Jogja Yang Hilang : Menyingkap Jejak Pabrik Gula di Jogja

50 komentar


Gula yang mudah kita temukan dimana saja, ternyata punya sejarah yang sangat panjang namun dengan bukti minim. Sebuah pameran foto Suikerkultuur Jogja Yang Hilang dua tahun lalu, mampu memberikan gambaran tentang sejarah industri gula beserta bukti-bukti peninggalannya yang masih tersisa di Yogyakarta. Selanjutnya, Bentara Budaya Yogyakarta juga menyusun buku yang berjudul sama : Jogja Yang Hilang.


Gudeg, salah satu kuliner yang wajib dicoba saat main ke Jogja.
Dok : gudeg.net


Sudah pernah mencicipi kuliner dari Jogja seperti gudeg? Kalau udah pernah,  pasti nggak asing banget dengan cita rasa manis yang dominan.

Waktu pertama kali tinggal di Jogja, aku sempat kaget dengan cita rasa kulinernya yang cenderung manis. Lha wong sambel aja ada manis-manisnya kok. 😅

Bagaimanapun juga sepertinya manisnya gula tidak bisa terpisahkan dari (sebagian besar) kuliner Jogja. Yup, gula yang ada di meja kita ternyata punya sejarah yang sangat panjang. Namun sayangnya bukti-bukti sejarahnya minim. Seperti bangunan fisik bekas pabrik gula banyak yang sudah rata dengan tanah.

Ibu selalu bilang pokoknya pakai gula itu hukumnya wajib dalam setiap masakan, ben mantep! 😂

Pameran Foto : Jogja Yang Hilang

Suasana pameran foto Jogja yang Hilang.
Dokpri

Adalah sebuah pameran foto bertema "Jogja Yang Hilang" dua tahun lalu. Pameran foto ini mampu memberikan gambaran tentang sejarah industri gula, beserta bukti-bukti peninggalannya yang masih tersisa di Jogja. 

Pameran foto yang diinisiasi oleh Pak Hermanu, seorang kurator Bentara Budaya Yogyakarta ini bertujuan untuk menambah pengetahuan kepada generasi muda tentang kejayaan masa lalu pabrik gula di Yogyakarta yang hampir semuanya sudah rata dengan tanah. 

buku Twentieth Century Impression of 
Netherlands Indie,
sumber foto lawas pabrik gula.
Dokpri


Beliau mendapatkan dorongan kuat untuk memamerkan foto-foto lawas pabrik gula setelah melihat buku berjudul Twentieth Century Impression of Netherlands Indie  yang terbit pada tahun 1909. Dalam pelaksanaanya, beliau menggandeng komunitas Roemah Toea untuk mendokumentasikan keadaan terkini peninggalan pabrik gula yang masih tersisa di Jogja.

Museum Dirgantara Mandala eks PG Wonotjatoer.
Dokpri


Saat ini bangunan pabrik gula yang masih dimanfaatkan adalah eks PG Wonocatur, yang diubah menjadi museum Dirgantara Mandala. 

Sejarah Panjang Industi Gula di Jawa

Jogja punya banyak peninggalan dari masa Hindu-Buddha, yang berarti dari peninggalan-peninggalan tersebut kita dapat mengetahui sejarah panjang industri gula. Sebenarnya belum tepat kalau disebut industri, lebih tepatnya disebut produksi gula rumahan.

Produksi gula rumahan yang dikelola oleh rakyat ini kemudian dilirik oleh bangsa belanda, tepatnya saat Cornelis de Houtman menginjakkan kaki di pulau Jawa pada abad ke 17. Kemudian setelah VOC menancapkan kukunya di pulau Jawa, industri gula mulai dilirik. Bisa jadi hal tersebut merupakan awal dari industri gula di pulau Jawa yang kemudian mencapai puncaknya dengan produksi 2.000.000 ton dari 179 pabrik gula di pulau Jawa.

Nah untuk wilayah Vorstenlanden (Yogyakarta dan Surakarta) terdapat banyak pabrik gula besar yang beroperasi. Pada tahun 1921 terdapat 17 pabrik gula di Jogja dan 13 pabrik gula di Surakarta. Bahkan beberapa tahun kemudian jumlah pabrik gula di Jogja bertambah menjadi 19. Jadi tidak salah jika saat itu Jogja dijuluki sebagai Land of Sugar. Mulai dari sebelah barat ada PG Sewugalur, kemudian di selatan ada PG Pundong, di utara ada PG Medari dan di sebelah timur ada PG Randugunting.

Buku Suikerkultuur Jogja Yang Hilang

buku Jogja yang Hilang
karya Bentara Budaya Yogyakarta.
Dokpri

Setelah selesai dengan event pameran, Bentara Budaya Yogyakarta juga menyusun buku yang berjudul sama. Dalam buku ini dibahas perkembangan industri gula di pulau Jawa terutama di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain itu sejarah selalu berprinsip no data no history. Dalam buku ini disajikan data, foto lawas, dan foto terkini dari 19 pabrik gula yang pernah berdiri di Jogja.

Foto before after pabrik gula ada di dalam buku ini.
Dokpri


Tidak hanya membahas naik turunnya pamor pabrik gula, buku ini juga menyajikan hal-hal yang berkaitan dengan pabrik gula. Seperti bagaimana pengaruh keberadaan pabrik gula kepada masyarakat sekitar, pengaruh biro teknis E.Rombout pada pabrik gula di Jawa, para raja gula di Yogyakarta, kehancuran pabrik gula, masa pendudukan Jepang dan terakhir kesaksian Elvire Jenny Vernez, seorang survivor dari kamp internir eks pabrik gula Sewugalur.

Cerita tentang survivor kamp eks pabrik gula juga ada di dalam buku ini.
Dokpri


Masih penasaran? Yuk baca buku Jogja yang Hilang sampai tuntas. 

Sejarah Tidak Bisa Diceritakan Kepada Anak Cucu Tanpa Bukti Tertulis


Di dalam buku disajikan foto pabrik gula Sewugalur dulu dan sekarang.
Dokpri

Aku pernah blusukan ke kelurahan Karangsewu di Galur, Kulon Progo. Disana ada daerah yang dikenal dengan nama Mbabrik. Saat bercakap-cakap dengan warga, mereka mengaku tidak tau bahwa di Mbabrik dulunya berdiri pabrik gula bernama PG Sewoe Galoer.

Sebuah missing link sejarah seperti ini sering ditemui di masyarakat kita. Entah karena tidak adanya bukti tertulis atau sesepuh desanya sudah meninggal tanpa sempat bercerita mengenai asal usul daerah tersebut. 

Oleh karena itu aku sangat mengapresiasi Bentara Budaya yang akhirnya meluncurkan buku berjudul Jogja Yang Hilang sebagai upaya untuk meninggalkan jejak tertulis yang bermanfaat bagi generasi selanjutnya.  

Bagaimanapun juga pabrik-pabrik gula yang pernah berdiri di Yogyakarta ini memiliki kontribusi penting dan tidak dapat dihilangkan dari sejarah perkembangan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sejarah yang dituliskan tidak akan hilang ditelan oleh jaman, kecuali memang sengaja dihilangkan demi kepentingan tertentu. 


Niken Nawangsari
Ibu rumah tangga yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di bidang ekonomi, tinggal di Yogyakarta, suka nulis tentang lifestyle, sejarah, beauty dan traveling. Kadang suka masak kalau lagi good mood. Suka didemo 2 ekor kucing, karena kucing adalah bagian dari kehidupan

Related Posts

50 komentar

  1. wah aku malah belum ke museum dirgantara mandala
    padahal dulu pernah kos di Blok O
    penasaran sama bukunya
    pabrik gula memang jadi salah satu aset eks kerajaan mataram juga kan ya

    iya mbak masakan jogja emang manis
    aku awal dulu di sana harus menyesuaikan diri karena terbiasa dengan masakan jawa timur yang banyak petis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pada masa kerajaan Mataram belum ada pabrik gula mas, masih industri rumahan deh. Tapi emang udah jadi aset Mataram seingatku. Cuma ntar aku baca lagi deh di buku apa tuh ada statement seperti itu. Pabrik gula dibangun baru abad 19an kok seiring dengan kehadiran kereta api di pulau Jawa. Wah sayang banget ya waktu masih tinggal di Jogja ga main sekalian ke museum Dirgantara. Kapan-kapan disempatkan main ke Museum Dirgantara mas, sekalian mengenang kos-kosan. Hehe

      Btw bukunya ada di Bentara Budaya Yogyakarta, coba hubungi kesana aja Mas Ikrom mungkin masih ada stok.

      Btw Maturnuwun sudah mampir ke blog saya

      Hapus
  2. betul ya banyak pabrik gula yang gulung tikar, di cirebon saja sdh lebih dari 2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Jogja tinggal satu aja pabrik gula yang masih beroperasi Mbak. Namanya PG Madukismo yang didirikan HB IX diatas bekas pabrik gula era kolonial

      Hapus
  3. Naaah buku yang menuliskan sejarah gini aku suka banget. Pgn cari deh bukunya.. slalu menarik membaca ato mencari tau ttg sejarah tertentu. Apalagi kalo bukunya banyak disertai gambar dan foto. Jd lebih bisa membayangkan seperti apa dulunya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak foto sangat membantu untuk bayangin jaman dulunya seperti apa.

      Hapus
  4. Jadi kangen Jogja. Senangnya kalau jalan sambil belajar sejarah kaya gini. Kalau di Jepara, pabrik gula masih ada dan pernah ke sana. Cuma memang sederhana banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sini sini Mbak ke Jogja kalo covid-19 sudah enyah dari muka bumi 😁
      Oh di Jepara masih ada pabrik gula juga ya mbak?Wah kapan-kapan pengen kesana juga jadinya.

      Hapus
  5. Saya jadi penasaran dengan sejarah gula, khususnya di Jawa Tengah dan Jogja. Sepertinya banyak pabrik-pabrik gula yang sekarang menghilang, ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buanyaaaakkk mbak fasad bangunan PG yang udah hilang karena berbagai hal. Salah satunya masa pasca kemerdekaan tuh seperti dibumi hanguskan pejuang-pejuang kita soalnya dicurigai buat markas tentara NICA.

      Hapus
  6. Gula batunya bikin pengen nyeduh teh nasgitel pas pameran itu loh nik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau perlu dibawa setoples antiknya itu yo mbak 😂😂😂 duhhh gula batu pas banget nek buat teh nasgitel

      Hapus
  7. Betah saya baca artikel sejarah seperti ini.
    Rupanya blog mbak Niken ini memang banyak tulisan2 tentang sejarah dari masa lalu ya.
    Mesti saya follow nih! Hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah terima kasih mbak mau follow saya 😁😁 iya mbak saya soalnya suka sejarah

      Hapus
  8. Aku suka mba membaca buku sejarah sebuah kota mba. Dan ini menjadi pelajaran penting dan info buat generasi mendatang. Oh yogya pengen aku kembali lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak sejarah emang jadi pelajaran penting dan informasi untuk generasi mendatang. Sini sini main ke Jogja lagi mbak 😁

      Hapus
  9. Senang sekali kalau dengar cerita sejarah begini. Merasa dibawa ke masa lalu. Dulu ada nenek suka dengerin juga cerita sejarah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga dulu sering diceritain tentang sejarah sama nenek Mbak

      Hapus
  10. Jadi kangen Jogja, entah kapan aman ke sana huhu, untung ada bukunya ya jadi setidaknya ada jejak sejarah bahwa pabrik gula dulu pernah berjaya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya untung ada bukunya, kalau ga ada ntar mau cerita ke anak cucu gimana

      Hapus
  11. Kalo ingat Jogja pasti kangen sama gudegnya, rasa manisnya itu lho khas banget. Di Jombang pabrik gula masih berjalan dan berproduksi sampai sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah boleh dong kapan-kapan main ke Jombang

      Hapus
  12. Aku belum pernah ke museum Dirgantara Mandala, anakku malah yang udah pernah kesana. Ternyata dulunya bekas PG Wonocatur ya? Sejarah memang harus ada bukti otentik yang tercatat agar bisa dijadikan tempat menemukan kisah pada masanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ayo main ke museum Dirgantara Mbak 😁 iya untung aja eks PG ada di kompleks TNI AU jadi masih aman dari penjarahan/bumi hangus sehabis kemerdekaan.

      Hapus
  13. Jadi menggebu-gebu pengen segera ke Jogja, sudah buat rencana ke Jogja tahun ini tapi ambyar gegara Corona :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sabar Mbak ntar kalau corona udah pergi baru main ke Jogja.

      Hapus
  14. Generasi sekarang memang harus dicekokin sejarah biar tahu bahwa Indonesia pernah jaya dalam banyak hal terutama soal pembuatan gula merah. Dan ngomongin jogja aku jadi pengin gudeg asli jogja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau gula merah kebanyakan industri rumahan sih mbak, bukan dari pabrik gula.

      Hapus
  15. Ternyata di Jateng DIY cukup banyak ya ditemukan pabrik gula peninggalan kolonial, jadi bikin pengin bongkar2 buku sejarah untuk baca2 ttg pabrik gula

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Jogja & Solo yang paling banyak soalnya dulu disebut Vorstenlanden (tanah para raja) yang gampang disewa ama pengusaha perkebunan untuk bikin perkebunan atau pabrik.

      Hapus
  16. Belum pun mengetahui banyak tentang sejarah masa lalu termasuk bangunan-bangunan bersejarah, keraton, candi dan lainnya, saya sudah jatuh cinta dengan Jogja.

    BalasHapus
  17. Ya ampun. Aku liat gudeg itu jd kangen. Kemarin aku bikin gudeg jg di rumah. Nekat padahal dah tau keluargaku gak suka gudeg. Ya kangen sih. Loh kok malah bahas makanan sih aku? Wkkw.

    Btw, aku bari tau crt ttg pabrik gula ini. Blm pernah main lama di yogya. Cm pernah mampir dikit2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah seru banget tuh masak gudeg Mbak 😁 aku malah belum pernah masak gudeg sendiri. Kapan-kapan mainnya lebih lama lagi di Jogja dong Mbak, biar puas jalan-jalannya.

      Hapus
  18. Jogja adalah kota yang selalu saya kangenin, walaupun tidak terlalu suka dengan kulinernya yang serba manis. saya sukanya yang pedas,asin, dan sedikit asam. Kan saya sudah manis, hi-hi-hi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga kalo jauh dari Jogja suka kangen loh Mbak. 😅 Sama nih, aku kurang suka dg citarasa kuliner Jogja yang serba manis.

      Hapus
  19. Jadi bersejarah gitu ya mba tempat pabrik gulanya. Menjadikan pengingat diri dan orang lain juga ttg sejarah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak sebenarnya bersejarah tapi kan pecatatannya bergantung sama kepentingan tertentu. Padahal sejarah bisa jadi pengingat diri seperti kata Mbak tadi.

      Hapus
  20. Jogjakarta itu memang sarat sejarah ya..belum lagi budayanya yang begitu kental. Sukaaa ku tuuuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa Mbak disini masih kental budayanya walaupun banyak tantangan.

      Hapus
  21. Ternyata 'jejak gula' memang memiliki sejarah tersendiri ya bagi bangsa kita. Nggak cuma Jogja aja loh, Semarang pun punya rentetan kisah seputar pergerakan masyarakat di jaman pabrik gula masih berjaya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak apalagi Semarang dulu kan ada rumahnya Raja Gula se-Asia Tenggara masa kolonial ya. Pasti banyak cerita menarik disana.

      Hapus
  22. Aku pernah masuk ke Pabrik Gula Madukismo. Ikut tour pabriknya. Ngajak anak-anak. Dan di sana anak-anak dibolehin nyicipin gula yang baru jadi, fresh. Seneng banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah aku malah belum pernah masuk PG Madukismo mbak 😭 nangeessss

      Hapus
  23. Di desaku juga ada pabrik gula gede mba, tapi masih jadi milik swasta harusnya udah jadi cagar budaya dan bisa dilestarikan anak cucu tapi sekarang ditutup aksesnya kalau bukan pekerja ga boleh. Sekarang masih aktif giling. Banyak cerita horor di sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm sebenarnya untuk mengkategorikan bangunan itu layak jadi cagar budaya atau tidak tuh ada S&K-nya Mbak. Biasanya tim ahli cagar budaya (TACB) dari BPCB tuh yang bakalan meneliti. Hehe biasa kalau cerita horor emang sering membumbui bangunan-bangunan lawasan di negara kita.

      Hapus
  24. Sejarah itu penting banget agar kita tidak lupa asal muasal kehidupan di Indonesia.
    Jadi pengen menelusuri pabrik gula madukismo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak benar sekali, soalnya tanpa tau asal usul nanti bisa lupa sama sama identitas bangsa. Aku juga pengen menelusuri PG Maduskismo tapi katanya harus ijin tertulis ke pengurus PG.

      Hapus
  25. aku udah googling PG Sewoe Galoer dan ..
    wah senang banget bisa liat foto jadoel, keren

    BalasHapus
  26. menarik sekali mbk perkembangan Jogya ya, aku jadi kangen bisa ke Jogya lagi dengan berbagai banyak kisah di dalamnya

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email