Vaksin Covid-19 Aman, Jangan Sampai Terjebak Hoaks Kesehatan

 

Vaksin Covid-19 aman

Kemudahan akses informasi ternyata menimbulkan permasalahan baru di masyarakat. Salah satunya berita hoaks yang beredar melalui berbagai media. Masa pandemi Covid-19 seperti sekarang membuat permasalahan tersebut semakin rumit. Berita hoaks tentang kesehatan semakin banyak, terutama hoaks mengenai Covid-19 dan Vaksin Covid-19.

Menurut data Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) sudah ditemukan 1670 hoaks terkait Covid-19 sampai bulan Juni 2021. Oleh karena itu diperlukan peran aktif bersama untuk meningkatkan pemahaman masyarakat. 

Narasumber Webinar No Hoax :  Vaksi Aman, Hati Nyaman
Narasumber pada webinar No Hoax : Vaksin Aman, Hati Nyaman. 


Untuk memberikan edukasi dan sosialisasi vaksin kepada masyarakat, Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo (DJIKP Kominfo) bekerjasama dengan Fakultas Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pelita Harapan (UPH) mengadakan webinar yang berjudul “ No Hoax : Vaksin Aman, Hati Nyaman”. Webinar dilaksanakan pada Rabu, 14 Juli 2021, diikuti oleh peserta melalui aplikasi Zoom meeting dan disiarkan lewat kanal Youtube DJIKP Kominfo.

Acara webinar tersebut menghadirkan Prof.Dr.Widodo Muktiyo (Staf Ahli Menteri Kominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa, Kementrian Kominfo), dr.Siti Nadia Tarmizi, M.Epid.(Jubir Vaksinasi COVID-19 Kemenkes) dan Dr. Benedictus A. Simangunsong, S.IP., M.Si. (Ketua Prodi Magister Komunikas UPH). Selain itu, sambutan diberikan oleh Marsefio Sevyone Lukuhay, S.Sos., M.Si (Ketua Prodi Ilmu Komunikasi UPH) dan Drs.Bambang Gunawan,M.Si. (Direktur Informasi dan Komunikasi Polhukam, Kementrian Kominfo). 

Melalui sambutannya, Bambang Gunawan berpendapat upaya pencegahan dan penanganan Covid tidak akan berhasil apalbila tidak disertai dengan dukungan masyarakat melalui gerakan 3M. Internet tidak hanya menyuguhkan informasi positif, informasi hoaks juga banyak beredar tak terkecuali hoaks tentang vaksin Covid-19. 

“Generasi milenial harus cermat dan berani mengambil sikap melawan disinformasi dan hoaks,”kata Budi Gunawan dalam sambutannya.


Keadaan Masyarakat Indonesia Saat Ini

Tangkapan layar penjelasan Prof. Dr. Widodo Muktiyo tentang Rambu-rambu Hoaks. 

Pandemi Covid-19 membuat banyak perubahan dalam berbagai bidang. Ketidak pastian global semakin tinggi dan keadaan ekonomi tidak menentu. Pertumbuhan ekonomi Triwulan I-2021 masih kontraksi sebesar 0,47%. Nah setelah pandemi ternyata masih ada permasalahan besar yang menanti untuk dihadapi oleh bangsa ini yaitu resesi dan climate change

Oleh karena itu presiden memberikan arahan kepada Kominfo untuk melakukan 5 Langkah Percepat Transformasi Digital, salah satunya berisi tentang perluasan akses dan peningkatan infrastruktur digital dan penyediaan layanan internet.

Banyaknya informasi yang beredar di internet, membuat masyarakat bebas memilih informasi yang sesuai dengan keinginannya. Namun kondisi masyarakat yang belum memiliki literasi digital dengan baik seringkali menganggap bahwa segala sesuatu yang beredar di internet itu benar.

Informasi bohong (hoaks) banyak beredar dalam bentuk tulisan dan disalurkan melalui kanal media sosial. Tak terkecuali informasi hoaks tentang Covid-19 dan vaksin Covid-19. 

Sampai saat ini Kominfo sudah melakukan berbagai upaya pencegahan dan penindakan atas banyaknya berita hoaks yang beredar seperti meningkatkan literasi digital kepada masyarakat  terkait pemanfaatan media sosial dan internet.

“Melawan pandemi Covid dari waktu ke waktu sebetulnya kita tidak perlu menyalahkan karena ini adalah kerja bareng untuk melawan bersama-sama, jangan cari benar salah,” tegas Widodo Muktiyo.


Vaksin Covid-19 Dijamin Aman oleh Kemenkes

Strategi Kemenkes menghadapi lonjakan kasus Covid
Tangkapan layar zoom webinar tentang strategi Kemenkes menghadapi lonjakan kasus Covid. 

Dalam mendukung upaya pemerintah untuk menanggulangi pandemi Covid, Kementrian Kesehatan melakukan tiga strategi untuk menghadapi lonjakan kasus Covid-19 yaitu Deteksi,Terapeutik dan Vaksin. 

“Untuk mengetahui dan memeriksakan gejala lebih dini ini penting, dan jangan lagi ada persepsi takut di COVID-kan, karena kalau kita ada persepsin itu, maka kita tidak bisa memutus rantai penularan, kita akan terus mengalami kondisi seperti ini,” Siti Nadia

Menurut pemaparan dr. Siti Nadia Tarmizi, sepanjang masa padnemi Covid, masyakarat belum konsisten melakukan perilaku pencegahan. Sementara itu tingkat pengetahuan tentang gejala Covid di Indonesia masih termasuk rendah (< 15%), paparan akses sumber informasi yang kredibel juga rendah (<30%) dan 74% sudah mengetahui tentang vaksinasi namun 8% menolak vaksinasi yang disediakan pemerintah.

Sementara itu, ketersediaan vaksin di Indonesia yang semakin banyak diharapankan masyarakat juga semakin banyak yang menerima vaksin. Untuk melaksanakan vaksinasi, Kemenkes memiliki 4 strategi pelaksanaan yaitu berbasis faskes, berbasis institusi, vaksinasi massal di tempat dan vaksinasi massal bergerak.

Siti Nadia Tarmizi juga mengatakan bahwa Vaksin Covid-19 sudah mendapatkan ijin dari BPOM sehingga dijamin aman. 


Menjadi Warga Digital yang Baik di Masa Pandemi

Tangkapan layar zoom saat pemaparan mengenai warga digital yg baik.

Kemampuan dasar literasi digital adalah berpikir kritis, yaitu kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan membandingkan pesan dari media dengan sumber lainnya—De Abreu, 2011

Menghadapi masa pandemi Covid-19 yang serba sulit, ditambah dengan banyaknya berita hoaks yang beredar di media sosial terasa sangat menjengkelkan. Apalagi berita hoaks yang diserbarkan melalui broadcast message dalam grup whatsapp tanpa di cek dulu kebenarannya sering membuat gaduh. 

Hasil survey Program for Internasional Student Assesment yang dirilis OECD 2019 yang menempatkan literasi masyarakat Indonesia ada di ranking 62 dari 70 negara. 

Era post truth menyuguhkan dimana kebohongan bisa menjadi dipercaya tanpa memandang fakta. Dengan keadaan literasi yang rendah, berita hoaks tersebut akan mudah menyebar seperti spora di musim hujan. 

“ Kita masuk ke era yang namanya post truth, bahwa kebohongan yang diulang terus menerus, itu akan dianggap sebagai kebenaran. Ini yang kemudian menjadikan teknologi atau media menjadi alat yang sangat kuat untuk mempengaruhi orang lain,” ungkap Benedictus Simangunsong.

Beberapa hal yang tidak disadari saat menggunakan media adalah manipulasi informasi yang dapat mempengaruhi orang lain, termasuk manipulasi informasi vaksin Covid. 

Oleh karena itu diperlukan kolaborasi berbagai pihak untuk melawan infodemik dan memperkuat literasi digital antar komunitas/ individu. Penguatan literasi digital dapat dimulai dari lingkup terkecil seperti keluarga.

“karena semakin tinggi tingkat literasi seseorang, semakin mampu melihat berbagai macam dimensi dari konten yang diterima dan sebaliknya semakin rendah tingkat literas, semakin tidak mampu melihat berbagai macam dimensi dan konten yang diterimanya,” pungkas Benedictus dalam pemaparannya. 




Niken Nawang Sari
Mom & Housewife, sementara ini tinggal di planet Cikarang. Suka baca buku berbau sejarah dan nulis random. Kadang suka masak kalau lagi moodnya bagus dan sering didemo para kucing orens.

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email