagi.

Hasil tes IVA milikku.
Dokpri


" Kalau mau tes IVA tapi BPJSnya beda faskes juga bisa kok, puskemas Kalasan melayani tes IVA dengan biaya sebesar Rp 20.000", jelas bu bidan saat aku menanyakan kisaran biaya tes IVA.

Dok : Kemenkes



Diajarin SADARI Oleh Bidan

Dok : Kemenkes

Ternyata para ibu-ibu yang ikut tes IVA juga dapat info penting tentang SADARI (periksa payudara sendiri) untuk mendeteksi dini kelainan pada payudara setelah selesai tes IVA. Ibu-ibu diajak praktek SADARI secara langsung oleh bidan di ruang KIA, tidak cuma mendengarkan cerita Bidab saja. 



Sungguh pengalaman yang luar biasa bisa mengikuti tes IVA karena kesehatan reproduksi wanita juga perlu diperhatikan demi masa depan.  Semoga dengan ceritaku ini, semakin banyak para ibu yang berani mengikuti tes IVA yang sama sekali tidak menakutkan.

Menjaga Kesehatan Lebih Baik daripada Mengobati

Periksa Gigi Gratis di Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2019

Tidak ada komentar
Pembukaan BKGN UMY 2019.
 Dokpri


Suatu pagi tertanggal 11 November 2019.

Pukul 05.00 semburat fajar sudah menampakkan diri di ufuk timur. Ketika jarum jam dinding bergerak, saat itu pula hiruk pikuk suasana pagi akan segera terlihat.

Berbekal pengalaman kehabisan kuota saat BKGN UGM 2019, aku tidak mau mengalami hal yang sama di BKGN UMY 2019. Oleh karena itu, bangun pagi adalah solusi terbaik. Udah mirip rutinitas anak sekolahan deh tiba-tiba harus bangun pagi terus mandi. πŸ˜…

Pengalaman masa kecil yang sering sakit gigi sudah aku ceritakan di Artikel sebelumnya. Nah termotivasi dari pengalaman tersebut, aku membawa si kecil untuk ikut periksa gigi di BKGN UMY 2019. Aku juga sengaja memilih hari pertama untuk datang ke BKGN agar si kecil tidak bosan menunggu nomor antrian untuk bertemu dokter.

Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) UMY 2019

Asisten Brand Manajer Pepsodent
memberikan sambutan.
Dokpri

Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) merupakan komitmen Unilever melalui brand Pepsodent untuk berbagi kebaikan kepada masyarakat luas. Hal ini disampaikan oleh Asisten Manager Pepsodent saat membuka BKGN UMY 2019. Tema BKGN tahun 2019 ini  adalah Indonesia Tersenyum. Harapannya anak-anak Indonesia terbebas dari gigi berlubang agar percaya diri saat tersenyum. Pahlawan senyum tidak hanya dari kalangan ekspert tetapi dimulai dari keluarga dengan mengajarkan sikat gigi minimal 2x sehari.

Pemukulan gong oleh drg. Sugiyanti
 (perwakilan PDGI wilayah DIY)
sebagai tanda BKGN UMY 2019
 resmi dibuka. Dokpri


Target peserta BKGN 2019 sebesar 64.000, oleh karena itu BKGN menjalin kerjasama dengan berbagai pihak seperti Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi (AFDOGI), Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), RSGM (Rumah Sakit Gigi dan Mulut) dan universitas-universitas di seluruh Indonesia.
Jadwal BKGN 2019.
Dok : website pepsodent

Untuk di Daerah Istimewa Yogyakarta, BKGN diadakan di dua tempat yaitu RSGM UGM dan RSGM UMY. 
Poster BKGN 2019.
Sumber : IG BKGN UMY 2019


BKGN UMY 2019 diselenggarakan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (RSGM UMY) yang terletak di kompleks Asri Medical Center (AMC ) Jl. HOS Cokroaminoto no.17A Pakuncen,  Yogyakarta. Penyelenggaraan BKGN UMY 2019 dimulai dari tanggal 11 sampai 13 November 2019, dengan target 1200 peserta. Oleh karena itu BKGN menggandeng partner media & radio di Jogja.

Kompleks Asri Medical Center (AMC).
Dokpri



BKGN sebenarnya terbuka untuk umum, tapi banyak juga mahasiswa yang datang. Mungkin informasinya lebih cepat menyebar ke mahasiswa melalui media sosial seperti pesan beruntun di whatsapp.  Sementara itu masyarakat umum sepertiku mendapatkan informasi BKGN melalui akun instagram BKGN UMY 2019. Berbeda dengan ibu-ibu yang duduk di sebelahku, beliau bercerita bahwa mendapatkan informasi BKGN dari pesan beruntun yang diberikan  oleh mahasiswa UMY. 

Pengalaman Periksa Gigi di BKGN UMY

Poster BKGN UMY 2019.
Sumber : IG BKGN UMY 2019


Sebenarnya ini adalah tahun kedua bagi keluargaku periksa gigi di BKGN. Alasan memilih ikut periksa gigi di BKGN karena GRATIS dan tidak serumit menggunakan BPJS di klinik.

Sebenarnya BPJS mengcover tindakan skeling gigi  (membersihkan karang gigi) 1x dalam setahun, tetapi salah satu persyaratannya adalah harus ada indikasi medis, agar dokter gigi di klinik bisa langsung memberikan tindakan skeling. Singkatnya, kalau karang giginya sudah banyak banget dan sangat mengganggu  tuh baru bisa pakai BPJS untuk skeling. Oleh karena itu kami memutuskan untuk ikut BKGN saja yang tidak terlalu rumit syarat dan ketentuannya.

Nah untuk mengikuti periksa gigi gratis, syarat dan ketentuannya bisa dibaca di instastory BKGN UMY 2019.

Ada beberapa hal perlu dipersiapkan saat memutuskan untuk mengikuti periksa gigi gratis di BKGN.

1. Punya Waktu Luang

BKGN UMY 2019 memiliki target 1200 peserta dalam 3 hari. Itu artinya setiap hari paling tidak ada 400 peserta yang datang. Nah pengambilan kupon periksa gigi dimulai dari pukul 06.00, sementara jadwal buka layanan pukul 08.00,  jadi harus berangkat pagi-pagi untuk ambil kupon. Jarak dari rumah ke RSGM UMY memakan waktu sekitar 35 menit, jadi kami berangkat pagi-pagi sekali untuk ambil kupon.

Kupon BKGN-ku dan si kecil.
Dokpri


2. Kartu identitas (SIM/KTP)

Hari pertama BKGN UMY 2019 pelayanan dibuka pukul 09.00 karena ada acara pembukaan terlebih dahulu. Setelah acara pembukaan BKGN UMY 2019 selesai, peserta akan dipanggil sesuai nomor di dalam kupon. Sebelum menuju meja registrasi, kami mempersiapkan kartu identitas terlebih dahulu. Nah di meja registrasi, kartu identitasnya tinggal diberikan kepada petugas untuk mencatat identitas di form yang sudah disediakan. Petugas akan menanyakan beberapa hal seperti riwayat kesehatan, alergi dan keluhan yang dialami oleh peserta.

3. Sarapan

Oh iya kalau ke BKGN itu jangan lupa sarapan dulu. Kemarin setelah mendapatkan kupon periksa gigi di pukul 06.10 , kami kemudian membeli sarapan di Pasar Serangan yang tidak jauh dari RSGM UMY. Loh kenapa harus sarapan? Soalnya kami tidak sempat untuk sarapan di rumah. Selain itu BKGN antriannya banyak dan memakan waktu lama bisa bikin lapar, jadi sambil menunggu pelayanan dibuka bisa sarapan dulu.

4. Sabar

Nah sabar juga penting banget karena alur pelayanan BKGN sudah diatur sedemikian rupa sehingga semua bisa mendapatkan pelayanan dengan baik.


Alur Pelayanan BKGN UMY 2019


Registrasi


Alur pelayanan yang pertama kali setelah mendapatkan kupon adalah registrasi, kemudian form akan dibawa oleh peserta menuju lantai 4 untuk bertemu dokter gigi.

Konsultasi ke Dokter Gigi


Di ruangan ini, ada banyak sekali dokter gigi yang standby. Si kecil dan aku mendapatkan dokter gigi dengan nomor 19 - 20. Sementara Kanjeng Papi mendapatkan dokter gigi yang berbeda meja denganku. Pertama si kecil dulu yang diperiksa, beruntung sekali dia mau membuka mulutnya saat dokter memeriksa keadaan giginya. Terlihat ada beberapa carries gigi di gigi seri bagian atas. Sementara gigi geraham masih aman-aman saja. Kemudian dokter menyarankan untuk segera ditambal di ruang tindakan khusus anak. Tindakan tersebut dituliskan ke dalam form yang kemudian diberikan ke pada petugas di depan ruang tindakan.

Sementara aku yang memiliki gigi sensitif ternyata sudah saatnya mendapatkan tindakan skeling. Iya sih sudah lama juga tidak skeling, mungkin ada 1 tahun. Menurut dokter karang gigiku tidak termasuk dalam kategori berat. Jadi aku berpikir tidak membutuhkan waktu lama untuk membersihkannya.

Dokter yang aku temui lumayan interaktif dan tidak merasa terburu-buru dalam melakukan komunikasi dengan pasiennya.

Tindakan Medis

Setelah bertemu dokter gigi
 kemudian form dibawa ke meja ini.
 dokpri


Selanjutnya ada petugas yang mengantarkan form ke meja-meja yang ada di dekat ruang tindakan. Peserta akan dipanggil satu persatu oleh petugas untuk masuk ke ruang tindakan.

Ruang tindakan. Dokpri

Di dalam ruang tindakan, ada 2 petugas yang akan menyambut. Salah satu petugas adalah koas (ko-assisten) yang sedang praktek di RSGM, sementara petugas yang satunya akan mengisi formulir yang kita bawa tadi.

Di ruang tindakan ini, aku bertemu dengan koas bernama Dwiky yang interaktif tetapi masih agak grogi karena menghadapi pasien pertama.
Sebenarnya aku sudah akrab dengan tindakan skeling, jadi aku tetap tenang saat beberapa kali gigi terasa ngilu. Beberapa kali dokter gigi senior terlihat mondar mandir di lorong sambil sesekali memeriksa pekerjaan koas.

Dari keterangan Dwiky, target peserta menyentuh angka 1200 dalam 3 hari membuat koas hanya memiliki waktu 30 menit untuk melakukan tindakan medis. 

"Ada injury time 15 menit sih mbak, tapi nggak tau kenapa ini kok tim saya yang disuruh cepat-cepat", keluhnya setelah selesai melakukan skeling.
Setelah itu dokter gigi senior akan diminta untuk cek ulang hasil skeling koas. Tanpa ada sepatah kata apapun, dokter senior itu langsung mengecek ulang lalu pergi.

Sementara itu Kanjeng Papi masih mendapatkan tindakan skeling di sebelah saat aku meninggalkan ruang tindakan dengan gigi yang sudah bersih.

Habis skeling itu rasanya gigi lebih bersih dan enteng aja.
Si kecil berfoto dengan ikon gigi BKGN
Dokpri

Setelah itu kami masuk ke ruang tindakan untuk anak-anak. Tadinya si kecil biasa aja tapi ternyata dia menangis saat melihat peralatan dokter gigi. Jadi kami memutuskan untuk pulang saja sambil mencari cara agar si kecil mau tambal gigi. Kami pulang saat adzan duhur berkumandang, jadi totalnya kami menghabiskan waktu sekitar 6 jam untuk mengikuti BKGN UMY 2019.

Sampai Jumpa di BKGN selanjutnya ya!






Edukasi Kesehatan Gigi dan Mulut itu Penting, Tapi………………

Tidak ada komentar

Periksa gigi. Doc : Alodokter

Aku tuh bosen sama yang namanya ngerasain sakit gigi! πŸ‘Š Makannya daripada ngerasain sakit, mending dirawat. Banyak-banyak cari informasi tentang perawatan gigi gratis atau dipakai BPJS-nya deh biar giginya jangan sampai rusak atau sakit.

Pernyataan diatas memang sering aku lontarkan kepada orang-orang di sekitarku saat salah satu dari mereka mengeluhkan sakit gigi. Kelihatan sadis ya? tapi mau bagaimana lagi kadang prioritas untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut itu diabaikan. Coba deh waktu merasakan sakit gigi, paling juga baru ingat ke dokter gigi kan? Atau malah beli obat alternatif yang tersedia di warung?πŸ˜‹

Waktu kecil, aku tuh akrab banget sama yang namanya sakit gigi, gusi bengkak sampai pipinya dikasih salonpas. Bosen banget rasanya tiap sakit gigi terus nggak bisa makan. Informasi tentang kesehatan gigi dan mulut juga sangat minim, soalnya orang tuaku sibuk bekerja sebagai buruh pabrik. Sebelum tinggal bersama orang tua, aku tinggal bersama nenek yang terbiasa memanjakan cucunya apalagi kalau cucunya nangis minta dibelikan permen.

opo wae dituruti sing penting bocah meneng*—itulah kira-kira prinsip nenek dalam merawat cucunya. Tetapi pada akhirnya prinsip ini juga yang membuatku akrab dengan sakit gigi.
Gigi berlubang.
Dok : Alodokter

Bertemu tenaga medis itu mahal—pemikiran kedua orang tuaku ini membuatku tidak akrab dengan dokter gigi sewaktu kecil. Bahkan kalau sakit gigi cukup mengkonsumsi obat-obatan warung pengurang sakit gigi atau salonpas ditempelkan di pipi (yang bikin pipinya gosong)πŸ˜‚. Serius aku pernah mengalami ditempelin salonpas di pipi waktu sakit gigi dan rasanya malu banget waktu ke sekolah. Aku mengenal dokter gigi  karena cabut gigi susu di puskesmas Dayeuhkolot sekitar tahun 1997.

Jadi pemikiranku saat itu kalau cabut gigi tuh ke dokter gigi, tapi kalau sakit gigi ya beli obat di warung.

Banyak orang memilih obat sakit gigi yang beredar di warung-warung terdekat karena mudah didapatkan, murah meriah, nggak pakai ribet harus antri dan bertemu dokter. Kalau ketemu dokter juga sakitnya nggak langsung sembuh, kira-kira alasan itu yang aku dapatkan saat teman atau saudara atau bahkan keluarga tidak mau ke dokter gigi waktu sakit gigi. Ada juga yang waktu sakit gigi ke dokter gigi, terus pas udah dikasih obat pereda nyeri plus disarankan untuk cabut gigi tapi setelah sembuh malah kabur. Padahal tindakan-tindakan yang dilakukan dokter gigi tersebut merupakan solusi untuk berhenti akrab dengan sakit gigi.
Dok : RSGM Maranata


Semakin bertambahnya usia, seorang anak perempuan tentu akan berusaha menjaga penampilannya. Di masa SMA, aku nggak mau lagi sakit gigi sampai gusinya bengkak dan bikin muka jadi benjol. Selain itu aku bosan dengan konsumsi obat-obatan warung. Akhirnya aku memutuskan untuk menghindari pemicu sakit gigi walaupun belum melakukan periksa gigi rutin ke fasilitas kesehatan terdekat.

Aku mulai mengurang minuman manis, tidak mengkonsumsi permen, tidak makan makanan manis dan tidak makan cokelat. Beberapa teman malah mengira bahwa aku diet karena sering memesan es jeruk tanpa gula, padahal demi bisa makan tanpa terganggu sakit gigi ya ampunnnn.😌

Bertemu Dokter Gigi karena Promo Skeling


Mungkin sekitar tahun 2011 aku memutuskan untuk bertemu dokter gigi di kinik gigi Dentes yang bertempat di Seturan. Selain karena promo skeling, aku merasa ada yang tidak beres dengan kesehatan gigi dan mulut soalnya beberapa kali sikat gigi tuh berdarah. Eh kok pas banget habis gajian, jadi anggaran untuk ke dokter gigi tuh ada. Sebelum skeling juga aku sempat tanya-tanya ke teman soal skeling, nah dapat info kalau skeling itu sakit. Tapi demi kesehatan gigi dan mulut, keputusanku sudah bulat untuk melakukan skeling.

Hari yang ditunggu pun tiba, beruntung aku bertemu dokter yang sangat informatif dalam mengedukasi pasiennya. Kalau tidak salah beliau bernama dokter Ella. Skeling gigi pun dilakukan oleh dokter Ella dengan teliti sampai menghabiskan waktu 1 jam lamanya. Selain skeling, ternyata ada beberapa gigi gerahamku yang bolong juga dibersihkan. 

Dokter kemudian menyarankan untuk rontgen gigi ke laboraturium sebelum memutuskan gigi gerahamku akan dicabut atau ditambal. Hasil rontgen gigi mengindikasikan bahwa satu geraham kiriku tidak bisa diselamatkan alias dicabut. Sementara gigi geraham yang bolong lainnya masih bisa ditambal. Sejak saat itu aku jadi paham bahwa kesehatan mulut dan gigi juga harus diperhatikan, soalnya kalau bersih kan lebih enak untuk makan dan lebih percaya diri.

Dokter juga memberikan informasi bahwa skeling sebaiknya dilakukan setiap 6 bulan sekali, sama seperti periksa gigi rutin. 



Edukasi Kesehatan Gigi dan Mulut Kepada Orang Terdekat


Kemudian di tahun 2013, aku memutuskan untuk memakai kawat gigi sehingga lebih intens bertemu dengan dokter gigi. sejak saat itu sakit gigi yang diakibatkan oleh gigi berlubang menjauh untuk selamanya. Cerita tentang pemasangan kawat gigi, kapan-kapan aku tuliskan ya. πŸ˜‰

Tetapi dibalik kebahagiaanku yang sudah jauh-jauh dari sakit gigi, aku tidak bisa mengedukasi dengan baik tentang kesehatan gigi dan mulut kepada orang-orang terdekat.

Adikku yang pertama tidak bisa makan menggunakan geraham karena ternyata gerahamnya bolong. Suatu hari aku membawanya ke klinik gigi, penambalan dilakukan satu per satu sampai akhirnya adikku melanjutkan penambalan giginya di rumah sakit dekat rumah. Tetapi lagi-lagi karena adikku tidak mau mengurangi makanan/minuman manis dan aku tidak bisa mensuport dana untuk perawatan gigi, perawatan giginya tidak dilanjutkan.

Adikku yang kedua, giginya bertumpuk dan ibu belum mengantarnya ke klinik karena sibuk bekerja sementara adikku tidak mau berangkat sendiri demi giginya. Padahal keluargaku sudah memiliki BPJS aktif yang bisa digunakan untuk bertemu tenaga medis.

Ibu juga pernah merasakan sakit gigi karena beberapa giginya sudah tanggal dan hanya menyisakan akar. Tetapi belum juga mau memeriksakan diri ke klinik yang tertera di kartu BPJS. Bahkan ketika ada iklan Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) di televisi, aku sudah menginformasikan jadwal periksa gigi gratis kepada keluarga. Namun masih banyak alasan yang keluar ketika ku ajak ke BKGN.
BKGN UMY 2019. Dokpri


Sekali lagi edukasi kesehatan gigi dan mulut itu sangat penting, tetapi kalau yang diedukasi saja tidak mau bergerak, ya kita bisa apa sih? 

Memberikan edukasi itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.



note :
* apa aja dituritun, asal anak nggak rewel/ diem

Menemukan Berbagai Kejadian Unik di Transjogja

Tidak ada komentar
Transjoga yang berwarna biru
Mirip Tayo kan?
Dok : Tribunnews 

Di Suatu Senja Tertanggal 3 Oktober 2019


Ada sebuah rasa yang menyentuh sudut hati, saat melihat seorang bapak-bapak menyeka air mata menggunakan lengannya setelah menerima pemberian uang dari seorang ibu yang penampilannya sangat sederhana tapi memiliki kepedulian yang luar biasa.  Pemandangan sore itu, di sebuah halte transjogja, di mana aku berdiri sambil menggendong si kecil yang sudah mengantuk, di mana beberapa anak muda terlihat sibuk dengan smartphonenya tapi masih ada sesosok manusia dengan tingkat kepedulian luar biasa terhadap orang lain.

Sejak awal sebenarnya aku kurang menyimak kejadian apa yang menimpa bapak-bapak tersebut dan mungkin tidak akan memberikan perhatian kalau aku tidak menghadap ke arah barat sambil berharap transjogjanya segera lewat.  Sejak awal memasuki halte, aku melihat sesosok bapak itu bercerita kepada petugas halte. Sepertinya bercerita bahwa barangnya tertinggal di halte yang tidak ada petugasnya dan kemudian hilang.

Tidak lama kemudian datang sesosok ibu membawa kardus memasuki halte, mondar mandir seperti gelisah menunggu bus yang datang. Kalau dilihat dari raut wajahnya mungkin ibu ini berusia sekitar 45 tahun dan mungkin berprofesi sebagai pedagang yang sudah terbiasa menggunakan transjogja (terlihat dari cara si ibu meletakkan barangnya dengan cekatan di halte).

Ternyata bus transjogja yang akan aku tumpangi sudah terlihat di sudut barat halte, aku segera melangkahkan kaki ke dalam bus dan tidak bisa menyimak apa yang terjadi selanjutnya dengan si bapak atau ibu di halte tadi.

Transjogja berwarna kuning-hijau.
 Dok : Wonderfulisland


Mengenal Kendaraan Umum Sejak Kecil


Kendaraan umum baik swasta ataupun milik pemerintah itu sudah mengisi sebagian perjalanan hidupku. Waktu kecil aku sering diajak naik kendaraan sama ibu, mudik juga naik kendaraan umum, ya hampir kemana-mana juga naik kendaraan umum.
Sempat ada rasa kaget waktu pindah sekolah ke Kulon Progo karena kendaraan umum tidak menjangkau berbagai tempat. Pokoknya kalau mau naik bus itu harus jalan kaki dulu ke jalan utama. Nah bus yang pernah jadi langgananku untuk mengantar ke sekolah bakalan aku tuliskan di cerita lainnya. 😁

Beberapa Cerita Lain Diatas Transjogja

Di dalam transjogja jalur 10.
Dokpri

Kembali lagi ke transjogja, aku kenal sama transjogja sekitar tahun 2008. Waktu itu diajakin temen main ke Jogja, terus mau ke Malioboro naik bus transjogja. Transjogja nih adem pake AC, nyaman duduknya dan ada petugas yang mempersilahkan masuk. Aku yang biasanya naik bus berdesak-desakan dan panas kan terheran-heran dengan transjogja. πŸ˜‚ Serius! Ndeso banget kok aku. Suatu ketika bahkan pernah ditanyain tujuan naik transjogja sama petugasnya dan aku bingung jawabnya wong aku cuma mau naik transjogja aja muter-muter. πŸ˜… Selowww banget kan.

Naik Transjoga bersama si kecil,
Kata dia sih naik Tayo.
 Dokpri

Rasa tepo seliro (Tenggang Rasa) yang Nyata


Akhir-akhir ini aku sering dikasih tempat duduk oleh penumpang lain karena aku bawa batita. Tandanya tepo seliro itu masih ada di masyarakat kita. Beberapa kali aku sempat menolak saat diberikan tempat duduk karena yang memberikan juga sudah sepuh, kasian juga kan kalau sudah sepuh terus berdiri di dalam transjogja.

"maturnuwun sanget pak/bu, kulo caket namung mandap ten halte ngajeng", biasanya aku berkilah begitu kepada penumpang sepuh yang memberikan kursinya.

Bau Keringat

Sekitar sebulan yang lalu aku pulang menggunakan transjogja dan berdiri karena penuh. Eh di depanku ada seseorang yang bau keringatnya kemana-mana 😱. Rasanya mual plus pusing, pengen segera turun dari transjogja tapi kok belum sampai halte tujuan. Ya dibetah-betahin aja sampai akhirnya yang empunya keringat ternyaat turun duluan sebelum aku turun.

Beruntung pas bau keringat itu nggak ditambah ada yang kentut kan? 🀣

Cerita Ibu tentang Transjogja

Ternyata ibuku sebagai orang yang awam banget tentang Jogja juga punya cerita waktu naik Transjogja. Mungkin kejadiannya sekitar 5 tahun yang lalu, waktu portabel-portabel transjogja sudah ada tapi kalau mau turun portabel harus bilang dulu ke petugasnya (nggak kayak sekarang, petugasnya nawarin," ada yang mau turun portabel nggak?").

Jadi ibu mau ke kosku naik Transjogja, seharusnya turun di sebrang RS Harjolukito. Tapi karena beliau kurang paham letak portabelnya akhirnya ngomong ke petugasnya udah telat. Terus diomelin sama petugasnya dan diturunin di halte Janti bawah jembatan. Dari bawah jembatan, ibu akhirnya jalan kaki sampai ke sebrang Harjolukito. Sejak itu ibu tidak mau lagi naik transjogja, katanya takut dimarahin petugasnya.  πŸ˜₯

Aku juga tetap harus bijak menilai dari kejadian ibu tadi sih.

Tapi sekali lagi itu kejadiannya udah jaman dulu ya, aku tau kok yang mana petugas yang ngomelin ibu tapi aku juga nggak tau apakah dia masih kerja di transjogja atau tidak. Mungkin kalau masih, bisa ngobrol tentang kerjaanya di transjogja kali ya πŸ˜‚. Ambil cerita dari sudut pandang berbeda gitu.

Transjogja Kini

Petugas di dalam bus Transjogja
sedang berkutat dg manifest. 
Dokpri

Kalau dulu masih ada petugas yang marah-marah saat penumpang telat turun, aku yakin sekarang pembenahan untuk menyadarkan petugas agar melayani penumpang dengan sepenuh hati juga sudah dilaksanakan oleh petugas transjogja. Tapi kalau penumpang yang ngeselin pasti masih ada dong.πŸ˜‹

Ketika kita merasa bahwa petugas sudah berusaha melayani sebaik mungkin, memberikan ucapan terima kasih yang tulus saat turun dari bus atau halte kayaknya pas banget untuk mereka.

Semoga semakin banyak armadanya yang baru, semakin baik pelayanannya kepada penumpang dan semakin dipermudah pembayarannya (bisa cashlessπŸ˜‹) ya Transjogja! Btw info penting nih Transjogja sekarang jalurnya udah banyak dan udah punya akun instagram di sini 😁

Tulisan ini sama sekali tidak diendorse oleh Transjogja atau disuruh siapapun ya. Aku sebagai penumpang Transjogja sejak lama pengen nulis tentang Transjogja aja.




Melihat Perkembangan Promosi Sentra Gudeg Wijilan

Tidak ada komentar
Sinergi yang akan dilakukan antara pengusaha gudeg.
 dokpri

Apa sih yang pertama kali terpikirkan kalau mendengar kata Gudeg? Pasti sebagian besar akan menjawab makanan khas dari Jogja atau oleh-oleh khas dari Jogja bahkan kota jogja sendiri sering disebut juga sebagai kota gudeg. Menemukan makanan bernama gudeg dengan cita rasa manis plus gurih ini terbilang sangat mudah saat menginjakkan kaki di Jogja. Apalagi dengan adanya sentra Gudeg Wijilan yang terletak tidak jauh dari jantung kota Jogja.

Sarasehan Promosi Sentra Gudeg Wijilan

Pemaparan dari BPOM DIY. Dokpri

Pada tanggal 24 September 2019, Dinas Koperasi dan UKM DIY dan Badan POM DIY dan APEG (Asosiasi Pedagang Gudeg) bertatap muka secara langsung dalam Sarasehan Promosi Sentra Gudeg Wilijan yang bertempat di Gudeg Bu Lies, Wijilan, Yogyakarta. Pertemuan ini dilakukan sebagai upaya pemerintah DIY melalui Dinas Koperasi dan UKM untuk memfasilitasi pengusaha gudeg dalam mengembangkan bisnisnya agar menjangkau pasar yang lebih luas.

Menurut Bu Siwi kepala dinas Koperasi dan UKM DIY sebelum menjangkau pasar yang lebih luas, pengusaha gudeg harus melakukan pembenahan di bidang internal, misalnya membenahi laporan keuangan atau membenahi sumber daya manusia.

Sementara itu dari BPOM DIY mengajak pengusaha gudeg untuk melakukan pembenahan di dapur alias tempat untuk memasak gudeg. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk gudeg yang akan dijual ke pasar yang lebih luas.

Setelah mendengar pemaparan dari Dinas Koperasi UKM DIY dan BPOM DIY, asosiasi pengusaha Gudeg juga ternyata sudah lama berkeinginan untuk menbuat terobosan agar usaha mereka tetap berjalan lancar dan berkembang sesuai jaman. Sampai saat ini sekitar 45 pengusaha gudeg yang sudah tergabung dalam APEG dan 15 diantaranya terdalat di Sentra Gudeg Wijilan.
Bu Hj.Lies selaku pengusaha gudeg
sedang bertanya kepada narasumber.
dokpri

Berkeliling Sampai Dapur Gudeg Wijilan

Gudeg kaleng bu Hj.Rini yang berukuran sampai 2kg.
Dokpri

Sebagai penikmat kuliner bernama gudeg, rasanya tidak afdol kalau tidak melihat tempat membuat gudegnya secara langsung. Kebetulan sekali beberapa pengusaha gudeg mengajak kami berkeliling menuju jantung tempat pembuatan gudegnya yaitu tidak lain dan tidak bukan adalah dapur. Berbagai bahan utama dan pendamping untuk gudeg terlihat dikerjakan dengan cekatan oleh para pekerja yang menggunakan penutup rambut, masker, celemek dan sarung tangan. Untuk bahan bakar pembuatan gudeg ada yang masih menggunakan arang dan ada juga yang sudah beralih ke gas. menurut salah satu pengusaha gudeg bernama bu Hj.Rini alasan beralih menggunakan gas untuk industri gudegnya karena dapur terlihat lebih bersih.
"Apalagi itu lho Mbak langesnya (kotoran yang ditimbulkan dari pembakaran kayu yang berwarna hitam) kalau pakai kayu kan bikin atap dapur cepet kotor", tambahnya saat berjalan meninggalkan dapur.

Spanduk gudeg Bu Lies di pintu depan.
Dokpri

Sementara itu Bu Hj.Lies, seorang pengusaha gudeg yang sudah memulai usahanya sejak tahun 1993 bercerita tentang masa-masa kejayaan  penjualan gudeg di tahun 2000an. Kalau untuk saat ini penjualan gudeg hanya menghabiskan beberapa kwintal saja. Salah satunya karena jalan Wijilan dibuat searah jadi tidak banyak bus pariwisata yang membawa wisatawan untuk mampir ke Wijilan. Bu Lies juga mengakui bahwa keadaan saat ini penjualan gudegnya banyak dibantu dengan penjualan gudeg kaleng. Bahkan beberapa gudeg kaleng bu Lies sudah bisa didapatkan di supermarket lokal.