Kenangan Masa Kecil Bersama Nenek di Bulan Ramadan

sumber : fimela.com



Masa-masa yang indah adalah ketika kita masih kecil, karena tidak perlu repot memikirkan berbagai macam hal. Bahkan ada yang bilang kesulitan masa kecil paling hanya karena PR Matematika, aku sih setuju soalnya aku nggak terlalu paham dengan matematika. Ngobrolin masa kecil saat bualn Ramadan itu mengingatkanku dengan masa kecil yang syahdu, di tempat nenek,  sebuah desa kecil yang sekarang udah hits sebagai tempat wisata.

 Menjelang Buka Puasa

radio nenek dulu modelnya seperti ini. (elevania)


Aku selalu merindukan Ramadan di tempat nenek, dimana setiap menjelang berbuka puasa kami duduk bersama-sama di meja makan, bersabar menunggu suara dengung “bengung” menuju adzan maghrib dari radio tuanya. Tidak lupa nenek pasti menyediakan secangkir teh hangat (dari teh walang) lengkap dengan teko keramik berwarna putih bergambar bunga-bunga di bagian tengah. Rumah nenek saat itu masih menggunakan “gedhek” dan beralaskan tanah, jadi suara hewan malam yang sudah mulai keluar dari sarangnya akan terdengar. Nah karena aku takut gelap, biasanya nenek menemaniku berwudhu setelah adzan magrib berkumandang.

blarak yang sudah dipisahkan dari tangkainya. (bisnisbra1.blogspot.com)
Setelah sholat maghrib, kami dan tetangga akan melaksanakan ibadah sholat isya dan taraweh di masjid terdekat. Kalau ditarik garis lurus sih masjidnya tidak terlalu jauh, tapi karena medannya nanjak jadi terasa jauh. Minimnya penerangan membuat nenek dan para tetangga menyiapkan obor dari daun kelapa kering yang disebut “blarak”. Blarak dipisahkan dari tangkainya kemudian diikat menjadi satu kesatuan.  kalau obor sudah agak redup biasanya cukup digoyangkan maka api akan menyala kembali. Beberapa orang yang akan berangkat ke masjid biasanya saling janjian dan menunggu--biar ada temen di jalan—karena saat itu belum ada SMS apalagi whatsapp


Saat Sahur

Tungku pembakaran tradisional "luweng" yang dulu ada di tempat nenek. 
(indoecotours.com)


Nah kalau sahur, nenek bangun lebih awal untuk memasak. Ya maklum sih waktu itu kami nggak ada yang namanya magic com jadi masak nasi masih pakai tungku. Dini hari yang dingin sebenarnya membuatku enggan bangun untuk sahur tapi karena ada tungku pembakaran yang biasa disebut “luweng”, aku mau bangun sahur. Kan bisa duduk di dekat luweng sambil bantuin nenek memasak. Kadang seekor kucing bahkan masuk dan tidur di dalam luweng saat abu pembakarannya masih hangat. Alat-alat masak nenek saat itu masih tradisional, kebanyakan terbuat dari tanah liat. Entah kenapa masakan nenek selalu terasa lebih sedap jika menggunakan alat-alat dari tanah liat dan dimasak menggunakan kayu bakar. Selesai sahur kami lalu melaksanakan shalat subuh di rumah karena setelah subuh biasanya kami beraktifitas seperti bukan di bulan Ramadan.

Aktifitas yang Biasanya Dilakukan Nenek dan Warga Sekitar di Bulan Ramadan

penampakan Jun untuk ngangsu seperti ini. (gpswisataindonesia)

Desa yang letaknya di sebelah utara waduk Sermo, dengan ketinggian yang lumayan, dulunya tidak ada PDAM. Jadi kami terbiasa “ngangsu” (ngambil air menggunakan wadah yang terbuat dari tanah liat yang disebut jun) ke sumur-sumur lokal di pagi hari, lalu setelah matahari mulai menampakkan diri, para warga akan bergegas ke kebun. Seiring dengan adanya PDAM, aktifitas ngangsu sudah tidak seramai sebelumnya. 

Kebun-kebun warga letaknya bervariasi, ada yang dekat tapi ada juga yang di gunung sebelah. Jadi untuk sampai disana, kamu perlu naik turun gunung seperti ninja hatori 😂. Tapi pemandangan yang ditawakan memang luar biasa indah (oleh sebab itu saat ini desa nenek jadi tempat wisata). Waduk Sermo yang biru membentang diapit oleh pegunungan menoreh yang hijau, seperti cekungan untuk menampung air hujan di tengah pegunungan. Selain aktifitas berkebun, warga juga berternak sapi, kambing dan ayam. 
pemandangan waduk sermo dari desa wisata tempat tinggal nenek.(hargatiket.net)


Nenek akan berhenti beraktifitas sekitar adzan duhur, lalu tidur siang sampai sekitar jam 1. Setelah itu beliau mencari kesibukan seperti mencari kayu bakar, membuat sapu lidi dari janur, atau menjemur jamu-jamuan seperti temulawak. Hasil kebun yang paling banyak didapatkan di musim kemarau biasanya jamu-jamuan dan cengkeh. Temulawak yang sudah kering akan dijual ke pengepul, sambil nenek berbelanja disana. Jadi ini sejenis barter, kadang hasil penjualan temulawak yang masih tersisa akan diambil dalam bentuk uang, yang kemudian disimpan oleh nenek untuk membeli kebutuhan lebaran. Dari berbagai hal yang pernah aku rasakan selama Ramadan di waktu kecil, bersama nenek, aku banyak belajar tentang kehidupan.
temulawak kuning yang kering. (bukalapak)

 
Kalau sekarang, aktifitas bulan Ramadan di desa nenek sudah berbeda. Kadang aku merindukan ramadan masa kecil bersama nenek tercinta, yang selalu mengajarkanku untuk berjuang dalam mendapatkan sesuatu.

Author

Niken Nawang Sari Niken Nawang Sari From history, we learn. Cause writing is healing.

Post a Comment

Keep in touch

Member of

Blogger Perempuan Kumpulan Emak-emak Blogger
Kompasianer Joga
Kompasianer Joga