Analisis Kegiatan Useless Pramuka Berdasarkan Pengalaman Pribadi

Berkemah. Dok : Pinterest

Disclaimer : tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi dan beberapa teman. Buat yang tidak sependapat, ya tidak masalah yang penting tidak menghujat di kolom komentar.

Pramuka, Keribetan yang Tiada Duanya Di Sekolah


Mendengar kata pramuka, yang terlintas di benakku adalah sebuah kegiatan ribet yang memakan biaya lebih. Keadaan ekonomi keluargaku saat itu dibawah rata-rata, untuk bisa sekolah saja kami sudah sangat bersyukur. Nah Ibu harus selalu menyisihkan uang lebih untuk kegiatan yang bernama pramuka. Kan pramuka harus pakai seragam, nah biasanya butuh tambahan uang dong untuk beli seragam pramuka. Beruntung kalau ada kakak kelas yang ngasih seragam pramuka bekas, bisa irit sedikit isi kantong ibu saat itu. Tapi tetap aja beli tongkat (ga mungkin kan pakai bambu yang ada di kebun 😂), beli tali, buku saku dan pernak pernik pramuka lainnya. Belum lagi kalau berkemah, harus bawa panci, wajan, tikar dan sebagainya kan ribet banget kayak orang mau pindahan rumah 🤔 belum lagi iurannya loh ya. Apalagi kalau waktu pulang berkemah kok ada barang yang hilang, dijamin ibu nyanyi 3 stanza plus 8 oktaf. 😂

Terus yang diajarin selama pramuka itu sependek pengetahuanku dan pengalamanku mengikuti kegiatan pramuka itu hanya baris berbaris dan persiapan berkemah. Teknik mainin bendera itu aku nggak diajarin, sandi-sandi juga enggak loh 😅. Ya ampun sekolah dimana sih aku dulu tuh? Jawabannya ada deh, kalau aku bilang ntar aku dikira mencemarkan nama baik. (UU ITE siap menjerat loh)
Aku kira sih cuma aku yang punya pandangan bahwa pramuka yang diajarkan di sekolah selama ini useless, tapi temanku juga ada yang sependapat.

Ekspektasi Pertama Waktu Kenal dengan Pramuka


Pramuka itu lambangnya tunas kelapa, harapannya kan tunas kelapa bisa tumbuh dimana saja. Nah pramuka diharapkan juga begitu. Ekspektasiku pertama kali mendengar pramuka adalah setiap anak bakalan diajarin P3K dan survival dengan keadaan alam yang tidak dibuat-buat. Beda dengan yang diadakan saat aku menjalani Persami di sekolah. Ya kali suruh lewat tengah kebun tebu, padahal ada jalan raya. Itu kan namanya dibuat-buat, kok ngeribetin sih. Untung yang punya ladang tebu nggak marah-marah.

Coba kalo aku yang punya ladang tebu terus tiba-tiba dilewatin anak pramuka, ya pasti aku marah-marah 😂.

Terus disuruh tiarap di sungai, lah ngapain ngotor-ngotorin baju kan ada jalan raya di dekat sungai. Tolong lah agak logis sedikit kalau mau ngajak anak pramuka untuk survive dengan keadaan alam. Misalnya aja langsung diterjunkan di tempat-tempat yang memang keadaannya mengharuskan anak-anak itu melewati kebun tebu atau tiarap melewati sungai karena tidak ada jalan lain. Aku yakin anak-anak pramuka pasti lebih kreatif untuk memikirkan jalan keluarnya saat harus melalui keadaan yang sebenarnya tanpa dibuat-buat. Ya bisa jadi dibilang the power of kepepet lah 😂, kalo pas kepepet tuh ada ide muncul dadakan.

Unek-Uneknya Lanjut Terus 


Nah, ada lagi sesi yang paling kuingat dan membekas sampai sekarang yaitu sesi pemaksaan makan GROWOL (makanan dari Kulon Progo, yang berasal dari singkong direndam air selama berhari-hari sampai menghasilkan pocoran. Terus diperas airnya, dan pocoran tadi dikukus. Jangan tanya baunya kayak apa). Entah tujuannya apa dengan adanya sesi makan growol. Tapi dengan bau yang tidak enak dan rasa yang tidak sedap ditambah habis dijemur diatas terik matahari kemudian dipaksa untuk memakannya, membuatku membenci growol sampai sekarang. Setiap mencium bau tidak enak mirip growol, aku pasti marah-marah sampai sekarang. Apalagi melihat wujudnya, rasanya ingin segera mengenyahkannya dari depan meja makan. Bukan cuma aku yang tidak suka growol kemudian melakukan hal-hal diluar nalar seperti ini, bapakku bahkan sampai demam karena pernah dipaksa makan growol. Hell yeah, pemaksaan seperti itu apakah bagian dari pramuka? Aku pikir bukan deh!


Jadi kalau dirangkum seumur hidup aku dapetin apa dari pramuka? Ya kayak yang diatas tadi, jawabannya aku mendapatkan RIBET dari kegiatan pramuka. Serius ga ada yang lain, cara-cara seperti tali temali atau mengobati orang terluka (P3K), aku dapatkan dari PMR. Terus kalau pengalaman survive itu aku dapatkan dari kehidupan merantau dan yang pastinya ngekos, bukan dari pramuka. 😅 The real life is begin ketika merantau!


The last, aku tidak lupa mengucapkan selamat hari pramuka. Semoga pendidikan di dalam gerakan pramuka lebih inovatif, logis dan berguna untuk masa depan anak-anak Indonesia. Mencontoh kegiatan kepanduan dari luar negeri itu nggak masalah kalau emang lebih bisa bermanfaat untuk kehidupan anak-anak selanjutnya. Kan katanya pramuka itu kayak cikal kelapa yang bisa tumbuh dimana aja, nah cara survive biar bisa tumbuh dan bermanfaat dimana-mana ini dong yang ditekankan. Bukan cuma ajang plonco-ploncoan dari senior ke junior!

Author

Niken Nawang Sari Niken Nawang Sari From history, we learn. Cause writing is healing.

4 comments

  1. Baca sambil ngakak aku Mbak. Kalau aku sih ada satu sisi positifnya, aku belajar mandiri bener2 dari ikut pramuka 😀 Tapi yg ribet2 itu masih sampai sekarang. sering nganter adek beli ini itu ubarampe pramuka. Gek biasanya disuruh bawa dadakan. Marakke jadwal agendaku berantakan *Ikutan curhat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah seneng ya bisa ambil sisi positif dari pramuka, nek aku blas ga punya mbak 🤣. Mandiri jg karena keadaan bukan karena pramuka je

      Delete
  2. Aku ga ikut pramuka mba hehe maklum daerahku dulu terpencil, jadi kegiatan itu blm masuk. Ada sih, tapi malah jadi kegiatan eksklusif utk anak-anak yg sekolah di kota. Jadi, ga punya pengalaman berkemah hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Leni dulu kecilnya dimana sih? Aku dulu waktu SD juga nggak ada pramuka karena di desa terpencil kok.😅

      Delete

Post a Comment

Keep in touch

Member of

Blogger Perempuan Kumpulan Emak-emak Blogger
Kompasianer Joga
Kompasianer Joga