Jejak Kejayaan Kerajaan Islam di Pleret



Museum Sejarah Purbakala Pleret. Dok : Dimas Anggoro
Menjalani puasa di bulan Ramadan itu memberikan berbagai momen terbaik untuk yang menjalankannya. Bahkan momen tersebut kadang diabadikan lewat media sosial atau sekedar jepretan kamera. Tak jarang momen tersebut juga berhasil terekam apik di kepala. Berikut ini adalah cerita momen terbaikku selama bulan Ramadan tahun ini.
Mengenal sejarah peradaban sebuah bangsa adalah sesuatu yang sangat menarik hati. Apalagi berkaitan dengan suku Jawa, suku dimana aku dilahirkan dan dimana segelintir orang menyebutnya dekat dengan klenik, jimat dan lain-lain. Momen untuk mengenal jejak sejarah salah satu kerajaan islam terbesar yang pernah ada di pulau Jawa, adalah momen terbaik selama Ramadan tahun ini.

Berawal dari iseng-iseng buka instargram, lalu searching Museum Sejarah Purbakala Pleret, aku menemukan sebuah poster yang berisi berjudul Untukmu Museum Pleret. Ada lomba fotografinya juga tapi bagiku yang penting bisa explore Museum Sejarah Purbakala Pleret dulu. Soalnya udah sering lewat tapi belum pernah mampir. Bahkan untuk melihat situs kejayaan sebuah kerajaan Islam di Pleret, aku hanya bisa melihatnya dari sebuah buku. Nah sekarang ada momen terbaik untuk mengenal jejak peradaban tersebut, jadi kenapa nggak ikut? Akhirnya aku mendaftarkan diri untuk ikut berpartisipasi dalam lomba foto di Museum Sejarah Purbakala Pleret.

Sabtu, 25 Mei 2019
Teriknya sinar matahari tidak terlalu ku hiraukan saat menyusuri jalanan berdebu menuju Museum Sejarah Purbakala Pleret. Sesampainya disana, ada sambutan hangat dari teman-teman mahasiswa jurusan Komunikasi UAJY yang tergabung dalam @ini.picnic . Merekalah yang jungkir balik mempersiapkan acara lomba foto museum sejarah purbakala Pleret --yang tentunya sudah di acc oleh pihak museum. "Jadi kami harus mencari tau kesulitan apa yang dialami museum untuk berkembang dan menguraikannya, sebagai mata kuliah puncak", ungkap ketua @ini.picnic saat aku tanyakan tentang acara ini.

Workshop Fotografi


Waktu bergulir, materi fotografi singkat disampaikan oleh Dimas Tarigan, seorang fotografer profesional yang sudah lama malang melintang di dunia fotografi. Selain materi,  berbagai momen terbaik yang berhasil diambil oleh Dimas Tarigan ditampilkan dengan apik di layar. Satu kata, keren!
"Ambil foto juga harus pakai attitude", pesannya.

Mengenal Kejayaan Mataram Islam

Sebelum berkeliling, suguhan video tentang kerajaan islam di nusantara menjadi sebuah pembukaan. Sejarah panjang Mataram Islam, dimulai dari berdirinya Mataram Islam, kemudian penyerangan Mataram Islam terhadap VOC di Batavia selama pemerintahan Sultan Agung hingga masa pemerintahan raja Amangkurat I yang memindahkan keratonnya ke wilayah Pleret, disajikan oleh video tersebut.

Reruntuhan Masjid Agung Kauman Pleret

Reruntuhan masjid Agung Pleret sekarang sudah diberi atap. Dok : Dimas Anggoro

Waktu yang ditunggu-tunggu sudah tiba, aku memutuskan untuk ikut mengunjungi reruntuhan Masjid Agung Kauman Pleret yang menurut sejarah adalah masjid terbesar selama masa kerajaan Mataram Islam.
Pandangan mata menatap sebuah batu yang disebut umpa. Umpak besar itu merupakan tempat untuk meletakkan penyangga atap masjid. Dari umpak tersebut, bayangan besarnya masjid sudah mulai terlihat. Apalagi ditambah dengan penjelasan dari pihak Museum Sejarah Purbakala Pleret, semakin mudah membayangkan besarnya masjid pada saat itu.
Perbandingan tiang dan batu umpak. Dok : Dimas Anggoro

Tetapi banyak hal yang membuat masjid besar ini tinggal puing-puingnya saja. Pemberontakan Trunojoyo sih nggak seberapa merusak masjid, tapi karena usia masjid dan sempat ditinggalkan penduduknya membuat masjid ini rusak. Selain itu adanya pembangunan PG Kedaton Pleret semasa pemerintahan Kolonial Belanda, yang menggunakan semen merah dari bangunan masjid dan penjarahan itu yang membuat bangunan masjid hanya menyisakan puing-puingnya di dalam tanah. Keadaan ini seolah menenggelamkan sejarah bahwa di Pleret pernah ada masjid milik keraton Mataram Islam yang besar.
Bekas pengimaman di reruntuhan masjid agung Pleret. Dok :  Dimas Anggoro


Situs Kerto

Umpak yang ditemukan di situs Kerto. Terlihat hiasannya yang menggambarkan huruf hijaiyah.
Dok : Dimas Anggoro

Menurut mbak Retno sebagai edukator museum Pleret, dahulunya situs Kerto ini terkubur di sekitar rumah warga. Jadi pihak BPCB harus melakukan upaya pembebasan lahan untuk menggali situs. Beberapa hasil penggalian berupa umpak besar dengan hiasan huruf hijaiyah yang jika digabungkan membentuk kata Muhammad--sebuah dakwah yang khas dari leluhur kita.
Reruntuhan keraton Kerto. Dok : Dimas Anggoro

 Selain itu, penggalian juga memperlihatkan dinding-dinding keraton yang terbuat dari susunan batu bata merah dan batu putih. Sultan Agung dulu tinggal di keraton Kerto. Sepeninggal beliau, keraton Kerto dipindahkan ke Pleret oleh Susuhunan Amangkurat I. Kemudian  Susuhunan Amangkurat I juga melanjutkan pembangunan Segoroyoso yang akhirnya dipergunakan untuk tempat latihan militer.

Peninggalan di Museum


Sebenarnya museum didesain untuk menampung benda-benda purbakala di kabupaten Bantul. Tapi karena terbatasnya tempat, koleksi museum masih terbatas juga. Peninggalan berupa arca, alat ibadah, keramik dan berbagai jenis perhiasan masa hindu- budha tersimpan di bangunan paling barat museum. Di museum juga terdapat hologram yang menyajikan pembuatan keraton Pleret termasuk Segoroyoso di dalamnya.
Sementara itu sumur Gumiling peninggalan keraton Pleret, ada di bagian depan.


Mengenal jejak sejarah kerajaan Mataram Islam yang disajikan oleh Museum Sejarah Purbakala Pleret adalah sebuah momen terbaik bagiku selama Ramadan tahun ini. Selain siraman rohani, siraman sejarah juga dibutuhkan agar kita mengingat perjuangan mereka dalam menegakkan ajaran islam di nusantara, khusunya pulau Jawa dengan ciri khas tersendiri.



Author

Niken Nawang Sari Niken Nawang Sari From history, we learn. Cause writing is healing.

41 comments

  1. Wah terima kasih banyak mbak niken sudah bersedih menulis dan memposting kegiatan kami, sukses buat kedepannya

    Hormat kami
    Picnic agency 🙏🏻

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah terima kasih juga sudah berkunjung ke blog saya Mas Fauzan, salam untuk teman-teman Picnic Agency dan semoga mas Fauzan beserta teman-teman juga sukses melanjutkan mata kuliah berikutnya.

      Delete
  2. Alhamdulilah bisa hadir di acara keren mba :) baru tahu juga ternyata situs KErtonya terkubur di rumah warga ini pas pembebasan lahannya untung ga terjadi masalahya mba karena hasilnya bisa melihat hasil galian huruf hijaiyah berlafal Muhammad masya Alloh keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah nggak konflik sama warga waktu pembebasan lahan karena pihak terkait sudah melakukan sosialisasi terlebih dahulu mbak. Iya keren banget cara dakwahnya ya pakai ukiran di umpak berupa huruf hijaiyah yang dibaca Muhammad.

      Delete
  3. Pleret ini daerah di kota apa mba?
    Klo di Cirebon ada jg Plered..
    Dan punya wisata budaya dan sejarah jg di sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mataram Islam dulu berdiri di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta mbak, nah Pleret yang ini masuk Kab. Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kalau peninggalan sejarah di Plered Cirebon hubungannya nanti sama Kasultanan Cirebon.

      Delete
  4. Oh ternyata ada jejak kerajaan Islam di Bantul ya mbak, aku baru tahu nih. Anakku pasti suka kalo dengar cerita ini, ntar deh aku kabari mumpung dia tinggal di Jogja untuk menyelesaikan skripsinya. Bisa jadi kunjungan berikutnya kalo kami ke Jogja. Makasih ya info nya mba Nicken

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama mbak, boleh banget kabarin saya loh kalo ke Jogja hehe

      Delete
  5. Belajar sejarah juga penting ya agar kita tau cikal bakal pergerakan syi'ar Islam di daerah kita. Jadi kita makin menyadari bahwa kita ini orang Indonesia yang beragama Islam, bukan pindahan orang Arab ke Indonesia ;) Banyak yang enggak mau capek2 mempelajari ini dan asal adopsi sesuatu yang di-hype-kan di medsos saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul sekali mbak apalagi di jaman sekarang perlu banget tau jejak nenek moyang yang pernah mendidirkan kerajaan islam biar nggak asal adopsi budaya arab ke Indonesia

      Delete
  6. ternyata ada hal menarik lainnya ya di Pleret selain gerabah.. Ada museumnya juga ya.. Selama ini fokusnya cuma daerah kota aja sih haha.. Boleh nih dikunjungi juga kalo pas ke Jogja

    ReplyDelete
    Replies
    1. main-mainlah mbak ke Pleret sini deket ama rumah aku kok hehehe

      Delete
  7. Senang banget kalau baca sejarah Napak tilas begini

    Apalagi kalau menyangkut sejarah Islam ya mbak .. seolah terlempar kembali ke masa itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak sama biar nggak lupa kalau peradaban islam udah ada di Indonesia bahkan sebelum Belanda menginjakkan kaki ke nusantara.

      Delete
  8. Jalan-jalan ke musuem sambil belajar fotographi, seru bingits.... Akupun pengen menelusuri jejak Kejayaan Kerajaan Islam. Serasa kembali ke zaman dulu ya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mbak, kayak dibawa mengenal nenek moyang gitu ya

      Delete
  9. Mbak Niken, kapan2 kalau mengunjungi situs bersejarah gini ajak2 dong. Tertarik juga nih menyusuri situs2 sejarah. Tapi aq lebih concern ke situs era kerajaan gitu sih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. boleh boleh kita kan deket mbak, nanati aku kabar2 deh kalau ada info tentang jejalah eks kerajaan Mataram Islam atau kerajaan hindu-budha yang wilayahnya masih Jogja-Solo hehehe

      Delete
  10. Wah bagus banget ini kegiatannya jadi tahu sejarah masa silam ya, cerita penggaliannya juga unik banget...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak sayangnya masyarakat kita masih identik kalau ke museum atau ke situs itu serem-serem dll

      Delete
  11. Waaah sayang sekali yaa bangunannya habis begitu. Tinggal tempat pengimaman yg lumayan luas. Dilihat dari alas tiang penyangga, memang sepertinya masjid di sini besar sekali

    ReplyDelete
    Replies
    1. masjid Agung Pleret ini masjid terbesar pada masanya mbak, itu belum semua digali karena ada mesjid kecil kan di dekat bekas masjid agung Pleret.

      Delete
  12. Aku langsung browsing tentang Masjid Agung Kauman.

    ... ternyata banyak kisah-kisah yang mengiringinya ya.
    Mulai nyaris diruntuhkan dan batu batanya diambil untuk pembangunan pabrik gula

    Kini disiapkan untuk menjadi museum berbasis situs arkeologi atau situs museum

    ReplyDelete
    Replies
    1. doakan lancar ya mbak persiapan museumnya menjadi berbasis arkeologi karena masiih banyak peninggalan yang belum digali juga

      Delete
  13. Pulau Jawa memang memiliki keunikan dan khasnya tersendiri. Tak terkecuali tentang sejarahnya.

    Saya baru tahu nih kalau di Pleret juga merupakan wilayah Kerajaan Mataram Islam. Tahunya pusat kota Jogjanya aja saya. Hehehe

    Semoga museumnya berkembang dan banyak orang yang berkunjung untuk melihat dan belajar sejarah pada masa lampau.

    ReplyDelete
    Replies
    1. cikal bakal kerajaan yang masih ada sekarang termasuk Yogya, Solo itu ya Mataram Islam mbak hehe.

      Delete
  14. Aku pikir pleret yang ada di daerah jawabart dekat Purwakarta ternyaya bukan ya. wah ternyata Masjid Aggung Kauman Pleret mesjid terbesar di masa kerajaan Mataram Islam ya. Sru juga ya bisa melihat langusngg jejak kejayaan kerasaan islam ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau yang dii wilayah Jabar ntar hubungannya kayaknya sama Kasultanan Cirebon hehe, kalau Mataram Islam di wilayah DIY-Jateng

      Delete
  15. Aku suka ke tempat-tempat seperti ini. Termasuk ke makam para wali dan masjid-masjidnya. Menurutku bukan sekedar klenik atau kejawen ya kalau kata orang, tapi ini lebih ke menelusuri jejak ISlam. Ya kita nggak bisa memungkiri, Islam di Indonesia atau Jawa khususnya itu nggak turun dari langit begitu saja. Ada tokoh-tokoh, tradisi dan budaya yang membawa dan menyebarkannya. Jadi lebih menarik mempelajari Islam dari ruang lingkup yg lebih luas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mbak tidak memungkiri bahwa islam di nusantara dibawa oleh pedagang dari Arab, Gujarat atau Persia tapi dalam perkembangannya juga agama islam mengadopsi budaya lokal . Sunan Kalijaga aja dakwahnya pakai wayang hehe

      Delete
  16. Salut dengan pihak yang masih terus memberdayakan situs-situs peninggalan jaman dahulu. Untuk kemanfaatan anak dan cucu kita yang ingin mengenal sejarah dan peninggalan leluhurnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mbak, beruntung masih ada orang-orang seperti mereka yang mau merawat peninggalan nenek moyang ya

      Delete
  17. seru banget ini mba, mengenal jejak sejarah kerajaan Mataram Islam di Museum Sejarah Purbakala Pleret. jadi pengen berkunjung juga krn anak2ku suka bgt ke museum

    ReplyDelete
  18. Informasinya lengkap mbak, ternyata jejak sejarah peradaban islam di pleret menarik banget ya... Mudah2an kapan2 bisa melihat langsung...

    ReplyDelete
  19. Seru nih Bulan Ramadhan terus ilas balik menjelajahi jejak Islam di Pleret. Kapan-kapan ke sana juga ah.

    ReplyDelete
  20. Ini jadi Wisata Religi plus dengan mengenal dan menggali Sejarah juga ya. Banyak peninggalan dengan kisahnya yang menarik disana, terutama tentang bagaimana Islam ditegakkan di Tanah Air. Aku langsung teringat Alm. Uwa-ku dulu selalu mengajakku Wisata Religi ke Mesjid-Mesjid kuno di Garut, berkesan sekaligus jadi tambahan ilmu untuk kuturunkan kembali ke Anak Cucu.

    ReplyDelete
  21. Bagus Mbak, kunjungan seperti ini menjadi momen untuk menggali sejarah sehingga kita tidak buta akan nilai-nilai yang dahulu diperjuangkan oleh nenek moyang kita.

    ReplyDelete
  22. Wah, lumayan banyak ya jejak peninggalannya. Paling senang deh main ke tempat bersejarah kayak gini. Bikin inget pelajaran di sekolah dulu. :)

    ReplyDelete
  23. Aku pernah tinggal di Cireon 3 tahun saat masih SD.
    Dan beberapa kali ke Pleret, ikut Ibu kalau Dharma Wanita.

    Sejarah Pleret ini mengagumkan yaa....
    Peninggalannya masih bisa menjadi saksi bisu untuk anak-cucu.

    ReplyDelete
  24. Asyik nih jalan-jalan ke museum kayak gini. Jadi makin mengenal sejarah bangsa. Pengen juga ajak anak-anak ke museum deh.

    ReplyDelete
  25. Ada Pleret ya
    Saya kenalnya cuma Plered di Cirebon
    Hmm.. Sejarah memang sangat luas jika digali terus menerus

    ReplyDelete

Post a Comment

Keep in touch

Member of

Blogger Perempuan Kumpulan Emak-emak Blogger
Kompasianer Joga
Kompasianer Joga