Esensi Mengenang Satu Tahun Wafatnya Simbah Kakung pun Berubah

Dok : Pixabay


Hujan telah usai, tetapi hawa dingin masih tetap tertinggal. Aku yang sudah bersiap untuk tidur masih teringat dengan sindiran di whatsapp grup keluarga. Kalau tidak karena hutang budi yang harus aku bawa sampai mati, mungkin aku bisa saja memaki. Tetapi hutang budi (yang bukan merupakan kemauan atau permintaanku) itu menjerat sampai mati karena adanya sekelumit pertalian darah. Katanya saudara!

Sebuah Nasihat


Sing seduluran kui getihe, udu bandhane

Aku selalu mengingat nasihat yang diberikan seorang sahabat. Nasihat ini sebenarnya datang dari simbahnya yang sudah merasakan asam garam kehidupan. Setelah aku pikir-pikir, apa yang dinasihatkan simbahnya ini memang benar.

Keluargaku bukan keluarga berada, kami hidup serba kekurangan. Karena keluarga kami sering dibantu oleh simbah, maka sering juga mendapatkan intervensi. Apalagi soal uang, hubungan pertalian darah bisa retak hanya karena pinjam meminjam uang. Soalnya habis itu ada buntutnya, seperti disindir, intervensi dan sebagainya.

Nah kata-kata SAKTI yang biasanya keluar dari mulut orang yang pernah menolong kita dengan pamrih itu adalah :
Kowe kui mbiyen nek ora tak tulungi/ tak ewangi, gak bakalan iso koyo sakiki.

Saat yang dinamakan "keluarga" itu berkumpul, ibuku pasti menahan sesak di dada.
Entah disindir, diceramahin satu rumah, disidang, dipojokkan, semua itu sudah dilalui ibuku sepanjang hidupnya.
Masalahnya sebenarnya apa sih? Masalahnya itu mereka menganggap ibuku tidak pernah membantu bapak dalam mencari rejeki. Padahal kenyataannya bapak yang tidak rajin mencari rejeki.

Namun demi melihat raut bahagia dari simbah putri saat mereka berkumpul, ibu tetap datang ke rumah itu.

Sayangnya, aku tidak bisa sekuat ibuku dalam menahan rasa sakit. Walaupun aku percaya Tuhanku maha membolak balikkan keadaan. 


Jogja, 9 Maret 2020 pukul 23.00

Dok : Pixabay

Simbah Kakungku sudah terbaring selamanya di tanah. Lusa adalah peringatan satu tahun meninggalnya beliau. Sebenarnya aku ingin datang untuk menemani simbah putri, tetapi telingaku tidak kuat untuk mendengarkan suara-suara intervensi yang selalu mengusik.

Belum lagi masak-masak di dapur yang semuanya adalah tugas perempuan, itu sangat melelahkan. Dengan wajan atau panci yang besar-besar, baskom dimana-mana, meracik bumbu, memotong daging, memotong sayuran, nyuci piring dan sebagainya dijamin bakal menguras tenaga. Masih mending kalau tenaga doang yang dikuras, kadang sampai hati juga ikut terluka oleh suara-suara di dapur. Apalagi kalau semua orang pengen jadi komandan di dapur, makin repot kan malah saling menyuruh dan menyalahkan.

Nah bisa dibilang kalau aku kesana itu untuk menjadi babu di dapur. Bukan untuk mendoakan almarhum simbah kakung. Karena para wanita akan sibuk di dapur, sementara yang akan membaca yasin dan tahlil adalah para pria dewasa.

Jadi masak-masak plus keribetan tadi buat siapa sih? Ya buat yang baca yasin lah, tidak mungkin kan buat almarhum simbah kakungku yang sudah terbaring di tanah.

"kenapa sih tidak pesan catering aja daripada repot di dapur kan capek?"

Ketika menanyakan ini, jawaban terindah yang akan terdengar ditelinga adalah....
"Kamu pikir disini nggak punya tetangga sampai harus pesan catering?! Disini adatnya tidak begitu, tetangga akan membantu masak demi acara kenduri ini"

Hmmm adat katanya, ah itu cuma kebiasaan turun temurun aja karena jaman dulu belum ada perusahaan catering menurut logikaku.

Ah entalah, esensi mengenang satu tahun wafatnya simbah kakungku berubah. Malah lebih ke capek masak-masak, capek dengerin omongan orang dan loba teuing drama!

Aku sadar diri bahwa aku bukan orang yang bisa menggelontorkan dana besar untuk kenduri. Tapi aku juga tidak mau dijadikan babu oleh mereka-mereka yang suka mem-babu-kan orang lain.

Semua orang punya kesibukan untuk mengejar prioritasnya masing-masing. Tidak semua punya waktu luang untuk membantu sebuah acara keluarga. 

Jadi aku cukupkan semuanya disini, mengenang wafatnya simbah kakung dengan doa di dalam keheningan malam.

Related Posts

2 komentar

  1. Tapi memang iya sih di beberapa tempat masih dibantu tetangga untuk urusan kenduri. Kalau saya dulu yasinan alm. kakek cukup nasi kotak dan kami para cucu tinggal memasukkan nasi kotak ke dalam tas beserta jilbab dan amplop berisi uang 5000 an. Pengajiannya juga ibu2 tentu kami harus mengaji juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah simpel ya kalau seperti tempat njenengan itu Mbak. Kalau di tempat simbahku masih ribet malah kayak orang hajatan masaknya.

      Hapus

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter