Menelusuri Jejak Kerajaan Tarumanegara di Karawang

42 komentar

 

keindahan Candi Blandongan, peninggalan Kerajaan Tarumanegara. dokumen pribadi

Tak pernah terpikirkan bahwa daerah yang terkenal sebagai daerah industri ternyata menyimpan jejak sejarah. Sejarah besar dari sebuah kerajaan yang terkenal pada masanya. Jika mendengar kata Karawang, yang terlintas pasti kawasan industri, penuh dengan deretan pabrik dan truk besar. Namun saat menjejakkan kaki ke arah utara, tepatnya tidak jauh dari aliran Sungai Citarum, akan ditemukan kompleks percandian Batujaya yang menyimpan jejak Kerajaan Tarumanegara dengan baik.

Kompleks percandian Batujaya terletak di kecamatan Batujaya dan Pakisjaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Kawasan dengan luas 5 kilometer persegi yang ada di tengah persawahan warga ini memiliki beberapa warisan sejarah dari Kerajaan Tarumanegara. Warisan sejarah itu berupa candi-candi yang usianya sudah ratusan tahun, bahkan ada yang dikatakan sebagai candi tertua di Jawa Barat. Kompleks percandian yang bercorak buddha ini dibangun pada abad ke 7 masehi, masih dalam masa pemerintahan Kerajaan Tarumanegara yang beragama hindu.  

Dua candi yang terkenal dari kompleks percandian Batujaya adalah Candi Jiwa dan Candi Blandongan. Beberapa waktu yang lalu, kami berkesempatan mengunjungi keduanya sekaligus mengunjungi Museum Batujaya.

Jejak-jejak Kerajaan Tarumanegara di Karawang Bagian Utara

Perjalanan Menelusuri Jejak Tarumanegara Dimulai dari Cikarang

Awalnya tidak ada rencana untuk mengunjungi kompleks percandian Batujaya. Namun karena H-1  liputan sebuah acara di Jaksel tiba-tiba cancel tanpa penjelasan, mau tidak mau kami harus mengajak si kecil untuk jalan-jalan. Daripada bingung mau kemana, bosen masuk mall satu dan yang lain, akhirnya kami memutuskan untuk main ke kompleks percandian Batujaya. Tentu saja semuanya sudah dikepoin dulu melalui google maps, terutama tentang museum Batujaya yang merupakan pusat informasi dari kompleks percandian.

Perjalanan dimulai dari Cikarang Selatan, daerah industri yang gersang berdebu. Setelah berhasil menyebrangi pantura, perjalanan dilanjutkan melewati jalanan sempit dengan sungai kecil berwarna hitam. Rasanya ingin menyerah kalau mengingatnya, karena salah gerak sedikit bisa nyemplung selokan. Beruntung sekali Kanjeng Papi bisa diandalkan dalam menyetir mobil kecil. Tantangan selanjutnya adalah jalanan sempit berbatu, banyak perbaikan jalan, macet dan angkot. 

Astaga belum sampai candi saja rasanya sudah capek di jalan. Jalan baru terasa agak nyaman saat mendekati aliran sungai Citarum dan pemandangan mulai banyak sawahnya. Tapi tidak usah dibayangkan nyamannya seperti jalanan utama Bantul Kota ya. Disini tol aja kadang nggak mulus, apalagi jalan yang bukan tol.

Setelah menempuh jarak sekitar 80 km alias 2 jam berkendara dengan mobil, akhirnya kami sampai di depan Museum Batujaya.

 

Mengunjungi Museum Situs Cagar Budaya Percandian Batujaya

foto situs yang sudah dipugar, di museum Batujaya. dokpri


Saat mobil mulai masuk halaman museum, seorang petugas parkir berusia setengah baya menanyakan keperluan kami, kemudian mengarahkan ke loket. Untuk masuk kawasan museum, akan diminta menuliskan nama dan memberikan dana kebersihan seikhlasnya. Waktu itu aku memberikan uang sebesar Rp 5000 dan uang parkir mobil Rp 5000 saja. Sampai di dekat bangunan museum, tidak lupa mampir ke kamar mandi dulu. Untuk kamar mandinya kecil dan bersih, tidak perlu membayar lagi.

Tidak jauh dari kamar mandi inilah bangunan utama museum berdiri. Bangunannya kecil, mirip seperti kantor kelurahan namun bersih dan rapi. Ruang penyimpanan benda bersejarahnya juga kecil dengan sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik.

Awalnya kami ragu apakah museum masih buka atau tidak karena waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 .Namun seolah mengetahui isi pikiran kami, seorang petugas museum mempersilahkan kami masuk, sekaligus menjelaskan tentang koleksi museum. Beliau Bernama pak Nahyan/nayan, warga asli Batujaya yang bertugas di museum.

Sambutan hangat sangat berkesan bagi kami, seolah rasa capek menguap begitu saja. Ya manusia kadang hanya ingin disambut dengan hangat, bukan disambit dengan tatapan tajam meremehkan. Bertemu warga lokal yang ramah seperti pak Nayan membuatku seperti pulang ke rumah kedua, yang jejaknya hilang diterjang banjir dari sungai Citarum.

komponen stupa Candi Blandongan yang seperti bunga teratai. dokpri


Menurut penjelasan pak Nayan, koleksi museum tidak hanya yang berasal dari Kawasan percandian Batujaya saja. Museum kecil ini menyimpan berbagai batu candi, arca, potongan kaki arca, alat tukar, gerabah, keramik dan fosil manusia purba. Dari situs kemendikbud dan penelitian bapak Hasan Djafar diketahui bahwa fosil manusia purba berasal dari abad ke 2 Masehi, jadi kompleks percandian Batujaya dibangun diatas Kawasan pemakaman.

Pada dinding juga terdapat informasi mengenai situs yang digali di Kawasan percandian Batujaya, walaupun sudah terlihat usang. Beberapa informasi dan foto yang tertempel di dinding museum, rasanya harus diperbaharui supaya tidak terkesan suram.

Tidak jauh dari museum, kemegahan candi berbahan batu bata itu sudah terlihat.

 

Candi Jiwa, Candi Tertua di Jawa Barat

Candi Jiwa, candi tertua di Jawa Barat. dokpri

Dari penuturan pak Nayan, Candi Jiwa dulunya berupa gundukan tanah yang membentuk bukit. Bahkan saat beliau masih kecil sering dinasehatin kakek neneknya supaya tidak menggembala kambing sampai disana karena kambing akan mati setelah melewati bukit tersebut.

Menurut informasi dari website Disbudpar Provinsi Jawa Barat, candi jiwa ditemukan pada tahun 1984 dan mulai diteliti oleh jurusan arkeologi UI pada tahun 1985. Candi buddha yang terbuat dari batu bata merah ini dibangun pada abad ke 7 Masehi. Bentuk candi Jiwa cenderung bujur sangkar, tidak menjulang tinggi, dan stupanya diperkirakan mirip dengan bunga Teratai yang mekar diatas air. dari keterangan pak Nayan, Candi Jiwa dibangun pada masa kerajaan Tarumanegara karena adanya pengaruh dari Kerajaan Sriwijaya.

cara menikmati keindahan Candi Jiwa. dokpri


Saat ini keindahan candi Jiwa hanya bisa dinikmati dari luar pagar, karena waktu kesana pagarnya digembok. Mungkin untuk menghindari tangan-tangan jahil dan masih dalam penelitian juga kali ya. Angin sore yang berhembus dan hijaunya hamparan padi di sawah menurutku sudah cukup untuk menikmati keindahan candi Jiwa yang usianya ratusan tahun. Belum selesai menikmati keindahan candi Jiwa, mataku menangkap sebuah candi yang terlihat lebih besar di sisi yang lain.

 

Candi Blandongan Masih Terlihat Gagah

Candi Blandongan, lebih besar dari Candi Jiwa. dokpri


Letak candi Blandongan hanya 100 meter dari Candi Jiwa, namun sudah masuk kecamatan Pakisjaya jadi beda pengurusnya dengan Candi Jiwa dan Museum Batujaya. Memasuki candi Blandongan, akan diminta menuliskan nama dan uang kebersihan di pintu masuk. Candi Blandongan merupakan candi buddha yang dibangun dari batu bata merah. Candi ini secara khusus diteliti pada tahun 1993 dan sampai sekarang kawasan percandian Batujaya masih menjadi lahan okupansi penelitian.

Dari beberapa penemuan di Kawasan percandian, Candi Blandongan inilah yang memiliki data kepurbakalaan paling lengkap. Candi Blandongan berbentuk persegi dengan ukuran 25x25 meter, lebih besar dari Candi Jiwa. Bentuk candi ini mirip dengan punden berundak dengan ukuran bagian tengahnya 10x10 meter. Untuk bagian atas sudah hilang, namun diduga bagian atasnya berupa stupa.

Saat ekskavasi tahun 1999-2013 di Candi Blandongan ditemukan amulet, vovite tablet, arca buddha dan gerabah. Dari hasil penelitian melalui carbon dating, Candi Blandongan dibangun pada abad ke 7 Masehi.

menikmati sore di sekitar Candi Blandongan.dokpri


Menikmati sore di candi Blandongan memang terasa menyenangkan, apalagi di pinggiran candi terdapat hamparan bunga dan rerumputan yang cocok untuk duduk santai. Namun jangan lupa waktu saat bersantai disini karena Kawasan candi ditutup pukul 17.30.

FYI, pengunjung tidak boleh naik ke candi ya, jadi nikmatin aja pemandangannya dari rerumputan.

 

Worth It Nggak Main ke Kompleks Percandian Batujaya?

Sebagai orang yang suka sejarah, menurutku worth it banget main ke kompleks percandian Batujaya karena kita bisa belajar tentang peninggalan Kerajaan Tarumanegara, yang dulu hanya bisa dilihat di buku.  Selain itu disini cocok untuk healing, menikmati sore yang jauh dari kebisingan.

Namun beberapa hal yang harus dipertimbangkan saat main kesini adalah perjalanannya yang cukup menguras waktu, energi dan biaya. Tapi untuk biaya kebersihan dan parkir masih masuk akal kok, tidak overpriced dan berlebihan. Disini juga sambutan warganya hangat dan santun, apalagi kalau kamu bisa bahasa sunda halus. Istilahnya masih memanusiakan manusia, tidak memandang sebelah mata kepada pengunjung yang datang.

bonus foto : Kanjeng Papi healing lewat tengah sawah. dokpri


42 komentar

  1. Candi yg tersembunyi gini kadang terlihat seperti tumpukan batu yg tersusun rapi ya mbak.

    Btw itu photo boom gadis kecil berambut sepinggang Nimas ya itu mbak. Wes duwur banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dulu sih kayak gundukan bukit mbak, terus dibongkar saat penelitian tenyata candi dari batu bata. Kalau di museumnya dijelaskan sama pak Nayan tuh lock batu candinya seperti apa supaya bisa tersusun rapi.

      iya mbak itu Nimas udah besar.

      Hapus
  2. Aku malah baru tahu di karawang ada kompleks candi selain wilayah industri. Sudah gitu kompleksnya terawat sekali. Apalagi yang di area hijau kaya di batujaya ini, keren! Semoga kompleks percandian itu tetap terawat buat edukasi anak² ya ❤️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak alhamdulillah masyarakatnya juga kompak untuk menjaga peninggalan leluhur mereka jadi kompleksnya terawat dengan baik. Kebetulan kesana waktu padinya masih hijau jadi keren pemandangannya.

      Hapus
  3. Aq juga seneng nih main ke candi-candi. Ada banyak hikmah yang bisa diperoleh. Terpenting kita bisa belajar sejarah sambil liburan

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul sekali Kak, main sambil belajar kalau ke Candi tuh.

      Hapus
  4. Kompleks percandian Batujaya dibangun diatas Kawasan pemakaman ... waah ... misteri ini ... cocok jadi tempat shooting bagiorang2 yang menyukai tantangan.

    Sayangnya candi Jiwa hanya bisa dinikmati dari luar pagar ya .... ini juga bikin penasaran. Menariknya, untuk masuk ke lokasi ini bayarannya murah ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngga cocok sih buat shooting karena disini masih wilayah penelitian dari kampus UI dan rekanannya, makamnya juga dari abad ke 2 karena ada bukti penemuan fosil manusia purba.

      Hapus
  5. Ini candi baru ya, good info. Mungkin satu hari nanti kalau aku ke Jabar, bisa mampir ke kompleks candi batujaya ini. Terima kasih sdh berbagi cerita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak kak, ditemukan sejak tahun 80an tapi mungkin karena kurang terkenal jadi tidak banyak yang tau.

      Hapus
  6. Saya sudah beberapa kali baca tentang Candi yang ada di Karawang ini, jadi semakin penasaran buat pergi ke sana, apalagi kayaknya ni Candi tidak seterkenal Candi-Candi lain yang ada di Jawa Tengah atau pun Timur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar sekali Kak, candi di Jawa Barat tidak seterkenal candi-candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur jadi sedikit yang berkunjung. Kalau untuk Candi Blandongan dan Candi Jiwa juga stupanya sudah hilang dan tidak menjulang tinggi jadi "mungkin" terlihat kurang menarik.

      Hapus
  7. Rupanya di Karawang ada candi juga ya, rupanya wilayah kekuasaan kerajaan Tarumanegara sampai sana juga. Aku sih setuju ya wilayah candinya diberi pagar seperti ini. Soalnya tindakan vandalisme saat ini memang sangat parah, efeknya membuat situs sejarah bisa rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul sekali Kak, perawatan bangunan candi juga pasti makan banyak waktu dan biaya kalau sampai rusak repot sekali ya.

      Hapus
  8. kak kamu gak kaget sendirian, aku pun bacanya terkaget-kaget lah karawang ada kawasan candi juga, tidak terduga sekali. menyenangkan yah kak kalau memang suka dengan wisata sejarah walaupun tempatnya mungkin tidak sesuai dengan ekspektasi, cukup ramai dikunjungi gak sih kak ini tempatnya ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak sampai sekarang masih terkaget-kaget karena Karawang identik dengan kota industri. Waktu kesana suasananya cukup ramai, banyak anak-anak muda pada main ke Candi di sore hari. Tapi entah ya kalau weekdays, soalnya aku kesana di hari Sabtu.

      Hapus
  9. Tak terduga banget ada wisata candi di kabupaten Karawang. Mungkin lebih nyaman kalau naik motor saja ya. Candinya lumayan, apalagi sawah-sawahnya, mengingatkanku dengan Candi Sambisari.

    Btw kok sebut-sebut Bantul Kota segala? Mbak dari Bantul? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak sebenarnya enak naik motor tapi kalau dari Cikarang Selatan kesana bisa gempor dijalan karena jauh banget. Aku sebut Bantul karena jalan kesana mirip dengan jalan Bantul kota, deket rumah pakdhe. hehe

      Hapus
  10. Aku lagi bikin artikel soal candi candi yang ada di Jawa Barat, dan salah satunya yang ada di komplek percandian Batujaya ini

    BalasHapus
  11. Sama kayak beberapa teman yang lain, saya juga termasuk yang baru tahu kalo di daerah Karawang ada candi peninggalan sejarah kerjaan Tarumanagara ini. Tempatnya agak spooky gitu ga sih mba,secara tempat ini dibangun diatas pemakaman dan pengunjungnya kayaknya ga terlalu banyak ya? dan btw saya salfok sama panggilan mba Nicken ke suaminya, ada kanjengnya hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak spooky sama sekali mbak karena di tengah sawah warga candinya, cuma kalau sudah denger penjelasan pengelola museum malah jadi spooky sendiri.

      Hapus
  12. Zaman sekolah pernah study tour ke Karawang. Tapi, wisata sejarah kemerdekaan ke Rengasdengklok. Baru tau kalau ada wisata jejak kerajaan Tarumanegara di sini. Kalau pakai kendaraan umum, gampang gak aksesnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku sedang berencana ke Rengasdengklok juga mbak, tapi mengingat jalannya kok kecil-kecil gitu jadi entah kapan kesana. huhu aksesnya sungguh tidak mudah, sepertinya nggak ada kendaraan umum juga. Kalau ada pun angkot yang udah mirip decepticons itu wkwk.

      Hapus
  13. Sejujurnya, sejarah Indonesia yang paling gak aku pahami pas era Kerajaan.
    Dari mana sampai mana wilayah kekuasaannya. Dan bayangan di otakku tuh dulu Indonesia apa gak ada lautan gitu yaa.. masih tanah datar semua?
    Huhu..maafkan pertanyaan randomku.

    Sungguh berharap bisa memahami lebih dalam lagi ketika bermain ke situs candi Kerajaan Tarumanegara di Karawang ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bayangin mah boleh aja Teh hehehhe aku juga ga tau dulu Indonesia kayak gimana di abad 7 Masehi.

      Hapus
  14. Baru tau kalau ada candi di Kerawang. Moga bisa ke sana. Ternyata yang disebut candi itu tidak melulu berukuran besar seperti borobudur ya mbak 😁.

    BalasHapus
  15. seru sekali wisata dan menyusuri candi. terlebih bentuknya unik, rata begitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru banget mbak apalagi untuk pecinta sejarah seperti aku.

      Hapus
  16. Dulu aku pernah ke Karawang juga tapi main ke curug dan masjid. Ternyata di Karawang banyak candi-candi juga ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah sharing dong kak main ke Curug mana nih di Karawang.

      Hapus
  17. Akutuh seneng lho jalan-jalan ke candi, seru aja gitu belajar sejarah sambil membayangkan pada masa kejayaan candi itu seperti apa suasananya. Sayang banget keluargaku pada ogah-ogahan kalau diajak jalan ke candi kaya gini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin next time bisa main sendiri kesini mbak hehe

      Hapus
  18. Saya antusias banget setiap bahas tentang sejarah, nih, Kak. Wisata kayak gini healing-nya dapet ya edukasinya juga. Semoga bisa ke sini satu hari nanti.

    BalasHapus
  19. Oh seperti ini bukti sejarah kerajaan tarumanegara, taunya di buku aja pas sma. Seru juga ya berkunjung ke candi gitu, serasa hidup di zaman bertahun-tahun yang lalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak aku juga dulu hanya tau pas baca buku sejarah, kebetulan suka baca.

      Hapus
  20. Tau kerajaan tarumanegara hanya pas belajar sejarah waktu sekolah. Ternyata ada jejak peninggalannya ya. Bagus nih mbak ada artikel membahas tempat-tempat bersejarah yang dulunya hanya tau dari buku. Moga-moga banyak masyarakat yang juga pengen berwisata ke sini. Berwisata sekalian belajar sejarah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mbak, amin amin semoga banyak yang berkunjung ke kompleks percandian Batujaya ya.

      Hapus
  21. Baru tahu kalau di Krawang ada candi, 2 pula. Ternyata candinya kecil ya, tidak seperti Borobudur yang megah dan besar. Sayang ya kita tidak bisa masuk untuk memegang batu-batunya. Mungkin khawatir ada tangan-tangan jahil. Moga saya bisa berkunjung ke sana

    #Maaf ya mbak tidak tahu kenapa saya komennya kok tidak masuk. Moga kali ini masuk ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkomentar ya kak, komentar kakak masuk kok. Candi disini memang tidak sebesar borobudur hehe

      Hapus