Menapak Jejak Sejarah Melalui Serpihan Peninggalan Pabrik Gula Prembun

Tidak ada komentar
Polsek Prembun ini merupakan bangunan peninggalan pabrik gula Prembun yang masuh terawat
Polsek Prembun.
Dokpri


Beberapa hari yang lalu, aku pergi ke supermarket untuk berbelanja bulanan. Dengan sengaja, aku bergeser ke arah rak yang berisi gula pasir untuk sekedar cek harga dan betapa kagetnya ketika melihat harga gula pasir semakin melonjak naik. Sampai tulisan ini dibuat,  harga gula pasir di supermarket deket rumah mencapai 16.000 rupiah per kilo. Itu masih mending daripada di pasar yang harganya sangat fluktuatif, tukang sayur langganan cerita kalau harga gula pasir mencapai 19.000 per kilo.  

Ya ampun pengen lepas dari ketergantungan penggunaan gula aja rasanya๐Ÿ˜ช

Gula Pasir.
Dok : Halodoc

Keadaan negara kita yang dilanda wabah virus Covid-19  dan sebentar lagi memasuki bulan puasa emang sukses bikin harga gula semakin tinggi. Waktu di supermarket, aku menemukan beberapa orang yang berbelanja karena panik pandemi covid-19, namu ada juga yang berbelanja untuk kebutuhan bulan puasa. Dengan banyaknya permintaan akan gula sementara stok tidak mencukupi, otomatis bakal membuat stok gula semakin langka dan harganya melambung tinggi menyentuh angkasa. ๐Ÿ˜ช

Ngomongin soal gula yang harganya terus naik, aku jadi ingat pada masa pendudukan kolonial banyak berdiri pabrik gula di pulau Jawa. Salah satunya adalah Suikerfabriek Remboen (PG Prembun) yang pernah berdiri kokoh di ujung timur kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Menginjakkan Kaki di Prembun

Suasana kota Prembun,
Saat itu sedang ada galian gorong-gorong.
Dokpri

Prembun bagiku seperti kota transit, karena kereta yang dahulu sering aku tumpangi saat mudik berhenti di Kutoarjo. Jadi kalau sudah melewati stasiun Prembun, aku harus mempersiapkan diri dan barang bawaan untuk turun di stasiun Kutoarjo. Jadi untuk menginjakkan kaki di Prembun adalah kesempatan langka.

Pertama kali datang ke Prembun mungkin sekitar 9 tahun lalu saat seorang teman menikah. Sayangnya tidak ada waktu yang pas untuk menjelajahi kota kecil ini.

Beruntung sekali pada hari ibu di tahun 2019, aku diajak oleh Komunitas Roemah Toea menjejakkan kaki ke Prembun. Ngapain sih? Ya tentunya untuk mengikuti jelajah sejarah PG Prembun yang diadakan oleh Komunitas Pusaka Prembun (KUPU). Siraman sejarah seperti ini bagi keluarga kecilku adalah angin segar, sama seperti refreshing otak dan pikiran.

Sekitar jam 8 aku menginjakkan kaki di halaman Polsek Prembun. Suasana hiruk pikuk pasar yang ada di seberang jalan sudah tidak aku hiraukan, karena pemandangan di area polsek Prembun lebih mempesona. Jendela-jendela besar model krepyak masih dipertahankan,  lantai bermotif khas bangunan kolonial, pintu-pintu besar dan gabel-gabel kayu yang masih kokoh menandakan bahwa bangunan ini dahulunya merupakan bagian penting dari pabrik gula Prembun.

Sejarah Singkat PG Prembun

Bapak Teguh Hindarto
sedang menyampaikan materi.
Dokpri

Menurut bapak Teguh Hindarto , PG Prembun kemungkinan berdiri sebelum tahun 1982. Hal ini didasarkan pada sebuah iklan dalam harian De Locomotive yang terbit pada 26 Desember 1892 berisi lowongan pekerjaan masinis untuk PG Prembun.

Surat Kabar De Locomotive.
Dok : Teguh Hindarto


Sedangkan menurut mas Aga dari Roemah Toea,  pabrik gula mungkin didirkan sekitar tahun 1890 karena sudah ada target untuk beroperasi pada 4 Juni 1891. Kesulitan menentukan kapan pabrik gula berdiri merupakan suatu hal yang wajar saat menggali jejak sejarah pabrik gula yang peninggalan fisiknya sudah tidak ada. 

Letak SF Remboen di peta lama.
Dok : Widodo Groho (Pinterest)


Pada tahun 1926 bangunan pabrik gula Prembun direnovasi besar-besaran sehingga hasilnya seperti pada foto lawas dibawah ini.


Pabrik gula Prembun sempat berhenti beroperasi pada tahun 1933 (kemungkinan karena krisis global saat itu yang dinamakan malaise) tetapi kemudian beroperasi lagi pada tahun berikutnya. 
Bahkan ada sumber yang mengatakan pabrik gula berhenti beroperasi bersamaan dengan kedatangan bala tentara Dai Nippon ke Hindia Belanda yaitu tahun 1942.

Sisa-Sisa PG Prembun yang Masih Dapat Dijumpai


Kompleks Polsek Prembun

Polsek Prembun ini dekat jalan provinsi.
Dokpri

Seperti yang aku ceritakan di awal, pesona bangunan polsek ini sangat memukau. Ya iyalah kan masih dirawat oleh pihak kepolisian ๐Ÿ˜. Jendela-jendela krepyak, tegel bermotif, pintu besar dan gabel kayu adalah ciri khas bangunan indies yang ada di wilayah tropis . Sedikit penambahan dan rombakan pada bangunan tidak menghilangkan keindahan aslinya.

FYI, polsek Prembun ini dahulunya merupakan rumah administratur pabrik gula Prembun. Jadi bisa dibayangkan kemegahannya kan?
Bagian depan Polsek Prembun.
Dokpri

Jendela krepyak.
Dokpri

Jendela krepyak tertutup.
Dokpri


Nah di bagian belakang polsek masih terdapat sisa-sisa pondasi bangunan pendukung sekitar rumah administrateur pabrik gula. Kemudian ada sumur peninggalan rumah administrateur yang masih berfungsi sampai sekarang dan airnya masih dimanfaatkan oleh para anggota kepolisian yang tinggal di rumah dinas polsek Prembun.
Kalau melihat dari rumah-rumah indies yang pernah aku temui, biasanya antara rumah utama, dapur dan kamar mandi akan terpisah.
Salah satu bangunan
memiliki jendela kecil yang tinggi.
Dokpri

Sumur ini sudah ada sejak masa kolonial.
Dokpri

Gedung Dinsos Prembun


Kalau gedung Dinsos ini sebenarnya dari luar sudah tidak terlihat sebagai bangunan indies. Tetapi saat masuk ke dalam, ada beberapa bentuk jendela dan pintu yang menunjukkan bahwa bangunan ini merupakan bekas kantor pabrik gula Prembun.

Deretan Rumah Dinas eks PG Prembun

Rumah dinas eks PG dijadikan sarang walet.
Dokpri

Rumah-rumah indies yang ada di tengah-tengah rumah penduduk masih bisa kita lihat dari jalan raya. Bentuknya yang sangat berbeda dari rumah penduduk membuat kita mudah mengenali bangunan.
Rumah dinas eks PG
 yang masih difungsikan
sebagai tempat tiinggal.
Dokpri

Pada masanya rumah-rumah ini merupakan rumah dinas pabrik gula yang ditempati oleh para pejabat yang jabatannya dibawah administrateur pabrik. Kalau sekarang sih ada yang masih ditempati, ada yang hanya digunakan sebagai sarang burung walet dan ada yang dibiarkan rusak begitu saja.
Mas Aga dari Roemah Toea
Sedang menjelaskan rumah dinas
 eks PG Prembun.
Dokpri


Aku jadi ingat pak Waluyo yang menempati eks rumah dinas PG Kalasan. Beliau pernah bercerita bahwa renovasi rumah indies yang ditempatinya membutuhkan dana yang sangat banyak. Terutama untuk mendapatkan kayu jati gelondongan yang akan dipasang pada tulang atap.
Struktur rumah dinas eks PG.
Masih terlihat menggunakan kayu jati.
Dokpri

Mungkin karena biaya renovasi yang mahal ini juga membuat rumah-rumah dinas eks PG Prembun ada yang dibiarkan rusak. Tentu saja hal ini tidak bisa menjadi pembenaran, mungkin pemilik bisa mendaftarkan bangunannya kepada pemerintah daerah kemudian mendapatkan dana renovasi bangunan cagar budaya. Hal ini seperti yang dilakukan oleh pak Hersat seorang pemilik rumah indies di Kalasan, Yogyakarta.

Rumah dinas eks PG tidak terawat.
Dokpri

Tapi kembali lagi itu adalah keputusan pemilik dan pemangku kebijakan. Komunitas sejarah hanya membantu memberikan informasi atau memberi saran sebaiknya seperti apa memperlakukan peninggalan bersejarah.

Stasiun Prembun dan sekitarnya

Stasiun Prembun.
Dok : Heritage KAI


Menurut wikipedia, stasiun Prembun ini merupakan stasiun kelas III yang masuk ke dalam daerah operasional (Daop) V Purwokerto. Sampai saat ini stasiun melayani persusulan KA dan pemberhentian KA Bandara YIA (hanya menurunkan penumpang).  Ornamen pada atap stasiun masih terlihat otentik dan konstruksi bangunannya terlihat menggunakan kayu jati yang masih kokoh. Kesimpulannya stasiun Prembun ini bangunannya masih asli.

Bangunan ini diperkirakan sbg eks gudang stasiun.
Dokpri


Di balik pepohonan kelapa yang rimbun,  dekat dengan stasiun Prembun, tersimpan sisa-sisa kemegahan sebuah bangunan peninggalan kolonial. Jika melihat fungsinya, kemungkinan bangunan ini dulunya adalah gudang. Fisik bangunan sudah tidak utuh, atapnya sudah hilang entah kemana dan hanya meninggalkan tembok-tembok tinggi dengan susunan batu bata yang unik. Aku bisa membayangkan kesibukan yang dahulu pernah ada disini.

Struktur batu bata bangunan cantik tadi.
Dokpri


Kereta uap seperti Thomas & Friends (tontonan favorit si kecil ๐Ÿ˜) yang lalu lalang membawa berkarung-karung gula dari pabrik, gudang yang penuh dengan hasil panen yang akan didistribusikan menggunakan kereta uap, para pejabat kereta menggunakan seragam putih dan kuli angkut yang terlihat sibuk sekali membawa barang menggunakan karung. Pemandangan ini sangat kontras dengan kenyataan yang terjadi sekarang. Bangunan tua yang cantik  ini seolah menyembunyikan diri di balik rimbunnya pohon kelapa, menutup cerita masa lalunya dengan kesunyian.

Selain bangunan, masih sumur yang umurnya kurang lebih sama dengan bangunan. Sebenarnya masih bisa dimanfaatkan tetapi aku tidak menemukan warga yang memanfaatkan sumur tersebut.

Lokasi Pabrik Gula

Batu bata sisa-sisa pondasi
Pabrik Gula Prembun.
Dokpri


Melihat foto lawas pabrik gula dengan melihat kenyataan yang ada itu membuatku mengelus dada. Aku tidak mengira bahwa lokasi yang dahulunya merupakan bangunan inti pabrik kini berubah menjadi kolam ikan dan kebun milik warga. Bayangan kemegahan pabrik gula dengan luas 10 hektar ini sirna setelah melihat yang tersisa hanyalah bekas pondasi bata merah. ☹️

Gedung di Dalam Kompleks SMP 1 Prembun (eks Societeit)

Bangunan eks Societeit.
Terletak di dalam kompleks SMP 1 Prembun.
Dokpri

Beberapa hari ini di WAG ramai membicarakan bahwa gedung yang ada di dalam kompleks SMP 1 Prembun akan dirobohkan. Gedung ini dahulunya merupakan gedung Societet. Hal ini berdasarkan pada foto lawas yang menunjukkan fasad bangunan bagian depan sama dengan yang ada saat ini. Bahkan sesepuh desa bercerita dahulu gedung ini sering digunakan untuk makan para pegawai pabrik gula. Kalau gedung ini dirobohkan, semakin banyak bangunan bersejarah yang hilang di Prembun. ☹️

Lingkaran kuning itu bangunan yang menjadi polsek Prembun sekarang. Sedangkan lingkaran merah adalah bangunan di dalam SMP 1 Prembun.
Copyright : http://Collectie.wereldculturen.nl


Sebelum wacana merobohkan gedung ini bergulir, aku berpikir gedung ini aman karena letaknya di dalam kompleks SMP 1 Prembun. Tapi kenyataannya sama saja dengan bangunan-bangunan indies yang tersisa di luar sana, yang pada akhirnya hilang ditelan oleh perkembangan jaman.

Diskusi yang Bermanfaat

Foto bersama peserta jelajah heritage.
Dokpri

Jalan-jalan yang sungguh bermanfaat di Prembun akhirnya ditutup dengan diskusi. Banyak peserta yang antusias untuk mempelajari lebih lanjut mengenai bangunan-bangunan peninggalan pabrik gula Prembun dan semoga dapat dimanfaatkan sebagai potensi wisata sejarah, agar bangunan-bangunan peninggalan pabrik gula Prembun tidak rata dengan tanah.
Foto bersama setelah diskusi.
Dok : Dian Permatasari


Kalau bukti sejarah berupa bangunan itu hilang, nanti kita tidak bisa menceritakan tentang eksistensi pabrik gula kepada anak cucu. ☹️ Taunya stok gula pasir itu ya impor terus dari luar negeri karena produksi di dalam negeri tidak bisa mencukupi kebutuhan.

Ah seandainya pabrik-pabrik gula di Pulau Jawa masih banyak yang beroperasi, mungkin kelangkaan gula bisa diatasi secepatnya.




Tidak ada komentar