Perjuangan Mudik Bersama Ibu

Ilustrasi Mudik. Dok : google

Mendengar kata mudik itu yang terbayang adalah macetnya jalur pantura maupun jalur selatan sekitar Nagreg.--my lovely
mom, pemudik handal sejak tahun 80an.

Mudik bagiku sewaktu kecil adalah rutinitas tahunan untuk bertemu nenek-kakek di Kulon Progo. Hanya berdua bersama dengan ibu--itu kenapa aku selalu bilang bahwa ibuku pemudik handal--kami terbiasa mudik menggunakan transportasi umum. Setiap tahun, cerita mudik kami selalu berganti-ganti, menyesuaikan dengan keadaan isi dompet untuk membeli karcis.

Mudik dari Bandung ke Kulon Progo, DIY sebenarnya paling enak ditempuh lewat jalur selatan, entah itu menggunakan Kereta Api atau Bus AKAP.

Beda transportasi umum yang dipilih tentunya memiliki cerita berbeda, tapi tetap asyik untuk diceritakan kembali saat aku quality time berdua dengan ibu.

Mudik Menggunakan Kereta Api

Stasiun Bandung, ada kenangan saat akan mudik disini. (Viva.co.id)

Sebelum kereta api dengan kelas ekonomi harus berhenti di stasiun Kiaracondong (lupa tahun berapa kebijakan tersebut dilaksanakan), kami biasanya mudik menggunakan kereta api. Jarak tempuh tempat tinggal di belakang Universitas Telkom (saat itu namanya masih STT Telkom) ke stasiun Bandung tidak terlalu jauh, makannya ibu memilih mudik dengan kereta api. Rute yang diambil biasanya KA jurusan Bandung-Kutoarjo atau Bandung-Wates via jalur selatan yang saat itu belum punya rel dobel (double track).

Jangan dibayangin beli tiket KA semudah sekarang, karena di tahun 1996 untuk mendapatkan tiket kereta api harus beli ke stasiun dan antri di loket. Ibu selalu berangkat lebih awal ke stasiun, bahkan kami tiba minimal 1 jam sebelum loket dibuka. Kereta api saat itu masih amburadul, angkut penumpang sama kayak angkut barang.😯
Loko merah ini selalu dinanti oleh kami. (Railfans1.blogspot.com)


Kami pernah dapat tiket kereta api kelas bisnis tanpa tempat duduk sehingga semalaman hanya duduk di lantai gerbong (masih dilewatin pedagang asongan atau pengamen bahkan mungkin copet loh). Itu masih mending bisa duduk di lantai, daripada berdiri semalaman di toilet KA. πŸ˜‚ Belum lagi jam kedatangan atau keberangkatan kereta yang telat, itu sangat menyebalkan. Waktu itu memang jarang banget kereta yang datang/berangkat tepat waktu.

Pemandangan tentang lokomotif kereta api yang penuh manusia juga pernah aku lihat. Kereta api kelas ekonomi dengan tempat duduk 3-2 juga sudah biasa kami tumpangi saat mudik. Beruntungnya kalau dapat tempat duduk, kalau nggak dapet bisad uduk di lantai menggunakan koran bekas.
Gerbong Barang, dulu pernah digunakan untuk angkut pemudik. (kai.co.id)


Bahkan ibu pernah merasakan mudik menggunakan kereta barang yang gerbongnya gelap tanpa jendela dan hanya duduk beralaskan koran dengan membawa kedua adikku. (Kebijakan mudik menggunakan kereta pengangkut barang kemudian dihapuskan oleh PT KAI)

Sungguh perjuangan mudik yang luar biasa, bersama ibu tangguh yang luar biasa juga, yang tidak akan pernah aku lupakan.
Tapi sejak kereta kelas ekonomi hanya berhenti sampai stasiun Kiaracondong, ibu memilih mudik menggunakan bus.

Mudik Menggunakan Bus AKAP

Bus Budiman, pernah menjadi teman perjalanan mudik kami. (Jabar Tribunnews)

Bus AKAP kelas ekonomi, itu selalu jadi pilihan ibu saat mudik, alasannya karena terbatasnya budget untuk mudik. Nasihat ibu yang selalu aku ingat adalah jangan simpan uang di dompet supaya aman. Ibu biasanya akan menyiapkan uang secukupnya untuk tiket bus, dan uang yang lainnya disimpan di tempat yang tersembunyi.

Selama mudik dengan ibu menggunakan bus, biasanya ibu memilih di pagi hari agar lebih aman. Sekitar pukul 5 pagi kami akan berangkat dari rumah menuju terminal Cicaheum. Sesampainya di terminal, ibu akan membeli karcis sesuai dengan uang yang ada di kantong. Kalau lagi ada uang lebih, ibu akan memilih bus ekonomi yang langsung menuju Yogya. Tapi kalau sedang tidak ada uang lebih, ibu memilih bus jurusan Purwokerto, lalu nyambung menuju Purworejo sampai akhirnya naik bus kecil menuju Kulon Progo.

Nah dengan bus yang nyambung-nyambung atau istilah ibu "medhot-medhot" itu sekali waktu mudik kami pernah mendapatkan bus Budiman jurusan Purwokerto via Cianjur, jadi perjalanan yang kami tempuh lebih lama. Bis ekonomi yang tidak jauh dari nyaman merupakan teman mudik kami saat itu.

Pernah sekali waktu kami turun di terminal Purworejo  kemudian menuju Kulon Progo itu mendapatkan bis yang sangat tidak layak, ada gantungan tempat sendok di bus dan bus berjalan sangat lamban. πŸ˜‚

Sebuah perjalanan panjang bernama mudik, mengajarkan berbagai hal  tentang kehidupan yang belum aku temukan di sekitar rumah. Aku beruntung dapat merasakan mudik dengan orang yang sangat tangguh yaitu Ibu. Sehingga cerita mudik ini bisa aku tuliskan dan berharap bisa diceritakan kembali kepada anak cucu.

Author

Niken Nawang Sari Niken Nawang Sari From history, we learn. Cause writing is healing.

4 comments

  1. Wah seru banget perjalanannya ya mba. Banyak yang bisa jadi kenangan sampe sekarang..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak seru banget, tiap tahun ada perjalanan berbeda soalnya. 😁 Kenangan yang tak terlupakan

      Delete
  2. Ceritanya menarik, dulu aku juga pernah ngalamin naik kereta api yang banyak pedagang asongannya. Nggak nyangka sekarang kereta api jadi alat transportasi yang nyaman. 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, naik kereta udah kayak pasar ya waktu itu. Aku sama sekali nggak merindukan masa itu sih tapi cukup jadi cerita 😁

      Delete

Post a Comment

Keep in touch

Member of

Blogger Perempuan Kumpulan Emak-emak Blogger
Kompasianer Joga
Kompasianer Joga