Catatan Pelengkap di Penghujung Tahun


Turis asing di Jogja.
Dok : harian jogja

Udara dingin pagi ini masuk melewati celah-celah ventilasi rumah, menjadi alarm tersendiri untuk mengawali hari terakhir di tahun 2019. Udara dingin juga membuat tubuhku bereaksi, yaitu berupa bersin terus menerus sampai nanti saatnya berhenti, waktu sinar matahari mulai menampakkan diri.

Ketika udara dingin mulai tergantikan oleh kehangatan sinar matahari, saat itulah aku akan memulai aktifitas rutin berupa memindahkan jemuran baju ke depan rumah biar cepat kering. Ya sebagai ibu rumah tangga, berlomba menjemur baju dibawah pancaran sinar sang surya itu adalah prioritas. Soalnya kalau baju nggak kering di musim hujan kayak gini kan bau, apalagi kalau pewangi yang menghilangkan bau apek itu lagi nggak diskon. Bisa-bisa bau apek memenuhi seisi kamar baju. Eh tapi disini aku nggak akan cerita soal jemuran baju sih sebenarnya. πŸ˜…

Jadi begini, beberapa kejadian yang entah itu agak menguras emosi, kesel dan sebagainya sebagai pelengkap akhir tahun 2019 tuh pengen aku tumpahkan melalui tulisan. Iyalah dari pada cerita ke tetangga nanti malah nyebar kemana-mana dengan berbagai versi, atau malah tanggapannya enggak nyambung sama yang aku ceritakan juga bisa jadi, bisa jadi. Oke skip this part!

Membantu Turis Asing


Kejadian pertama yang bikin pikiran jadi lelah dan tidak bisa tidur nyenyak adalah saat berusaha nolongin orang, malah kita yang ikut mikir keribetan-keribetan dan nyari solusinya juga. Itu sukses membuat tidur kami tidak nyenyak, padahal keesokannya kami harus beraktifitas ke kota lain.

Pegunungan Menoreh.
Rumah ibu
 terletak di lereng pegunungan ini.
 Dok : wikipedia

Ceritanya waktu di tempat ibu, selepas magrib pintu rumah diketuk oleh seseorang berkaos biru bersama 2 orang turis asing yang kebingungan mencari homestay. Kebingungan kedua turis asing semakin bertambah saat warga lokal yang ditemui mengaku tidak bisa berbahasa inggris.


Sebenarnya mungkin bukan karena tidak bisa, tapi lebih ke tidak biasa berbahasa inggris terus jadi malu mau bantu turisnya. 

Beruntung sekali Kanjeng Papi (suamiku) punya mental pemberani, ya Kanjeng Papi langsung menyalami kedua turis dan menanyakan apa yang bisa dibantu. Sementara aku yang kadar keberaniannya jauh dibawah level Kanjeng Papi hanya bisa mengkeret di pojokan sambil bingung mau support bantu yang bagaimana. Walaupun aku udah pernah les bahasa inggris dan sedikit mencicipi pelatihan pemandu wisata, kadang kalau dihadapkan sama kejadian kayak gini ya level keberanian untuk ngobrol sama turis asing tuh langsung melorot tajam. Emang dasarnya aku nggak pede sih kalo ketemu orang baru, apalagi turis asingπŸ˜…

Mengantar ke Homestay

Homestay.
Dok : Surga Tersembunyi

Ternyata turis asing tadi mencari homestay yang sudah mereka bayar lunas melalui salah satu aplikasi travel online di internet (sebut saja agen A). Dia menunjukkan foto-foto homestay yang sudah dibooking tersebut dan beruntung sekali ibu tau tempatnya. Kanjeng Papi langsung mengantarkan kedua turis ke homestay tersebut. Aku pikir selesai dong urusannya dan kedua turis asal Republik Belarus itu bisa beristirahat. Soalnya dari raut muka mereka terlihat wajah-wajah yang sudah terlalu lelah mengarungi tempat wisata.

Awal Keribetan yang Bikin Nggak Bisa Tidur Nyenyak


Eh ternyata ini adalah awal dimana keribetan-keribetan lain mengikuti. Pemilik homestay menyatakan bahwa homestaynya hanya bekerjasama dengan agen travel online berlogo burung terbang, bukan dengan agen A yang dipakai kedua turis. Aku dan kanjeng Papi mencoba berusaha menjelaskan kepada kedua turis. Tetapi kedua turis memberikan skrinsut kode booking yang sudah didapat dari agen A dan pembayarannya sudah sukses.


Sempat bingung juga karena saat lihat skrinsut email ada huruf kiril rusia, tapi kode booking terlihat jelas dan body text pada email menggunakan bahasa inggris. Confirmed and Complete berarti kan udah dibayar. 

Kami kembali menjelaskan kepada pemilik homestay yang merasa bingung karena belum bekerjasama dengan agem A. Btw seharusnya pemilik homestay ini menikmati masa pensiunnya dengan duduk santai. 😁 Kendala ini kemudian membuat pemilik homestay menelepon putranya, tetapi jawabannya sama bahwa tidak ada kerjasama dengan agen A.

Terjebak


Kami terjebak antara bagaimana menyampaikan kepada kedua turis dan bagaimana bernegosiasi dengan pemilik.

"Lha mangke terus pripun, mlebet rekening sinten pembayarane?", Tanya sang pemilik saat itu.

" Can I get hot water for make a tea?", pinta turis asing yang merasa sangat lelah.

Pusing kan kalau terjebak kayak gini, tapi di satu sisi kasian kalau tiba-tiba kami tinggalkan begitu saja. Soalnya nanti menyangkut reputasi homestay dan bahkan bisa merambah ke reputasi tempat wisata tersebut.

Pemilik homestay mengaku tidak bisa berbahasa inggris. Sementara putranya (yang memasukkan homestay ke travel berlogo burung terbang) juga stay di kota yang jaraknya kira-kira 20 menit dari homestay. Disitu kami bingung harus diskusi sama siapa lagi, sementara kedua turis sudah kelelahan melihat kami berdiskusi dengan pemilik homestay sejak tadi.

Hal yang paling menguras emosi adalah pihak penanggung jawab wisata tidak bisa dihubungi untuk kondisi seperti ini. Padahal setiap homestay milik warga pasti diketahui oleh pengelola tempat wisata.

Negosiasi Berjalan Lambat


Negosiasi berjalan sangat lambat seperti jarum jam yang berat untuk berpindah. Kanjeng Papi berusaha memberikan pengertian dan solusi kepada putra pemilik homestay. Salah satunya untuk menghubungi customer service agen A supaya semuanya jelas. Karena tanpa ada pihak yang memasukkan foto-foto homestay tersebut ke agen travel A, tidak mungkin tiba-tiba homestay tersebut nongol di agen travel A.

Aku sempat cek google tentang homestay ini dan harga yang pertama muncul memang harga yang ditawarkan oleh Agen A. 


Sementara itu turis tentu tidak mau membayar lagi karena saldo di kartunya sudah terpotong oleh pembayaran homestay melalui agen A.

Saat jarum jam mendekati angka 9, akhirnya putra pemilik homestay memutuskan untuk menerima kedua turis asing terlebih dahulu. Kami sedikit bernapas lega, akhirnya kami meninggalkan kedua turis untuk beristirahat di homestay.

Kalau kami punya rumah disana, tentu kami akan menawarkan untuk menginap turis tersebut. 

Keruwetan Belum Selesai


Namun keruwetan tadi belum selesai, putra pemilik homestay belum paham bagaimana bisa homestaynya ada di agen A padahal dia hanya mendaftarkan ke agen burung terbang. Solusi yang kami berikan sepertinya belum bisa digunakan secara maksimal.

Jadi pertanyaanya siapa yang memasukkan homestay ini ke agen A? Sampai aku pulang ke Jogja, aku tidak tau jawabannya.


Author

Niken Nawang Sari Niken Nawang Sari From history, we learn. Cause writing is healing.

Post a Comment

Keep in touch

Member of

Blogger Perempuan Kumpulan Emak-emak Blogger
Kompasianer Joga
Kompasianer Joga