Mau Pilih Bus Untuk Perjalanan Jauh? Perhatikan 3 Faktor Ini

Bus KYM Trans.
Dok : Lidya Trans

Banyak orang sering bilang pengalaman adalah guru yang terbaik. Emang bener sih, soalnya aku tidak begitu suka naik bus untuk perjalanan jauh juga hasil dari pengalaman. Pengalaman mudik waktu kecil masih sering menghantui waktu mau memilih bus jarak jauh. Bayanginnya tuh udah capek duluan, soalnya ketepatan waktu bus itu kan tergantung dari lalu lintas di jalan dan cara nyetir sopir bus satu dengan yang lain berbeda.

Beruntung kalau dapat supir yang nyetirnya enak, tapi kalau dapat yang sebaliknya nanti bisa kena mabuk perjalanan. Terus pengalamanku memilih transportasi pakai Traveloka juga karena selama ini tidak pernah mengecewakan dan tidak pakai ribet.

"Tenang aja aku tuh santai kok mau pake transportasi apapun, nggak kayak kamu Mi", kata Kanjeng Papi menjawab kekhawatiranku.


Jarak Pemberhentian Bus Dengan Tempat Tujuan




Seandainya tempat yang dituju Kanjeng Papi itu nggak jauh dari stasiun besar, mungkin aku akan memilihkan kereta api. Tapi jarak 30km dari stasiun besar itu lumayan jauh, makannya akhirnya pilih bus yang bisa menjangkau tempat tersebut.

Maksudku stasiun besar disini tuh stasiun tempat berhentinya kereta api jarak jauh, jadi ga cuma buat KA Lokal aja.

Nah kata seorang teman (yang tinggal di tempat tujuan Kanjeng Papi) itu sih ada kereta lokal, tapi kalau belum tau jadwalnya atau tidak bisa booking online kan malah bikin mikir ulang. Akhirnya pilihanku jatuh pada bus yang disediakan oleh aplikasi Traveloka. Satu-satunya operator bus yang disediakan Traveloka dari Jogja ke tempat tujuan Papi itu cuma KYM Trans. Padahal aku lihat di aplikasi lain kayak Pegi pegi dan Redbus ada banyak pilihan operator bus. Cuma karena emang aku masih memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi sama Traveloka, akhirnya aku urungkan niat untuk pakai aplikasi lain.

Faktor jarak tuh emang krusial banget, apalagi kalau pertama kali menginjakkan kaki di tempat baru. Ada baiknya sih cari yang paling dekat dengan tempat tujuan.

Setelah Kanjeng Papi ngobrol sama temannya, kemudian disarankan untuk turun di dekat exit tol. Nah aku memilih bus KYM Trans dari aplikasi Traveloka juga karena bus ini menurunkan penumpangnya di dekat exit tol tersebut. Sebelum memutuskan untuk pilih KYM Trans, aku langsung aku kepoin aja exit tol-nya pakai google maps. 😁 biar apa sih? Ya biar nggak khawatir kejauhan dari tempat tujuan.


Isi Dompet alias Harga



Faktor pendukung yang paling penting hingga akhirnya aku memilihkan bus untuk Kanjeng Papi itu adalah berkaitan dengan isi dompet. Harga tiket kereta api yang (katanya) subsidinya udah banyak dihapus itu kan sekarang lumayan banget walaupun kelas ekonomi, apalagi kalau pesennya agak mepet waktu keberangkatan pasti dapetnya mahal-mahal (jangan tanyakan harga tiket kereta yang luxury lho ya, nanti aku bisa nyesek doang liat digit angkanya 😢 soalnya harganya hampir sama kayak tiket pesawat rute Jakarta-Jogja). Makannya aku akhirnya memutuskan untuk pesen tiket bus aja untuk Kanjeng Papi.



Fasilitas Yang Diberikan




Sebagai istri yang sering kepo pake banget, akhirnya aku tanya-tanya terus ke Kanjeng Papi tentang fasilitas bus KYM Trans sesuai atau tidak dengan yang tertera di e-tiket dari Traveloka. Kalau melihat e-tiket yang diterbitkan oleh Traveloka sih fasilitasnya lengkap. Kenyataanya? Sampai tulisan ini dibuat sih cuma wifi aja yang tidak bisa digunakan. Setelah ditanyakan, kata co-driver tuh paketannya habis. Jadi harus mandiri, mengandalkan paket internet sendiri. 😅 Untung Kanjeng Papi masih punya kuota jadi masih bisa cerita-cerita ke aku sampai hasilnya terbitlah tulisan ini. 😁
Kupon makan Kanjeng Papi.
Dok : Kanjeng Papi


Suasana di dalam RM Sendang Wungu.
RM ini merupakan langganan
 beberapa operator bus.
Dok : Kanjeng Papi 

Btw cerita tentang pengalaman Kanjeng Papi menggunakan tiket bus yang dibeli dari Traveloka bakal aku tuliskan di artikel selanjutnya ya.Oh iya, tulisan ini tidak diendorse oleh Traveloka yajadi bukan sponsored post.




Author

Niken Nawang Sari Niken Nawang Sari From history, we learn. Cause writing is healing.

1 comment

Post a Comment

Keep in touch

Member of

Blogger Perempuan Kumpulan Emak-emak Blogger
Kompasianer Joga
Kompasianer Joga