3 Tips Menjalani Long Distance Marriage Saat Pandemi Covid-19

31 komentar

 

Tips Menjalani Long Distance Marriage Saat Pandemi
Menjalani kehidupan pernikahan yang terpisah oleh jarak itu tidak mudah.
Dok : Pixabay

Menjalani Long Distance Marriage (LDM) saat pandemi Covid-19 memang tidak mudah. Situasi yang serba sulit tanpa kepastian dan terpisah jarak dengan pasangan tetap harus dijalani. Berkumpul dengan pasangan dan anak-anak menjadi sesuatu yang langka. Tapi mau tidak mau harus dijalani demi masa depan.

Dok : Pixabay


Sebelumnya aku tidak pernah membayangkan akan menjalani hubungan pernikahan yang terpisahkan oleh jarak. Tetapi karena suami diterima bekerja di kota lain, mau tidak mau harus dijalani. Ditambah masa pandemi yang membuat mobilitas semakin terbatas, hasilnya tidak terasa sudah menjalani LDM selama satu tahun.

Kalau ada yang bertanya mau nyusul suami atau tidak, pasti jawabannya mau dong. Tetapi pandemi mengubah segalanya. Jadwal pindahan yang semula disusun secepat mungkin jadi tertunda sampai satu tahun. Logika bukan Yamaha harus semakin di depan daripada perasaan, supaya bisa mengadapi semuanya.

3 Tips Menjalani LDM Saat Pandemi Covid-19

Menjaga Komunikasi Dengan Pasangan

salah satu tips menjalani LDM adalah komunikasi yang berkualitas
Berkomunikasi dengan pasangan
bisa lewat media sosial.
 Dok : pixabay

Menurut Inez Kristanti, seorang clinical psycologist dan sexual educator di klinik Angsa Merah, kunci utama dalam keharmonisan rumah tangga adalah komunikasi (yang berkualitas). 

Situasi pandemi Covid-19 dapat mempengaruhi hubungan dengan pasangan. Pengaruhnya seperti apa? Tentu hanya kita dan pasangan yang tahu. Nah pengaruh tersebut sebaiknya segera dikomunikasikan.

Selama menjalani LDM, komunikasiku dengan suami justru semakin erat meskipun hanya melalui media social. Komunikasi bisa dimulai dari hal kecil seperti ucapan selamat pagi, selamat makan siang dan sebagainya. Kemudian tidak lupa untuk saling memberikan support, mendengarkan cerita sehari-hari yang dialami pasangan, mengutarakan perasaan yang dialami dan berdiskusi banyak banyak hal yang berkualitas.

Dengan komunikasi yang lancar, hubungan akan tetap terasa hangat meskipun jarak memisahkan.


Berusaha Menerima Keadaan

Tips kedua menjalani LDM adalah menerima keadaanTips kedua menjalani LDM adalah menerima keadaan
Menerima keadaan yang terpisahkan oleh jarak. 
Dok : Pixabay

Ketika virus covid-19 mulai menyebar, hal pertama yang aku lakukan adalah berusaha menerima keadaan. Awal-awal terasa berat karena semua rencana jadi tertunda. Tetapi kita tidak bisa mengubah keadaan semudah membalikkan telapak tangan. 

Manusia memiliki kemampuan beradaptasi, mau tidak mau kemampuan itu harus digunakan selama pandemi supaya roda kehidupan terus berputar.

Situasi pandemi berbahaya untuk kesehatan, jadi tidak perlu berjudi dengan keadaan atau bertaruh nyawa demi bertemu orang tersayang. Apalagi kalau sudah mempunyai buah hati, untuk nekat bertemu pasangan itu harus benar-benar dipikirkan.


Belajar Mengelola Stress

Tips ketiga yaitu mengelola stress
Ibu harus belajar mengelola stress saat LDM. 
Dok : Pixabay


Buat aku hal yang paling sulit saat menghadapi pandemi adalah mengelola stress. Awal-awal menjalani LDM tidak terlalu terasa karena mungkin aku terbiasa sendiri sejak sebelum menikah. Tetapi saat aku menjalaninya hampir satu tahun, baru terasa stressnya. 

Kadang bangun pagi terasa powerless, mau masak males, lihat sesuatu yang tidak sreg di hati ingin marah-marah dan sebagainya. Apalagi kalau si kecil rewel, huhft rasanya ingin membenturkan kepala di tembok saja.

Di saat-saat krusial seperti itu, aku mencoba untuk mengelola stress dengan mengurung diri di dalam kamar dan mengajak diri sendiri untuk berdiskusi. Bukankah ini resiko dari pilihan yang harus dijalani?, biasanya aku akan kembali menanyakan itu kepada diri sendiri saat mengurung diri di dalam kamar.

Selain itu biasanya aku memberikan pengertian kepada si kecil saat benar-benar ingin sendiri. Stress yang dipendam tentunya tidak baik untuk kesehatan mental seorang ibu. Apalagi kalau sudah punya buah hati ya, kesehatan mental ibu harus benar-benar diperhatikan.

Jika tingkat stress dirasa sudah tidak bisa dikelola oleh diri sendiri dan sangat menggangu aktifitas sehari-hari sebaiknya segera menemui tenaga profesional.

Temui tenaga professional ya, bukan yang ngaku-ngaku professional. Hehe    

Semoga beberapa tips yang aku tuliskan tadi bisa membantu para pejuang LDM dimanapun berada. Untuk para pejuang LDM, yuk sama-sama saling menguatkan dan berdoa semoga keadaan lekas membaik. Kita pasti bisa!

 

 

Niken Nawang Sari
Mom & Housewife, tinggal di Yogyakarta. Suka nulis tentang lifestyle, sejarah, beauty dan traveling. Kadang suka masak kalau lagi moodnya bagus. Suka didemo 2 ekor kucing.

Related Posts

31 komentar

  1. Nice info mba. Untungnya saya gak pernah menjalani ldm.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks Kak, oh syukurlah kalau tidak pernah LDM. Pokoknya di masa seperti sekarang harus banyak-banyak bersyukur. Hehe

      Hapus
  2. It is really a challenge ya mba untuk bisa terus berkomunikasi dengan baik d saat pandemi dan jalankan LDM

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes that's true mbak, really double challenge because LDM plus pandemic 😂

      Hapus
  3. Semamgaattt kak Nicken
    Aku juga LDM dan Alhamdulillah, karena piara kucing, jadi bisa rada ngurangin stres yak 🐱🐱🐱

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thankyou Kak Nurul, iya dengan kehadiran kucing lumayan ya ada yang diuyel-uyel. Aku juga sering kedatangan kucing stray di rumah lumayan menghibur.

      Hapus
  4. wah ini sama dg anakku, makasih tipsnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh kirain mbak Tira yang LDM, hehe. . Sama-sama mbak

      Hapus
  5. Bener banget, jangan strees dan tetap jaga komunikasi itu emang penting Mbak. Semngat semoga pandemi segera usai dan bisa ngumpul lagi sama suami ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak soalnya aku udah pernah ngerasain komunikasi kedua ortu ga bagus jadi dampaknya ke anak juga. Sekarang udah jadi orang tua sebisa mungkin komunikasi harus bagus demi hubungan yg sehat apalagi di tengah pandemi ya. Amin amin Terima kasih doanya mbak Febrianty.

      Hapus
  6. Tentu jadi pilihan yang tidak mudah, harus berjauhan dari yang dikasihi tapi terkadang keadaan memaksa demikian. Semoga keadaan lekas kembali membaik, dan ga LDM lagi ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak awalnya biasa aja tapi kerasa nggak mudah waktu udah mau setahun. Terima kasih doanya mbak

      Hapus
  7. Kalo LDM, aku sesekali menjalani karena kadang harus ke rumah ortu menemani ibu untuk merawat bapak. Sekalian silaturahmi dengan keluargaku juga. Biasanya LDM-nya seminggu aja sih dalam sebulan.

    BalasHapus
  8. Oh...kanjeng papi ne nimas luar kota to Ken sekarang? Aku malah nembe ngerti, tak kira masih di Jogja aja, sibuk sama tmn2 Kompasiana.

    Paling ga enak klo sendiri Ki klo pas anak sakit. Tapi semoga nimas sehat2 selalu yaa...dan bisa berkumpul bertiga lagi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak udah setahun ini Papi Nimas di luar kota. Tadinya enggak mau dicurhatin di blog tapi kok rasane ora cemeplong 🤣🤣. Amin amin Terima kasih doanya Mbak Sulis. Semoga keluarga mbak Sulis juga sehat selalu ya.

      Hapus
  9. i have been there and done that, alhamdulillah berhasil melaluinya dengan sangat baik, meski hanya 7 bulan tapi kami melewatinya hahaha keren deh, suka bangga sama diri sendiri

    BalasHapus
  10. Pandemi ini jadi semacam 'ujian' juga buat pasangan yang LDM. Aku belum nikah sih, tapi pernah jalanin LDR dan nggak berhasil ujungnya. Haha. Memang jaga komunikasi kunci utamanya ya, Mbak.

    BalasHapus
  11. Yeaay! Pejuang LDR juga sepertiku akibat pandemi, tooosss!

    Well for the first time, it's really hard for me. Tapi suami sih setiap 2 mingguan pulang mbake, dan buatku itu malah jadi kind of recreation, and fun!

    berasa kayak orang pacaran itu loh, mikirin nanti kalo pulang aku pake baju apa, masakin dia apa.. hahahhaha

    yang lucu anak anak, kalo papanya pulang mereka pasti mintaaaa MAKAAAN!

    BalasHapus
  12. Saling percaya dan senantiasa menjaga komunikasi yang baikb adalah koentji untuk menjalani Long Distance Relationship ya mba. Sementara Lungo Dewe Rapopo hehe..

    BalasHapus
  13. Saluttt sama para pejuang LDM. Apalagi di saat pandemi seperti sekarang, ya, bener-bener harus direm kangennya. Semangat Mbak Niken dan para pejuang LDM! Semoga akan segera ada kondisi yang membahagiakan buat semuanya :)

    BalasHapus
  14. Delapan tahun yang lalu saya juga menjalaninya, mbak. Beneran gak mudah dan gak mau lagi. Tapi lihat sikon juga karena LDM ini kadang-kadang gak bisa diduga kalau udah berkaitan dengan pekerjaan. Apapun itu, saya salut sama pasangan LDM. Semoga komitmennya kuat.

    BalasHapus
  15. Saya merasakan etul yang namanya belajar mengelola stress
    Siapa yang ga stress kalau terkena shock financial dimana buat makan aja sempat membuat kami bingung

    BalasHapus
  16. wah bermanfaat banget artikel ini mbak..
    bisa jadi referensi buat yg LDM
    klo aq dulu pernah LDM an, meski cuma 4 hari
    haha

    BalasHapus
  17. Thanks sharingnya mbak tentang LDM ini, meskipun saya belum pernah alami LDM. Hehe. Harus kuat segalanya yah untuk jalani LDM ini.

    BalasHapus
  18. Makasih sharingnya mba Nicken, alhamdulillah aku udah ga LDM mba. Semangat selalu ya Mba. Strong dan insyaAllah akan bersama lagi.

    BalasHapus
  19. Setuju pake banget, jangan sampai salah pilih tenaga profesional karena banyak yang ngaku profesional saat ini. Btw, semoga pandemi cepat berlalu biar kita semua yang berjauhan cepat berkumpul kembali

    BalasHapus
  20. Semoga segera berkumpul kembali yaa, kak..
    Aku jarang LDM, tapi sering ditinggal dinas beberapa hari keluar kota.
    Lama-lama menjadi terbiasa dan rasa rindunya kembali seperti saat pacaran dulu yaah...

    BalasHapus
  21. aku juga dulu pernah mengalami long distance merit gitu karena waktu itu suamiku kerja di luar negeri juga tapi Alhamdulillah lumayan sih uangnya

    BalasHapus
  22. Perjuangan bangett ya, Mbaak. Makanya aku salut banget sama temen2 yg udah ada nikah dan memilih untuk LDM. Banyak tantangan pasti.

    BalasHapus
  23. Aku pernah ngalamin LDM sebulan doang dan itu ngga enak banget! Alhamdulillah suami jg ngerasain hal yang sama. Dan dia ngalah buat keluar dari kerjaannya trs balik lagi ke indonesia.. huhu. Pas pandemi ini jg pasti banyak yang LDM yaaa, setuju banget sama tips diatas, komunikasi itu emang penting banget taaa

    BalasHapus
  24. Huhuhuhuhuhu, hebat ya pasutri LDR, kalau aku pernah merasakan LDR 1,5 bulan dan nggak lagi-lagi bisa LDRan lagi.. Jadi aku angkat 2 jempol yang bisa LDRan..

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email