Menggoyang Lidah di Pesta Kuliner Rakyat



Ngomongin soal kuliner itu selalu berhasil membuat perut keroncongan. Begitu juga ketika ngomongin ada pesta kuliner rakyat yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi UKM DIY dan  PLUT- KUMKM di whatsapp grup, ternyata berhasil membuatku meluncur ke jalan Parangtritis km.5,5 di tengah teriknya sengatan sang surya. Bertempat di halaman depan Pyramid, Pesta Kuliner Rakyat yang diadakan tanggal 22 sampai 23 Maret 2019 ini menyajikan berbagai kuliner dari kabupaten Bantul, DIY. Ajang Pesta Kuliner Rakyat untuk para pelaku UMKM di Bantul ini diikuti oleh 18 tenant.

Pengalaman Menggoyang Lidah

Angin bertiup agak kencang saat aku menginjakkan kaki di halaman depan Pyramid. Bangunan berbentuk piramida dengan patung unta dan spink ini memang terlihat mencolok diantara bangunan lain di jalan parangtritis. Jadi cukup mudah untuk mencari tempat acara Pesta Kuliner Rakyat ini diadakan.
Wangi bawang gongso (bawang putih yang sedang dioseng) menggelitik indera penciuman saat kaki mulai melangkah mendekati tempat Pesta Kuliner Rakyat. Lapar, satu kata yang membuatku segera mencari sumber wangi bawang gongso. Tetapi sayangnya karena lapar yang semakin terasa, aku tidak sabar menunggu antrian di kedai tersebut dan berpindah ke tempat lain.

1. Warong Mas Wah Miedes & Shake

miedes yang gurih dari Warong Mas Wah. dokpri

 

Bergeser sedikit dari kedai, aku menemukan kuliner yang menyajikan jajanan pasar. Lumayan buat isi perut pikirku saat itu.
Makanan pertama menarik hati adalah miedes yaitu kuliner khas Bantul berupa mie berwarna kuning, agak lebar dengan tekstur kenyal. Mie tersebut dioseng dengan bumbu seperti bawang, merica dan sejumput garam. Gurih, seketika lidahku mencecap setelah bertemu langsung dengan sejumput miedes. Perpaduan merica dan bawang yang pas, ditambah sejumput garam memang menghasilkan rasa gurih, tanpa penyedap.
sosok bu Sri Wahyuni (jilbab hitam), beliau merupakan mantan TKW. dokpri

Dibalik rasa gurih miedes, ada sosok ramah yang sabar menjawab segala pertanyaanku. Beliau bernama bu Sri Wahyuni, seorang mantan Tenaga Kerja Wanita dari Jetis, Bantul. Setelah kasus fitnah dari mantan majikan yang membuatnya hampir terkena hukuman potong tangan di Arab Saudi tahun 2011, beliau akhirnya memutuskan untuk memulai berwirausaha kecil-kecilan di rumah. Usaha pertamanya adalah warung nasi dan ternak ayam, sayang sekali kurang berhasil. Tidak patah semangat bu Sri masih tetap menimba ilmu bersama komunitas Jamur Jetis yang kemudian membuatnya mengenal PLUT-UMKM DIY. Seiring bertambahnya teman di komunitas, pada akhirnya bu Sri berpartner dengan bu Jati untuk membuka usaha  Warong Mas Wah Miedes & Shake yang beralamat di Jetis, Bantul. Selain menjual miedes, disini juga dijual aneka jajanan pasar seperti klepon, onde-onde ceplis dan mie penthil.
klepon warna warni. dokpri

Dengan pengemasan yang masih sangat sederhana, jika di setiap kemasan ditempel stiker berwarna tentu akan lebih menarik pembeli. Penggunaan media sosial juga diperlukan jika ingin melakukan pemasaran yang lebih luas.

2. Camilan Yu Sum/ Bu Sum

dodol pisang, salah satu camilan yang ada di kedai Yu Sum/Bu Sum. dokpri

 

Dimana-mana ada olahan pisang, aku berkata dalam hati ketika melintasi meja Bakpia Yu Sum. Tetapi rasa penasaran yang menyeruak, bagaimana jadinya jika bakpia diisi olahan pisang? Hal ini membuatku menyempatkan diri untuk mampir. Beruntungnya disana sudah ada mbak Riana yang sedang ngobrol dengan penjualnya sambil membeli produk Yu Sum.
dodol dan bakpia Yu Sum. dokpri

Bakpia Yu Sum sendiri baru berusia empat bulan menurut Bu Sum. Berawal dari keinginan untuk memanfaatkan pisang raja bandung yang melimpah di sekitar rumahnya, akhirnya beliau berinovasi untuk membuat bakpia pisang Yu Sum. Usaha membuat camilan berbahan pisang memang sudah digelutinya sejak tahun 2002, mulai dari dodol berbahan pisang sampai berlanjut ke bakpia. Bakpia yang berisi kumbu pisang raja bandung terasa nikmat dilidah, tidak ada lagi rasa terlalu masam yang biasa dirasakan saat mengunyah pisang raja bandung. Harga bakpia pisang mulai dari Rp 17.000 rupiah dengan isi 20 biji.
sosok ramah dibalik camilan Yu Sum. dokpri
Camilan lain yang disediakan berupa gula kacang, rempeyek dan sebagainya berbalut dengan kemasan yang menarik. Cocok untuk oleh-oleh ke luar kota, itu kata yang terbersit ketika melihat camilan yang ada di meja Yu Sum.  Di samping toko camilannya yang terletak di jalan Paris km.21 ternyata beliau membuka kedai ayam geprek Yu Sum yang mudah dijangkau oleh google maps.
Dengan kemasan yang menarik dan bisa diorder darimana saja, sebaiknya camilan Yu Sum memaksimalkan penggunaan media sosial untuk pemasaran produk. Seperti penggunaan instagram untuk menarik para piknikers muda berkunjung ke camilan Yu Sum setelah dari pantai Parangtritis.

3. Dawet Daun Pisang

Dawet Daun Pisang, menggunakan tepung pisang dan daun pisangnya digunakan sebagai pewarna. dokpri

 

Daun pisang kok dijadiin minuman sih?
Sebuah pertanyaan yang muncul di benakku saat melintas di depan meja Dawet Daun Pisang. Stiker warna hijau yang kontras dengan gerabah cokelat tua berhasil mengalihkan pandangan mata dari tempat lain.
Aroma daun pisang menambah selera untuk segera mencicipi dawet, tetapi aku harus antri sebentar untuk membelinya karena masih ada satu pembeli di depanku. Giliranku tiba, sambil bercakap-cakap dengan bu Muryani,sang penjual dawet akhirnya diketahui bahwa bahan utama dawet dari tepung pisang, sementara daun pisang digunakan sebagai pewarna saja. Sebenarnya masih banyak berbagai olahan pisang lainnya yang dikembangkan oleh bu Muryani Saritani/KWT Amanah. Untuk kali ini disajikan Dawet Daun Pisang dalam pesta kuliner rakyat. Sementara itu Saritani yang beralamatkan di Cangkring RT.06 Sidomulyo, Bambanglipuro ini menerima pelatihan pengolahan sepohon pisang dan olahan tani lainnya.
"Kalau bikin camilan yang warna hijau mending dikasih warnanya pakai daun pisang raja atau daun pisang kepok aja mbak, tinggal diblender terus disaring, nggak bahaya buat anak kecil", saran bu Muryani saat aku memberikan segelas dawet kepada si kecil. Aku menganggukkan kepala tands setuju karena daun pisang lebih mudah didapatkan di sekitar kita jika akan digunakan untuk pewarna.
Dawet daun pisang bisa dicicipi dengan harga Rp 5000 saja. Aroma daun pisang yang menggugah selera di dalam dawet berpadu dengan gurihnya santan, gula jawa dan bongkahan es batu terasa segar saat membasahi kerongkongan yang sudah mengering. Cocok ketika digunakan sebagai minuman penghilang dahaga yang sekaligus mengenyangkan.
Kemasannya menggunakan gelas plastik dengan tutup terpisah. Jika akan dibawa pulang, agak repot dengan kemasan seperti ini karena rawan tumpah. Mungkin sebaiknya kemasan take away menggunakan gelas plastik yang sering digunakan untuk mengemas teh poci atau jus agar tidak mudah tumpah.

Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 16.00, para tenant sudah mulai berkemas. Begitu juga denganku dan teman-teman yang sudah mulai bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing. Mencicipi olahan makanan dan mendengarkan berbagai kisah dibaliknya adalah sebuah rangkaian yang tidak terpisahkan dalam menjelajahi kuliner Bantul hari ini.

Author

Niken Nawang Sari Niken Nawang Sari From history, we learn. Cause writing is healing.

Post a Comment

Keep in touch

Member of

Blogger Perempuan Kumpulan Emak-emak Blogger
Kompasianer Joga
Kompasianer Joga