Doa dan Harapan di Bulan Ramadan


Doa. Dok : Liputan6.com

Bulan suci Ramadan akan segera berakhir, namun masih kupanjatkan seuntai doa kepada Allah agar kelak keluarga kecilku dipertemukan dengan Ramadan kembali. Entahlah, rasa sedih tiba-tiba menyergap saat Ramadan akan segera berakhir.

Harapan

Setiap kali menulis, aku memiliki harapan bahwa semua pemikiranku akan tertuang dalam tulisan. Begitupun dengan harapan di bulan Ramadan-- pengennya sih perfect--semua harapan yang ada tercatat di pikiran tuh bisa dilaksanakan. Harapanku di bulan Ramadan tahun ini sangat sederhana yaitu bikin kue kering untuk oleh-oleh saat bertemu keluarga. Tahun lalu soalnya aku nggak sempat bikin kue kering, sementara lidahku ngajak mahal kalau beli kue kering. Apalagi aku kadang males untuk beraksi di dapur 😂 harapan bikin kue kering kan butuh dorongan dari suami juga.

 Alhamdulillah menjelang H-4 lebaran, oven tangkring warisan ibu sudah bersiap-siap diatas kompor untuk memanggang kue kering. Beruntungnya juga, ada toko bahan kue dekat rumah jadi pas beli bahan kue nggak perlu jauh-jauh ke Kotagede. Kue kering lebaran berbentuk ulat -- dikenal dengan nama caterpillar pun sudah siap diantarkan ke rumah orang tua.

Doa

Banyak sekali artikel yang membahas waktu berdoa terbaik di bulan Ramadan. Tapi bagiku memanjatkan doa kepada Allah itu diusahakan setiap selesai sholat wajib. Konsistensi memanjatkan doa aja kadang masih bolong 😅 astaga.

Setelah kepergian simbah Kakung ke pangkuan Yang Maha Kuasa, tidak lupa di bulan Ramadan ini aku panjatkan doa untuk beliau. Kepergian simbah Kakung dengan tenang, meninggalkan simbah Putri yang tetap tegar. Sebuah keikhlasan terlihat dari tatapan simbah Putri saat sang suami meninggalkan beliau selama-lamanya. Tidak lupa untaian doa juga aku panjatkan untuk simbah Putri agar selalu diberikan kesehatan dan dilindungi Allah.

 Salah satu misi mulia  simbah Putri adalah mendekatkan simbah Kakung dengan Allah, dan alhamdulillah doa beliau terkabul sebelum mbah Kakung menghadap Sang Kuasa sehingga beliau melepas almarhum mbah Kakung dengan keikhlasan.  Beliau juga mengajarkanku bahwa setiap untaian doa akan dikabulkan di waktu yang tepat.

Author

Niken Nawang Sari Niken Nawang Sari From history, we learn. Cause writing is healing.

Post a Comment

Keep in touch

Member of

Blogger Perempuan Kumpulan Emak-emak Blogger
Kompasianer Joga
Kompasianer Joga